
Sejak hari itu, Sandi belum juga menampakkan diri datang ke rumah Widya atau pun pulang bersama dengan Widya. Bukan tak mau, hanya selalu tak bisa. Tentu karna Irda yang selalu mengajak Sandi pergi jalan-jalan atau hanya sekedar ngobrol di kostan nya.
Meski begitu, Sandi tetap menyempatkan waktu untuk bisa berkomunikasi dengan Widya lewat telfon ataupun chat disaat mereka pulang dari sekolah. Di sekolah pun mereka masih selalu bersama-sama meski agak sedikit berbeda, karna walau Sandi di sampingnya tetapi pikiran dan hatinya selalu menuju pada Irda. Misalnya saja saat jam istirahat, meski duduk berdua di kantin nyatanya Widya hanya menemaninya makan di sampingnya. Karna Sandi lebih asik telfonan dengan Irda.
"Wid, hari Sabtu besok ada acara gak?" tanya Fajar saat dia dan Widya di atas motor milik Fajar. Hari ini, mereka kembali pulang bersama.
"Sabtu besok?" mengetuk ngetuk jari di dagu nya seraya berpikir. "Kayak nya gak ada deh, kenapa emang?" Jawab Widya, sesaat setelah mengingat tak ada acara apapun.
"Ya kalau gak ada, kita jalan yuk?!" ajak Fajar keukeuh ingin mengajak pergi Widya yang tak pernah diterima oleh Widya.
"Kemana?" tanya Widya seakan tertarik dengan ajakan Fajar.
"Kemana aja yang kamu mau, ke taman hiburan, belanja atau cuman sekedar wisata kuliner juga hayu." jelas Fajar bertepatan dengan sampai nya mereka di depan rumah Widya. Widya pun turun dari motor Fajar dan membuka helm nya.
"Eumm, boleh deh aku juga bete kalau diem di rumah terus." Ucap Widya sambil memberikan helm nya pada Fajar.
"Akhirnyaa.." seru Fajar pelan walau masih terdengar oleh Widya.
"Akhirnya apa Jar?" tanya Widya heran.
"Eh, enggak kok.. yaudah kalau gitu aku pulang dulu, nanti Sabtu aku jemput ya..bye!" Fajar pun melajukan motor nya meninggalkan Widya yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya.
"Emang nya Sandi aja yang bisa jalan-jalan, aku juga bisa!" seru Widya bicara pada diri sendiri sambil masuk ke dalam rumah.
Di kostan Irda
"Sayang, nanti Sabtu jalan yuk!" seru Irda yang selalu tak melepaskan pelukan ditangan Sandi saat duduk di kursi depan kamar kost nya.
"Jalan kemana?" tanya Sandi seraya menengok ke arah Irda dan menatapnya.
"Kalo wisata kuliner aja gimana? Katanya nanti ada pasar jajanan gitu di taman kota.."Ajak Irda semangat.
"Emm boleh, yaudah kalau gitu sekarang aku pulang dulu ya, ada tugas soalnya." ucap Sandi melepaskan pelukan Irda.
"Yaah kok pulang sih sayang? Aku masih pengen ngobrol sama kamu tau ih!"rengek Irda masih tak ingin melepaskan pelukannya.
"Tapi, beneran sayang aku lagi banyak tugas ini. Dan besok tuh harus dikumpulin tugasnya. Emang kamu sendiri gak ada tugas sekolah?"dengan sabar dan lembut Sandi mencoba memberi pengertian pada Irda.
"Ya ada sih. Yaudah iya, tapi beneran ya kamu langsung pulang ke kostan dan cepet kerjain tugasnya! Bukan malah belok kemana-mana dulu!"ucap Irda pada akhirnya namun dengan nada cemburunya.
"Iya iya ih, kenapa sih kok kayak gak percayaan gitu sama aku?" ketus Sandi kesal.
"Percaya ko percaya sayang, maaf ya.." Irda pun hanya menyengir kuda, karna melihat raut wajah Sandi yang menjadi kesal.
__ADS_1
"Yaudah, aku pulang dulu. Kamu cepet masuk sama kerjain tugasnya ya. Kalo ada yang kamu gak bisa nanti kamu liat mbah g**gle aja!"canda Sandi terkekeh sambil menaiki motor sportnya.
"Ish, kirain kalo gak bisa nanya sama kamu! Dasaar!"dengus Irda memukul pelan pundak Sandi.
"Yaudah, aku pulang. Bye!"Sandi pun melajukan motornya keluar dari halaman kostan Irda.
"Aku emang gak percaya sama kamu San, apalagi itu berhubungan sama sahabat cewek kamu. Aku cuman gak pengen aja kamu ketemu sama dia, meski aku belum pernah ketemu sama dia.. tapi aku gak suka! Pokok nya kamu harus terus sama aku, gak sama yang lain..sekalipun dia sahabat kamu sayang!" ucap Irda dalam hati tersenyum menyeringai.
Malam hari nya, saat ini Widya sedang mengerjakan tugas di kamarnya. Tanpa dia sadari, ada yang masuk ke dalam kamar nya. Karna posisi Widya membelakangi pintu masuk.
