
"Kamu gak apa-apa?" tanya seorang pemuda yang sudah tak asing lagi bagi Widya dan Fajar.
"Sandi..!" seru Widya dan Fajar berbarengan, saat melihat siapa pemuda itu. Iya, Sandi dan Irda pun datang ke tempat yang sama dengan Widya dan Fajar. Dan kini mereka pun bertemu di stand yang sama.
"Loh, kalian?" tanya Sandi yang sama terkejutnya, namun kembali bersikap tenang.
"Sayang, mereka temen kamu?" tanya Irda, sambil menggelayut manja di lengan Sandi.
Nyesek. Itu yang dirasakan Widya melihat Irda bermanja-manja seperti itu pada sahabatnya.
"Iya, kenalin mereka Widya sama Fajar. Wid, Jar kenalin ini Irda." kata Sandi mengenalkan satu sama lain. Mereka pun saling berjabat tangan.
"Irda. "
"Widya."
"Fajar."
"Ouh, jadi kamu yang namanya Widya. Sandi sering cerita loh tentang kamu, katanya kamu itu sahabatnya yang paling baik. Iya kan sayang?" ucap Irda tersenyum ramah, namun palsu.
"Eh, iyakah? Ya asal gak cerita yang buruk-buruk aja sih ya. Hehe" jawab Widya yang juga tersenyum canggung.
"Enggak kok, dia mah selalu cerita yang baik-baiknya aja. Terus Fajar itu pacar kamu?" tanya Irda lagi menebak-nebak, sembari menatap ke arah Fajar dan Widya bergantian.
"Hah? Eh, bukanlah, kita cuman temen sekelas aja kok." ucap Widya dengan cepat.
"Iya kita bertiga temen sekelas. Wid, ada yang mau kamu beli di sini?" tanya Fajar, mencoba untuk pergi dari suasana canggung diantara mereka. Karna dia tau, Widya sudah tak merasa nyaman.
"Eumm kayak nya enggak deh Jar. Kita ke stand yang lain aja, gak apa-apa kan?" Jawab Widya mengerti maksud dari pertanyaan Fajar, namun juga merasa tak enak pada Fajar. Sedangkan Sandi hanya diam tanpa melepaskan pandangannya pada Widya.
"Yaudah, San kita duluan ya. Yu Wid!" ajak Widya menggandeng tangan Widya.
"San kita duluan ya, dan Irda!" Widya pun pergi meninggalkan Sandi dan Irda, tanpa melepaskan pegangan Fajar yang begitu erat.
__ADS_1
"Yakin mereka gak pacaran Yang?" tanya Irda sengaja ingin memprovokasi Sandi.
"Entahlah, Widya belum cerita. Yaudah, katanya kamu mau beli makanan disini." Ucap Sandi datar. Menutupi hati nya yang terasa sesak. "Kok rasanya aku gak suka ya! Pengen marah tapi ngapain juga marah?!" batin Sandi memikirkan Widya yang bergandengan dengan Fajar.
"Oh iya, kamu mau gak sayang? Biar sekalian aku bungkusin?" tanya Irda, tersenyum semakin erat memegang lengan Sandi.
"Engga, kamu aja yang beli." jawab nya cuek.
"Yaudah, tunggu bentar ya!" Irda pun melanjutkan niat nya yang ingin membeli makanan disana. Sedangkan Sandi masih terus bertanya-tanya sendiri dalam pikir nya tentang hubungan Widya dan Fajar.
"Wid, kamu gak apa-apa?" tanya Fajar, saat mereka kembali menyusuri stand-stand yang lain.
"Gak apa-apa, emang aku kenapa?" jawab Widya memaksakan senyum nya.
"Ya kali aja ada yang patah, tadi kan abis jatoh." seru Fajar tersenyum sambil menggaruk tengkuk nya.
"Ish, enggaklah masa jatoh gitu doang ampe ada yang patah sih?! Aneh-aneh aja deh kamu mah Jar, " Sahut Widya, memukul pelan pundak Fajar.
Setelah sekian lama mereka berjalan, membeli beberapa macam makanan akhirnya Widya dan Fajar memutuskan untuk pulang, karna hari pun sudah semakin siang. Namun tak disangka, saat di parkiran, mereka kembali bertemu dengan Sandi dan Irda.
"Eh ketemu lagi, kalian udah mau pulang?" tanya Irda, saat tak sengaja melihat Widya dan Fajar baru saja tiba di parkiran.
