Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
22


__ADS_3

Deni Mahardika, putra sulung dari pasangan Agam Mahardika dan Resni Mahardika. Usianya kini sudah 20 tahun, dia seorang mahasiswa universitas Mahardika milik orangtuanya. Deni mempunyai seorang adik laki-laki bernama Doni Mahardika. Usia Doni baru 15 tahun. Dia pun bersekolah di SMA Mahardika, yang pasti milik ayahnya juga.


Agam Mahardika adalah pemilik dari sekolah Mahardika high school dan Mahardika University. Juga memiliki beberapa bisnis perhotelan yang tersebar di seluruh kota. Namun, meski mereka termasuk keluarga kaya raya, mereka bukanlah keluarga yang sombong. Mereka tetap menunjukkan sifat yang dermawan dan tak pernah membedakan status sosial mereka pada siapapun.


Keesokan paginya...


"Bun, mereka itu keluarga kaya banget kayaknya ya?"ucap Widya saat sedang duduk bersama dengan Bunda di ruang tengah.


"Iya sayang, yang Bunda tau suami jeng Resni itu pemilik dari sekolah Mahardika juga kampus Mahardika. Dan masih banyak lagi perusahaan-perusahaan yang beliau pimpin."jelas Bunda dengan penuh rasa kagum.


"Wah, kampus Mahardika itu kan kampus terbaik di sini kan ya Bun?Widya aja pengen banget nanti kuliah disana."seru Widya penuh semangat.


"Iya sayang, makannya kamu belajar yang rajin biar bisa masuk kesana. Katanya kan gak sembarangan yang bisa masuk kesana. Harus benar-benar berprestasi, meskipun mereka bukan dari kalangan atas pun mereka bisa berkesempatan masuk. Pak Agam dan istrinya tidak pernah membeda-bedakan status sosial, mau itu kaya atau pun kurang mampu, bila memang mereka berprestasi pasti mereka terima dengan terbuka."


"Waah baik banget ya mereka!" ucap Widya kagum.


"Lain kali kita main lagi ke rumah jeng Resni ya sayang!"ajak Bunda.


"Iya Bun, atau mereka aja yang kita undang kesini."usul Widya yang membuat bunda Novie tersenyum semangat.


"Boleh juga sayang, nanti biar Bunda yang undang mereka buat makan malam disini."ucap Bunda tersenyum.


"Oya, Bunda Widya boleh pergi ke Mall ya. Widya mau beli perlengkapan sekolah yang baru. Kan besok lusa udah mau masuk lagi."


"Sama siapa?"


"Sama Fajar Bun. Boleh ya?"


"Iya boleh, asal jangan terlalu sore pulangnya ya!"


"Siap Bunda! Yaudah Widya siap-siap dulu ya!" Widya pun beranjak menuju kamarnya.


Tak lama, Fajar pun telah tiba di rumah Widya. Mereka akan pergi bersama menuju Mall untuk membeli beberapa perlengkapan sekolah yang baru. Setibanya di Mall, Widya langsung mengajak Fajar menuju toko yang menjual berbagai macam baju seragam. Widya memang akan membeli baju seragam baru, karna merasa baju yang kemarin sudah sempit. Mungkinkah berat badannya naik selama liburan.


"Emang kamu mau beli seragam baru Wid?"tanya Fajar yang mengikuti Widya di belakangnya.

__ADS_1


"Iyalah, makannya aku ajak kesini juga."jawab Widya yang masih fokus memilih-milih seragam yang sekiranya pas untuk dirinya.


"Yakali, cuman liat-liat aja."ucap Fajar menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Aku beneran mau beli, soalnya seragam yang dulu udah gak muat. Heran aku juga, masa iya sih aku gendutan?"seru Widya membalikkan badannya menghadap Fajar.


"Loh kenapa ngeliatin aku gitu?"tanya Fajar polos.


"Menurut kamu, emang aku gendutan ya?"tanya Widya dengan menatap Fajar dengan tajam.


"Mampus!Ini sih pertanyaan ngejebak!Mau dijawab jujur apa bohong sama aja bakalan bikin kesel!"batin Fajar panik.


"Kok diem Jar?Aku nanya loh ini!"ucap Widya semakin menatap tajam pada Fajar.


"Eh, tuh kayaknya bagian cowok ya?Aku mau kesana dulu ya, siapa tau ada yang cocok buat aku!"ucap Fajar segera berlari menuju koridor lain.