"Aahh ! siapa sih ih, jangan iseng deh!!" teriak Widya kaget, karna tiba-tiba kedua matanya ditutup dari belakang. "Lepasin gak, aku teriak nih ya.. to..." ucapannya terpotong karna merasa tak asing dengan suara dari orang yang menutup matanya.
"Silakan aja teriak, kalau berani!"ucapnya santai.
"Sandi?!" Sahut Widya melepaskan tangan Sandi. Iya Sandi yang masuk ke kamar Widya.
"Iya ini aku, kenapa? kamu udah lupa?" seru Sandi datar.
"Ya mana aku tau itu kamu, orang mata aku ditutup!" gumam Widya ketus. "Tumben main kesini, gak ngapel. "sambung widya, membelakangi kembali Sandi, kembali fokus pada buku-bukunya.
"Enggaklah, ini kan bukan malam minggu.." ucap Sandi berpindah tempat berhadapan dengan Widya.
"Oh. " Widya pun hanya ber oh ria saja. Kembali mengerjakan tugasnya.
"Lagi ngerjain tugas, emang kamu udah?" jawab Widya tanpa mengalihkan tatapannya.
"Ouh udah dong, mana pernah sih seorang Sandi telat ngerjain tugas!" sombong nya berujar, sambil menepuk nepuk dadanya.
"Elaah sombong amat 'masnya!" Widya pun menatap jengah pada sahabatnya itu. Yang ditatap hanya nyengir memamerkan deretan gigi nya yang putih.
Drttt drttt drtttt
Drttt drttt drttt
Suara ringtone dari hp masing masing tiba-tiba berbunyi. Serentak mereka pun segera melihat siapa yang menghubungi mereka.
"Aku angkat dulu ya.." ucap Sandi sambil keluar dari kamar Widya. Widya pun hanya mengangguk, dan dia pun menekan tombol hijau di layar hp nya
"Iya hallo Jar!" ucap Widya saat salurannya tersambung.
"Halo Da! Ada apa?" Ucap Sandi setelah keluar dari kamar Widya.
"....."
__ADS_1
"Yakan baru tadi kita VC an, iya aku lagi di rumah ini!" Seru Sandi bohong.
"....."
"Iya iya, yaudah kamu cepet tidur ya sayang. Aku juga udah mau tidur nih, capek banget abis ngerjain tugas!Iya sayang, bye!" Sandi pun mengakhiri sambungan telefon nya dengan Irda. Dia pun kembali masuk kamar Widya.
"Iya Jar, yaudah sampe ketemu besok..daah!" Widya pun mematikan sambungan telfon nya bertepatan dengan Sandi duduk di hadapannya.
"Siapa?" ucap mereka barengan. "Cie kompak!" ucap mereka barengan lagi. Sejenak terdiam, dan mereka pun tertawa bersama.
"Siapa tadi yang nelfon?" tanya Sandi, saat mereka berhenti tertawa.
"Mau tau aja, apa mau tau banget??" jawab Widya cengengesan.
"Dih ikutan ngapa jadi alay kamu!" Sandi pun menoyor kening Widya. Widya hanya tertawa puas. "Serius aku nanya loh Wid!" Sandi tetap penasaran dengan siapa tadi Widya berbicara.
"Kasih tau gak yaa..." ucap Widya terus menggoda Sandi. Dia senang melihat Sandi merasa kesal seperti itu.
"Lah nih anak, ditanya serius malah bercanda mulu!" Sandi kesal karna tak dapat jawaban dari Widya.
"Haha. Ya kamu kenapa pengen tau banget sih siapa yang tadi nelfon?"ucap Widya sambil beranjak menuju ranjangnya.
"Ya emang kenapa kalo aku pengen tau? Jadi kamu gak mau ngasih tau aku nih?"tanya Sandi dengan senyuman menyeringai.
"Ya..." tak sempat melanjutkan ucapannya, karna Sandi sudah mendorong nya ke atas ranjang.
"Iihhh ahahaah iih udah Sandii...ahaha" Widya pun teriak merasa geli, karna Sandi menggelitik perut nya. "Sandi !! Ud .. dah !"
"Ayo kasih tau dulu, siapa tadi yang nelfon?" keukeuh dengan pertanyaan yang sama tanpa menghentikan gelitikannya.
"Iya iya aku jawab, tapi udah dong iih!! hahaha udah aku gak kuat!" Ucap Widya melemah, sampe mengeluarkan air mata.
Sandi pun menghentikan gelitikannya, dengan posisi tubuh nya berada di atas tubuh Widya. Dalam beberapa detik, mereka saling bertatapan. Sangat dalam. Jantung mereka pun berdetak tak karuan.
"Ekhem, katanya mau tau siapa yang nelfon.." ucap Widya mengakhiri tatapan nya, dan mengalihkannya ke sembarang arah. Sandi pun merubah posisi nya jadi tiduran di samping Widya.
"Jadi, siapa?" tanpa menoleh, Sandi kembali bertanya.
"Fajar.." Jawab Widya, sambil mencoba menenangkan dirinya yang masih saja jantung nya berdetak tak wajar.
"Fajar si ketua kelas?" tanya Sandi yang kini sudah menghadap pada Widya.
"Iya, siapa lagi?" ucap Widya ketus, tanpa melihat ke arah Sandi.
__ADS_1
🙏🙏