"Iya, kami mau pulang. Kalian juga mau pulang?" jawab Widya menatap Sandi yang juga sedang menatap nya.
"Iya, tapi rencana nya kami masih mau jalan-jalan lagi. Iya kan sayang?" tanya Irda, lagi-lagi menggelayut manja pada Sandi.
"Iya, kalian mau ikutan?" tanya Sandi, sambil melepaskan tangan Irda dari tangannya.
"Makasih, tapi kami juga ada acara lain. Lagian masa kami ganggu yang lagi pacaran sih, yakan Jar?" seru Widya menolak ajakan Sandi, walau sebenarnya dia ingin sekali pergi bersama Sandi.
"Iya, " jawab Fajar sambil tersenyum pada Widya.
"Oh, yaudah kalau gitu kita duluan ya. Kalian hati -hati!" ucap Sandi sedikit kecewa, dan memutuskan untuk pergi duluan meninggalkan Widya dan Fajar.
__ADS_1
"Emang kita mau kemana lagi Wid?" Tanya Fajar, saat Sandi dan Irda sudah tak terlihat oleh mereka.
"Ke rumah." jawab Widya ketus.
"Lah?!" Fajar pun hanya melongo bingung. "Yaudah deh, yuk pulang!" mereka pun pergi dari taman kota menuju rumah Widya, karna Widya sudah tak semangat untuk pergi kemana-mana lagi. Sesak, sedih, kesal, yang kini dia rasakan. Cemburu, lebih tepatnya.
Di kostan Irda.
"Kamu kenapa sih sayang? Aku kan belum mau pulang, kenapa kita malah pulang?" rengek Irda, karna mereka tak jadi pergi jalan-jalan dan akhirnya malah pulang ke kostan.
"Aku capek Irda, pengen tidur!" Ucap Sandi ketus, tanpa menoleh pada Irda. Dan masih duduk di atas motornya.
"Yaudah kamu tidur aja disini, gak apa-apa kok." bujuk Irda manja.
"Enggak, nanti malah dikira kita ngapain lagi. Yaudah ya, aku pulang aja. Oyah, besok kita gak usah kemana-mana ya!" kata Sandi masih dengan nada yang agak ketus.
"Loh kenapa?" tanya Irda tak suka.
"Aku mau istirahat, aku juga harus belajar. Bentar lagi kan mau UTS. Emang nya kamu gak pengen belajar gitu?" jawab Sandi sedikit berbohong, karna yang sebenarnya Sandi ingin menemui Widya.
"Ya belajar dong sayang, heum yaudah deh kalau kamu mau belajar. Tapi hari senin jangan lupa jemput aku ya!" ucap Irda masih dengan nada yang manja.
"Iya, yaudah aku pulang ya. Dah!" Sandi pun pergi dari kostan Irda.
"Aku tau, kamu pasti cemburu kan San, liat sahabat kamu itu jalan sama cowok lain! Kamu itu cuman milik aku San, awas aja kalo si Widya itu coba rebut kamu dari aku!"ujar Irda tersenyum smirk.
Saat di rumah, nyatanya Sandi sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Yang ada dia hanya terus memikirkan Widya. Dia masih penasaran dengan hubungan Widya dengan Fajar. Dan itu membuatnya tak suka. Meski sebenarnya dia pun bingung, mengapa saat melihat Widya jalan bergandengan dengan Fajar, dadanya begitu sesak. Ada amarah yang ingin dia ungkapkan namun tertahan.
Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Meski kini telah berpacaran dengan Irda, tetapi saat dirinya melihat Widya yang semakin dekat dengan Fajar hatinya pun merasa tak suka. Sudah berulang kali dirinya mencoba untuk menepis perasaan itu, dan meyakinkan hatinya bahwa hanya Irda yang dirinya cintai. Tetapi, semakin dirinya menjauh dari Widya justru bayangan wajah Widya selalu datang di hadapannya.
" Aagh!! Kenapa sih aku terus aja kepikiran Widya?! Apa dia udah pulang, atau masih jalan sama si Fajar?! Kalau aku telfon ganggu gak ya?" Gumam Sandi karna terus merasa tak tenang. " Apa aku ke rumah nya aja ya? Bilang aja kangen sama bunda. Ya lebih baik aku ke rumah nya aja sekarang!" Sandi pun beranjak dari kasur nya keluar, berniat untuk pergi ke rumah Widya.
Like dan komen nya ya teman teman 🙏🙏🙏
__ADS_1