Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
84


__ADS_3

Keesokan harinya, Widya dijemput Sandi untuk pergi ke kampus bersama. Seperti biasanya, Sandi pasti akan ikut sarapan bersama di rumah Widya. Setelah selesai sarapan, Widya dan Sandi pun pamit untuk segera pergi ke Kampus. Baru saja Sandi menghidupkan mesin motornya, ponsel yang disimpan di dalam saku celananya berbunyi.


"Bentar Wid, kayaknya ada yang nelfon."ucap Sandi kembali mematikan mesin motornya. Padahal Widya baru saja akan naik ke jok belakang Sandi.


"Ya, hallo Da kenapa?"ujar Sandi setelah telfonnya tersambung, dan ternyata Irda yang kini menelfonnya.


Widya menatap Sandi dengan tatapan tak suka, karna ternyata Irda masih saja menghubunginya.


"Duh, sorry Da. Aku bawa motor, dan sekarang udah jalan sama Widya. Oke, sorry ya!"Sandi pun menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, setelah sambungan telfonnya terputus.


"Yuk, jalan!"ajak Sandi setelah menyalakan mesin motornya.


Namun, Widya hanya berdiam seraya melipat kedua tangannya di dada tanpa mau menatap ke arah Sandi. Sandi yang merasa tak ada pergerakan dari Widya, lantas menengok ke arah Widya berdiri.


"Wid, kok diem aja? Ayo nanti telat loh, katanya jam pertama diisi dosen killer."ucap Sandi yang masih belum menyadari jika kekasih barunya itu tengah merajuk.


Widya masih saja terdiam, tak bergeming.


"Sayang..."panggil Sandi lembut, seraya turun dari motornya setelah mematikan mesinnya.


Jantung Widya mendadak berdegup kencang setelah mendengar panggilan sayang dari Sandi. Walau bagaimanapun rasanya masih terdengar aneh, meski kini mereka telah berpacaran. Tadinya Widya merasa kesal, namun setelah mendengar panggilan dari Sandi perasaan kesal langsung hilang. Tergantikan dengan perasaan hangat, yang membuat kedua pipinya merona merah.


"Hey, kenapa sih? Kok malah diem aja?"tanya Sandi yang kini berdiri di hadapan Widya.


Widya berusaha menetralkan kembali debaran di dadanya. Dirinya tak ingin Sandi tahu akan perasaannya yang kini tengah melambung karna panggilan sayang darinya.


"Udah yuk berangkat!"ujar Widya segera melangkah menuju motor milik Sandi.


"Lah, kenapa sih dia?"gumam Sandi bingung. Dirinya pun lantas kembali menaiki motornya.


Setelah Widya duduk dengan nyaman di atas motornya, Sandi pun segera melajukan motornya menuju Kampus.


"Heumm, Sandi jemput Widya. Males banget deh, masa aku harus naik ojol sih?"gerutu Irda yang kini masih berada di rumahnya.


Tak lama, terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah Irda. Karna penasaran, Irda yang tengah duduk di ruang tamu pun melihat ke jendela agar mengetahui siapa yang datang ke rumahnya pagi ini.

__ADS_1


"Siapa ya? Pagi-pagi udah ada tamu aja, padahal kan Papi sama Mami lagi gak ada di rumah."gumam Irda seraya melangkah menuju jendela besar yang berada di ruang tamu yang langsung mengarah menuju halaman rumahnya.


Irda membelalakan kedua matanya, saat melihat siapa yang keliar dari mobil yang baru saja berhenti di halaman rumahnya.


"Erick? Ngapain dia pagi-pagi ke sini?"ujar Irda merasa kaget juga bingung. Lantas, Irda pun segera membukakan pintu untuk menemui Erick.


"Selamat pagi cantik!"sapa Erick, begitu Irda membukakan pi tu rumahnya.


Irda mengulum senyumnya saat mendengar pujian dari Erick, walau dia sempat terkejut karna kedatangan Erick tanpa memberitahu dirinya.


"Ngapain kamu pagi-pagi udah ke sini?"tanya Irda sedikit ketus.


"Jelas mau jemput kamu dong, masa mau jogging."jawab Erick santai dengan senyuman manis di bibirnya.


