
Sore itu, Sabitha terus berjalan seusai keluar dari kafe. Berharap mendapatkan pekerjaan kembali, namun yang dia dapat hanyalah rasa lelah dan kecewa. Karna sudah banyak tempat yang dia datangi, tak ada satupun yang ingin menerimanya bekerja. Sabitha berhenti dan beristirahat di sebuah halte dekat dengan kampus Mahardika.
Sabitha menatap lurus ke arah kampus Mahardika, kampus yang sangat populer. Dulu, dia pun sangat ingin masuk dan berkuliah di sana. Tetapi keinginannya hanyalah mimpi baginya, yang entah kapan menjadi kenyataan. Bahkan sekarang saja, dia tak punya pekerjaan untuk menghasilkan uang yang akan dirinya gunakan untuk kuliah nanti. Tak terasa air matanyapun jatuh mengaliri kedua pipinya.
Sabitha terus melamun, hingga tak menyadari dengan kedatangan seseorang yang menghentikan motornya di depan dirinya. Seorang pemuda terus memperhatikan Sabitha dengan tatapan yang sulit diartikan. Hingga akhirnya dia pun turun dari motornya dan menghampiri Sabitha.
"Hei, Sabi!"Panggil pemuda itu sembari menuju ke arah Sabitha, yang tak lain adalah Fajar.
Sabitha tersadar dari lamunannya dan terhenyak saat melihat Fajar sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan bingung.
"Kamu? Ngapain di sini?"tanya Sabitha bingung seraya menghapus bekas air matanya.
"Aku emang lewat sini kalo mau pulang,"jawabnya, membuat Sabitha melihat ke arah sebrang halte tempat kampus Mahardika berada.
"Ouh, terus ngapain ke sini bukannya pulang?"memalingkan wajahnya tak ingin menatap Fajar yang terus menatapnya lekat.
"Kamu gak kerja? Bukannya jam segini masih waktunya kamu kerja ya?"bukannya menjawab pertanyaan Sabitha, Fajar malah balik bertanya padanya.
"Bukan urusan Kamu!"jawab Sabitha ketus.
Fajar pun menghela nafas panjang, tak ingin memaksa Sabitha untuk bercerita padanya meski dia sangat penasaran. Ditambah, Sabitha berada di halte yang bukan tujuan menuju rumahnya.
"Yuk ikut aku!"ajak Fajar, membuat Sabitha kembali menoleh padanya.
"Ikut kemana?"tanya Sabitha dengan melebarkan kedua matanya menatap waspada pada Fajar.
"Heh, ngapain kamu melotot gitu? Emangnya aku penculik apa? Buruan naik, aku gak akan ngapa-ngapain kamu tenang aja!"ucap Fajar yang sudah duduk di atas motornya.
Dengan menekuk wajahnya, mau tak mau Sabitha pun naik ke atas motor Fajar. Karna dia pun sudah merasa lelah untuk terus berdebat dengan Fajar. Dengan kecepatan sedang, Fajar membawa motornya melewati beberapa kendaraan yang lain. Sabitha yang duduk di belakangnya, mengernyit ketika jalan yang mereka lewati bukanlah jalan menuju rumahnya. Karna penasaran, akhirnya Sabitha pun menepuk pundak Fajar dan bertanya padanya.
Plak!
__ADS_1
"Heh, kamu mau bawa aku kemana sih?"tanya Sabitha ngegas.
"Gila kamu ya, kira-kira dong kalo nepuk! Panas nih!"tak kalah ngegas Fajar teriak pada Sabitha.
"Ya kamu sih, seenaknya aja bawa aku pergi. Ini bukan jalan ke rumah aku tau ih! Sebenernya mau kemana sih?"Sabitha terus melihat jalan sekitar, namun dia benar-benar tak mengetahui jalan itu menuju kemana.
"Udah deh, kamu duduk tenang aja. Bentar lagi juga nyampe."ucap Fajar santai. Akhirnya Sabitha pun pasrah, dia memilih untuk diam daripada harus menghabiskan tenaga untuk berdebat dengan Fajar.
Dan benar saja kurang dari 10 menit, Fajar sudah memberhentikan motornya, yang sebelumnya masuk ke sebuah tempat yang hampir menyerupai danau, hanya saja ini merupakan danau buatan. Tempat itu terlihat sangat indah dan sejuk, selain danau buatan terdapat juga beberapa taman bunga, berbagai macam bunga tertanam di sana.
