Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
66


__ADS_3

"Kamu?"pekik Widya kaget saat melihat siapa orang yang telah memberikannya sebotol minuman dingin.


"Minum."ucapnya singkat seraya duduk di kursinya setelah meletakkan botol minuman dingin di meja milik Widya.


"Kenapa kamu kasih aku minuman?"tanya Widya yang masih kaget juga bingung.


"Biar gak haus,"jawabnya lagi dengan tanpa menatap ke arah Widya.


"Eh? Ya iya aku tau, tapi kenapa tiba-tiba kamu ngasih aku minuman Evan?"Ya, orang itu adalah Evan teman sebangku Widya yang katanya misterius.


"Gak apa-apa."ucapnya lalu langsung merebahkan kepalanya di lipatan kedua tangannya. Seolah menunjukkan bahwa dirinya tak ingin lagi diberi pertanyaan.


Melihat itu, Widya hanya bisa menghembuskan napasnya pasrah. Merasa aneh, namun juga ada sedikit kagum karna orang yang dirinya anggap misterius malah selalu ada di saat Widya sedang membutuhkan sesuatu. Evan, tanpa ada yang memberitahukan padanya tiba-tiba saja selalu memberikan apa yang Widya butuhkan meski baru 2 kali itu sudah sangat membuat Widya merasa sangat berterimakasih.


Widya akhirnya membuka tutup botol minuman dingin itu dan langsung meminumnya. Karna memang dirinya merasa haus juga panas di dalam hatinya. Mungkin saja dengan meminum air dingin seperti itu akan membuat hatinya kembali dingin.


*


*


*


Di kelas Sandi, dia sedang disibukkan dengan tugas yang baru saja diberikan oleh dosen nya. Hingga dia terlupa untuk menghubungi Widya, dan hal itu pula yang dimanfaatkan oleh Irda untuk semakin mendekati Sandi. Irda sengaja terus bertanya banyak hal, dengan alasan dirinya yang belum mengerti dengan materi tugasnya. Tanpa mengeluh, Sandi pun terus memberikan pemahaman pada Irda.


Hingga mata kuliah terakhir di kelas mereka pun selesai. Tanpa memberi kesempatan pada Sandi untuk mengabari Widya, Irda langsung mengajak Sandi pergi menuju toko servis. Sandi pun hanya bisa mengikuti Irda tanpa ada penolakan.


Dan saat mereka akan memasuki area parkiran, tanpa mereka sadari Widya yang berniat menunggu Sandi di parkiran tengah melihat ke arah mereka. Posisi Widya memang masih agak jauh dari area parkiran, tapi dia dapat melihat dengan jelas Sandi dan Irda berjalan beriringan seraya saling tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan, hanya saja itu semakin membuat Widya merasakan panas di hatinya. Apalagi saat melihat Sandi dan Irda langsung masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja tanpa mengingat dirinya.


"San, kok kamu tinggalin aku?"gumam Widya lirih sembari menahan air matanya agar tak tumpah saat itu juga.

__ADS_1


Setelah mobil milik Sandi benar-benar menghilang dari jangkauan pandangannya, Widya pun segera pergi menuju halte. Widya kecewa pada Sandi, juga sangat cemburu. Melihat kedekatan Sandi dan Irda membuat hatinya begitu sakit. Mungkinkah, Sandi memang tak pernah memiliki perasaan yang lebih terhadapnya. Pikir Widya saat dirinya sudah berada di halte.


"Mungkin cuman aku yang memang punya perasaan ini. Sedangkan kamu enggak. Aku yang salah, udah ngerubah perasaan ini dari sahabat jadi cinta."gumam Widya dalam hati.


Widya terus melamun, hingga tak menyadari bus yang akan dirinya tumpangi sudah datang. Hingga tepukan di pundaknya kembali menyadarkan dirinya.


"Eh, kak Deni."ucap Widya saat tersadar dari lamunannya dan melihat Deni sudah ada di depannya.


"Kamu kok malah ngelamun. Kamu mau pulang?"tanya Deni.