"Jemput? Kok kamu tahu aku ada kelas pagi?"tanya Irda merasa heran.


"Ya feeling aja sih. Yaudah yuk kita berangkat, katanya ada kelas pagi kan?"Erick berjalan menuju mobilnya, dan membukakan pintu samping kemudi untuk Irda.


Mau tak mau, Irda pun masuk ke dalam mobil milik Erick. Karna bila harus menolak, tentu dirinya akan terlambat datang ke Kampus. Walau jauh di dalam hatinya ada perasaan senang, saat ini karna Erick datang untuk menjemputnya tanpa dirinya meminta sebelumnya. Padahal saat bersama Sandi, harus selalu dirinya yang meminta Sandi untuk datang menjemputnya.


"Ih ngapain sih kamu senyum-senyum gitu?"ujar Irda menutupi kegugupannya.


"Gak apa-apa, cuman seneng aja."jawabnya tanpa ingin menjelaskan lebih panjang kepada Irda.


Erick pun segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya menuju Kampus.


"Aneh."gumam Irda lirih.


*


*


*


Setelah tiba di kampus, dan memarkirkan motornya Sandi pun mengantarkan Widya terlebih dahulu menuju kelasnya. Barulah setelah memastikan Widya masuk ke dalam kelasnya, Sandi segera pergi menuju kelasnya.

__ADS_1


Saat baru saja dirinya duduk di kursinya, Sandi melihat Irda yang baru saja datang. Irda yang di antar oleh Erick sampai depan kelas, membuat Sandi mengernyit heran.


"Cowok itu yang waktu itu jalan sama Irda kan? Heumm, apa sekarang mereka benar-benar ada hubungan?"gumam Sandi dalam hati, saat melihat kedekatan Erick dan Irda.


"Ah tapi baguslah kalo mereka ada hubungan, jadinya Widya gak akan cemburu lagi sama Irda."sambungnya lagi tanpa sadar dirinya malah tersenyum. Mengingat tadi saat Widya merajuk setelah dirinya menerima telfon dari Irda.


"Hei San! Ngapain kamu senyum-senyum sendiri gitu?"tanya Irda yang ternyata sudah ada di hadapan Sandi.


Sandi sedikit terlonjak kaget, karna dirinya yang malah asyik melamun. Hingga tak menyadari kedatangan Irda, yang memang kini duduk di depan kursi miliknya.


"Eh, kapan dateng Da? Sorry, tadi aku gak bisa jemput kamu."ujar Sandi.


"Iya gak apa-apa santai aja. Ehmm, kayaknya kamu lagi seneng. Ada apa nih?"tanya Irda menyelidik.


"Ya, aku emang lagi seneng sih."jawab Sandi dengan senyuman lebar.


"Wih kenapa, boleh kan kalo bagi-bagi sama aku?"


"Heumm kasih jangan ya?"


"Yee nyebelin kamu, ayo dong ada apa sih?"


"Oke oke aku kasih tau. Sebenernya kemarin aku sama Widya baru aja jadian."ucap Sandi seketika membuat senyuman di bibir Irda perlahan memudar.


"Jadian?"tanya Irda sedikit kaget.


"Iya, tadinya sih aku gak yakin dia bakal terima perasaan aku. Eh, nyatanya dia juga sama sama punya perasaan kayak aku."dengan semangat Sandi menceritakan semuanya pada Irda.


"Denger kamu jadian sama Widya, kok aku gak ngerasa sakit ya? Sebenernya apa yang terjadi sama aku sih?"gumam Irda dalam hati.


"Da, kok malah ngelamun?"


"Eh, gak kok. Bye the way selamat ya San, aku ikut seneng dengernya."ucap Irda dengan tulus.


"Iya makasih. Eh tuh dosen nya udah masuk."

__ADS_1


Irda masih tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Padahal sebelumnya dirinya masih sangat ingin kembali berpacaran dengan Sandi. Namun, apa yang barusan dirinya dengar sama sekali yak membuatnya benar-benar sedih ataupun marah. Yang ada malah perasaan lega dan benar-benar merasa ikut bahagia mendengar Sandi telah berpacaran dengan Widya.


__ADS_2