Setelah selesai memarkirkan motornya, Fajar menarik tangan Sabitha yang masih asik melihat pemandangan sekitar menuju danau. Fajar dan Sabitha berhenti tepat di depan danau. Sabitha tak berhenti berdecak kagum melihat pemandangan di sekitar danau. Tatapannya sungguh terlihat berbinar, seolah kesedihan yang tadi dia rasakan telah sirna tak tersisa. Dan Fajar melihat itu dengan tersenyum, ikut senang ketika melihat gadis di sampingnya itu terlihat bahagia.
"Kok, kamu tau tempat ini?"tanya Sabitha tanpa menatap ke arah Fajar.
"Ya karna aku emang sering ke sini."jawab Fajar acuh.
"Ish. Jawaban apa itu?"Sabitha mendelik tak suka. Namun, dia kembali fokus melihat pemandangan yang ada di depannya. Dia pun memilih untuk duduk berselonjor kaki menghadap danau. Fajar pun mengikutinya.
Sabitha menoleh menatap Fajar dengan tatapan bingung. Menyadari Sabitha menatap ke arahnya, Fajar pun balas menatap Sabitha.
"Aku tau, kamu lagi gak baik-baik aja kan tadi waktu di halte? Karna setau aku, halte itu bukan tujuan rumah kamu."jelas Fajar, membuat Sabitha menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Setelahnya, Sabitha menundukkan kepalanya, hingga terdengar suara isakan lirih dari mulut Sabitha. Fajar membiarkannya, agar Sabitha mengeluarkan semua kesedihannya. Dan berharap dengan menangis itu membuat Sabitha merasa lega.
"Kalo kamu mau cerita, aku siap kok dengerin. Dan aku bakalan jaga rahasia kamu."ucap Fajar setelah Sabitha berhenti menangis.
"Kenapa kamu baik sama aku?"tanya Sabitha menatap Fajar dengan lekat.
"Ya karna aku orang baik."jawabnya dengan jumawa.
Sabitha memutar mata jengah mendengar jawaban Fajar yang selalu saja membuat emosinya meningkat. Menghela nafas kasar, Sabitha mencoba menenangkan dirinya. Mungkin memang tak ada salahnya dia berbagi cerita dengan Fajar.
__ADS_1
"Aku baru aja di pecat."ucap Sabitha lirih.
"Dipecat?"ulang Fajar tak menyangka.
"Iya, dan tadi aku muter-muter nyari kerjaan tapinya gak dapet. Aku bingung, padahal tadinya aku udah seneng banget dapet kerjaan. Biar aku bisa bantuin orangtuaku, dan aku juga bisa nabung buat kuliah tahun depan. Tapi nyatanya, semuanya cuman mimpi."terdengar putus asa dari ucapan Sabitha.
Fajar terdiam. Memikirkan sesuatu, yang akhirnya dia pun tersenyum menatap Sabitha.
"Kamu mau kerja lagi kan?"tanya Fajar dengan senyuman yang bagi Sabitha sangatlah mencurigakan.
"Ya iyalah."jawab Sabitha dengan yakin.
"Apapun kerjaannya kamu mau?"
"Ya apapun yang penting halal dan aman."
"Oke, gimana kalo mulai besok kamu kerja sama aku?"ucap Fajar dengan senyuman yang terukir manis di bibirnya.
"Kerja sama kamu? Maksudnya?"tanya Sabitha masih bingung.
"Iya, lebih tepatnya jadi asisten aku di apartemen aku. Kerjaan kamu gampang kok, cuman beres-beres, nyuci baju, masak, dan bantuin aku ngerjain tugas kampusku."ucap Fajar sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Hei, gimana caranya aku ngerjain tugas kampusmu? Kuliah aja enggak, yang belajar di kelas kan kamu! Kenapa jadi aku yang ngerjain tugas sih?"ucap Sabitha ngegas tak terima.
"Kamu tenang aja, nanti aku rekamin deh penjelasan dari dosen. Ya itung-itung kamu jadi kuliah juga kan? Gratis, kamu tinggal denger tanpa harus datang ke kampus. Dan tenang aja, aku bakal bayar jasa kamu 2 kali lipat lebih banyak dari penghasilan kamu di kafe kemarin."terang Fajar serius.
"Dua kali lipat? Kamu serius?"tanya Sabitha membelalakan kedua matanya tak percaya.
"Serius lah, gimana kamu mau kan?"
"Oke deal!"ucap Sabitha menjulurkan tangannya ke hadapan Fajar dengan semangat. Yang langsung diterima oleh Fajar dengan senyuman manisnya
__ADS_1