"Eh, iya kak. Aku mau pulang."jawab Widya kikuk.


"Tuh busnya udah dateng, kalo kamu ngelamun terus bisa-bisa busnya keburu pergi lagi."sontak Widya pun segera melirik ke arah bus dengan kaget.


"Oh ya allah. Ampir aja, makasih ya Kak udah ngasih tau!"Widya pun berdiri bersiap untuk masuk ke dalam bus. "Oya, Kak Deni baru dateng atau mau pulang juga?"tanya Widya sebelum melangkah menuju bus.


"Aku baru dateng, yaudah sana kamu pulang. Hati-hati jangan ngelamun lagi. Bahaya!"ucap Deni tersenyum.


Setelah melihat bus telah berjalan, Deni pun segera melangkah menuju kampus. Dan baru saja dirinya melewati gerbang kampus, ada seseorang yang memanggil namanya. Deni pun membalikkan badannya untuk melihat siapa yang memanggil dirinya.


"Hai Den!"sapa seorang wanita dengan senyuman genitnya.


"Hm."setelah tau siapa yang memanggilnya, Deni kembali melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan wanita tadi.


"Ish, Deni tungguin dong! Kok malah ditinggal sih akunya!"teriak wanita itu seraya menyusul Deni dan berjalan di sampingnya.


"Den, kamu naik bus lagi."tanya wanita itu setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Deni.


"Hm."jawab Deni singkat dan terdengar malas.

__ADS_1


"Kapan-kapan boleh dong aku ikut kamu naik bus."ucapnya dengan nada manja.


"Ngapain? Kita kan beda arah,"tanya Deni melirik sekilas pada wanita itu.


"Ya gak apa-apa, kan sekalian ikut ke rumah kamu."jawabnya dengan senyuman yang semakin lebar.


Deni hanya mendengus kesal mendengar jawaban dari wanita di sampingnya itu. Dan semakin mempercepat langkahnya menuju kelasnya.


"Ish Deni tungguin dong, kita kan satu kelas kenapa aku ditinggal!"teriaknya sembari terus berusaha menyusul Deni. Tiba-tiba Deni menghentikan langkahnya dan menatap wanita itu dengan tajam.


"Viona, bisa gak gak kamu tuh berhenti ngintilin aku terus? Bikin risih tau gak!"ucap Deni dingin, tapi sama sekali tak membuat wanita yang bernama Viona itu mundur.


"Sayangnya aku gak bisa. Gimana dong? Aku kan udah pernah bilang, aku gak akan pernah nyerah sampai kamu mau sama aku!"ucapnya santai.


"Ah terserahlah!"bentak Deni yang langsung pergi meninggalkan Viona yang kaget mendengar bentakkannya barusan.


"Pokoknya aku gak akan nyerah! Kamu pasti bisa aku dapetin!"gumam Viona dengan yakin. Dia pun segera menyusul kembali Deni yang sudah berbelok masuk ke dalam kelasnya.


*


*


*


Sandi dan Irda baru saja selesai menyerahkan laptop milik Irda pada tukang servis di toko itu. Ternyata kerusakannya cukup parah, dan membutuhkan beberapa hari untuk memperbaikinya. Saat mereka sudah berada di dalam mobil, Sandi baru teringat dengan Widya. Sandi baru ingat, kalau dirinya belum menghubungi Widya sejak tadi. Lantas Sandi segera membuka hp miliknya, berniat untuk menghubungi Widya. Namun, lagi-lagi Irda membatalkan niatnya.


"San, kita cari makan dulu yuk! Laper nih, perut aku juga udah kerasa perih."ucap Irda sedikit meringis memegang perutnya.


Melihat Irda yang nampak kesakitan, Sandi kembali memasukkan ho nya ke dalam saku dan langsung mengangguk dan melajukan mobilnya meninggalkan area toko servis.

__ADS_1


"Yes, kayaknya Sandi benar-benar lupa deh sama Widya. Ah senangnya aku bisa deket lagi sama Sandi!"gumam Irda dalam hati, tersenyum puas.


__ADS_2