"Ish, tinggal jawab aja juga ih!"gerutu Widya manyun.


Setelah membeli sepasang seragam, Widya pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju toko sepatu. Namun, tak diduga sebelumnya di sana, mereka malah bertemu dengan Sandi juga Irda.


"Widya?!"panggil Irda, yang melihat Widya sedang memilih-milih sepatu. Widya pun menoleh pada Irda.


Irda pun menghampiri Widya diikuti Sandi. "Kamu mau beli sepatu juga Wid?"tanya Irda, melihat Widya yang sedang memegang salah satu sepatu.


"Iya, aku mau beli sepatu."jawabnya tersenyum, meski itu sangat terpaksa.


"Kamu sama siapa wid?"tanya Sandi, menatap Widya dengan tatapan yang sulit mereka artikan.


"Sama..."ucapan Widya terpotong, oleh ucapan Fajar.


"Sama aku!Gak nyangka ya bisa ketemu lagi.!"ucap Fajar melirik Irda.


"Iya."Irda pun hanya menjawabnya singkat.


"Kamu udah dapet sepatunya?"tanya Widya pada Irda.

__ADS_1


"Bukan aku sih yang pengen beli, tapi ini Loh Sandi yang mau beli."ucap Irda menoleh pada Sandi yang berdiri di sebelah Irda berhadapan dengan Fajar.


"Oh." Widya pun hanya ber oh saja. Lalu melanjutkan memilih kembali sepatu yang akan dia beli.


Disaat mereka berempat berpencar, Sandi mendekati Widya.


"Wid, kok kamu jadi makin sering sih jalan sama si Fajar?Kalian gak pacaran kan?"tanya Sandi yang tiba-tiba menghampiri Widya.


"Ish kamu mah ngagetin!Aku tuh gak pacaran Sandi!Kalo pun aku pacaran, masa iya sih aku gak bilang sama kamu?Pasti aku cerita kok tenang aja!"ucap Widya santai.


"Jadi maksudnya kalian ada niatan pacaran gitu?"tanya Sandi dengan nada yang panik.


"Ish kamu mah, ya enggaklah!Bukan gitu juga maksudnya ih! Udah ah, kesini tuh kan mau beli sepatu bukannya ngegibah!"ucap Widya meninggalkan Sandi.


"Eh, Widya!Tunggu!"Sandi pun kembali mengejar Widya.


Sedangkan Fajar memutuskan untuk menunggu Widya di luar toko saja. Karna dia tak berniat untuk membeli sepatu. Dia juga merasa tak ingin berada di tengah-tengah antara dirinya juga Sandi dan Widya.


"Fajar kemana sih?!"tanya Widya pelan.


"Kamu nyari siapa Wid?"tanya Irda yang melihat Widya celingukan.


"Hah?Aku lagi nyari Fajar."jawabnya singkat.


"Oh, itu Fajar ada di luar."jawab Irda memberitahukan keberadaan Fajar. Widya pun segera keluar toko untuk menemui Fajar, setelah berpamitan pada Irda juga Sandi.


"Hei, dicariin juga malah diem disini!"seru Widya menepuk pundak Fajar.


"Hehe, ya aku kan gak beli sepatu ngapain juga ikutan di dalem."ucap Fajar tersenyum.


"Heumm, yaudah yuk kita lanjut!"ajak Widya.


"Loh udah?Gak nunggu Sandi?"tanya Fajar sembari melirik ke dalam toko.


"Ngapain?Masa iya kita gangguin yang lagi pacaran sih?!Udah ah yuk kita ke toko buku aja, udah gitu kita makan!"ucap Widya, seraya berjalan duluan meninggalkan Fajar.

__ADS_1


"Woy tunggu dong, ngajak tapi ninggalin!"ujar Fajar mengejar Widya yang sudah ada di depannya.


Akhirnya Widya dan Fajar pergi ke toko buku, untuk membeli beberapa perlengkapan lainnya. Setelah puas berbelanja, Widya mengajak Fajar untuk pergi ke food court yang ada di Mall itu. Namun ternyata lagi-lagi mereka bertemu kembali dengan Sandi juga Irda. Dan akhirnya mereka berempat makan bersama dalam satu meja. Meski sebenarnya Widya tak ingin, tapi dia pun tak enak untuk menolaknya.


__ADS_2