
Karna hari ini adalah hari libur, dikarenakan tanggal merah Widya berniat untuk pergi ke toko buku. Sudah lama dirinya tak membeli buku novel, apalagi kini banyak penulis-penulis novel online yang sering dirinya baca telah mencetak novelnya. Tentu Widya tak ingin kehabisan, maka dari itu hari ini dia berniat untuk memburu novel-novel yang baru di cetak oleh penulis favoritnya itu.
"Sayang, mau kemana udah cantik gini?"tanya sang bunda saat Widya menghampiri ayah dan bundanya yang tengah menonton tv bersama.
"Widya mau ke toko buku Bun."jawab Widya sembari duduk di antara ayah dan bundanya.
"Sama siapa?"tanya ayah Irwan tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi di depannya.
"Sendiri Yah, emm oiyah Widya boleh bawa mobil kan?"tanya Widya hati-hati. Ayah Irwan pun langsung menoleh menatap putri satu-satunya itu dengan tatapan kaget.
"Ih kenapa malah ngeliatin Widya kayak gitu sih Yah?"Widya jadi merasa salah tingkah.
"Kamu gak sakit kan? Biasanya kamu tuh paling anti bawa kendaraan sendiri, lah sekarang tumben malah minta sendiri."ujar ayah Irwan setengah meledek.
"Ya lagi pengen aja, lagian Widya juga perginya sendiri. Gak enak kalo harus naik kendaraan umum. Terus biar cepet juga sih,"Widya mengerucutkan bibirnya kesal karna sang ayah malah tersenyum meledek. "Jadi, boleh kan Widya bawa mobil sendiri?"tanya Widya lagi.
"Iya iya boleh sayang, kamu bawa sim nya kan? Hati-hati loh, kamu kan udah lama gak pake mobil. Siapa tau lupa lagi mana gas mana rem."lagi-lagi sang ayah malah meledeknya.
"Ish ayah mah gitu! Emangnya Widya bocah SMP apa? Heumm yaudah deh, Widya pergi sekarang aja. Daripada lama-lama Ayah malah makin nyebelin!"Ayah dan bunda hanya bisa tertawa pelan melihat putrinya yang merasa kesal.
"Yaudah, hati-hati ya sayang. Pulangnya jangan terlalu sore loh apalagi malem!"ucap bunda sembari mengelus sayang kelala Widya.
"Iya Bunda, Widya cuman ke toko buku sama ke kafe paling. Widya pamit ya, assalamu'alaikum!"Widya pun mencium tangan dan kedua pipi orangtuanya sebelum keluar dari rumahnya.
"Apa dia lagi berantem sama Sandi? Udah beberapa hari ini, ayah gak pernah liat Sandi ikut sarapan di sini,"tanya Ayah setelah Widya benar-benar telah keluar dari rumah.
"Bunda gak tau ayah. Tapi, kemarin-kemarin sih Bunda masih liat kalo Sandi jemput ke sini. Cuman ya gitu, gak masuk dulu."jelas bunda, sembari menyenderkan kepalanya di bahu ayah Irwan.
"Heumm, ya semoga saja mereka bukan lagi berantem."ayah dan bunda pun kembali fokus pada layar televisi.
__ADS_1
*
*
*
Sandi baru saja selesai memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah Irda. Hari ini mereka berencana untuk pergi menonton bersama, sebenarnya bukan hanya mereka berdua tetapi juga bersama teman-teman satu kelompoknya di kelas. Hanya saja Irda meminta Sandi untuk menjemput dirinya.
"Hai, San! Maaf nunggu lama ya?"
"Enggak kok, aku juga baru nyampe. Kamu udah siap? Kita pergi sekarang aja gimana? Soalnya temen-temen yang lain juga udah pada di jalan katanya."
"Oke. Aku udah siap kok, yuk!"
"Eh, orangtua kamu?"
"Mereka belum pada pulang, masih di luar kota."
Widya kini sedang berada di dalam mobilnya, sebenarnya dia ingin sekali mengajak Sandi untuk menemaninya pergi ke toko buku. Hanya saja entah mengapa semakin hari hubungan mereka semakin menjauh, Sandi yang selalu beralasan sibuk dengan tugas-tugasnya. Dan di saat datang ke rumah untuk menjemputnya pun, Sandi selalu datang bersama Irda atau Irda yang menginap di rumah ibu Resni selalu ikut pergi bersama mereka. Yang membuat Widya tak leluasa untuk bicara dengan Sandi.
Tiba di lampu merah, saat Widya melihat ke arah sekitar tanpa sengaja dirinya melihat seseorang yang sangat dirinya kenal dan sangat dirinya rindukan. Namun, lagi-lagi dirinya harus merasakan kecewa juga sakit di hatinya. Karna orang yang dia rindukan tengah berboncengan dengan seorang wanita yang juga dirinya kenali, Sandi dan Irda. Mereka berdua terlihat sangat akrab, saling bercanda dan tertawa lepas. Entah apa yang mereka bincangkan hingga mereka terlihat asik berdua, seolah tak ada lagi orang di jalan itu.
Tentu melihat Sandi semakin dekat dengan Irda, membuat hati Widya sangat sakit. Haruskan dirinya kembali melepas Sandi untuk Irda, ataukah dia harus berjuang. Tanpa bisa ditahan lagi, air mata pun jatuh dari kedua pelupuk mata Widya. Hingga, akhirnya Sandi melaju lebih dulu meninggalkan Widya yang semakin terisak merasakan sakit di hatinya.
"Rasanya tetap saja sakit."gumam Widya lirih seraya melajukan mobilnya dan segera menepikan kembali mobilnya di pinggir jalan.
"Apa mencintai seseorang memang sesakit ini ya? Kenapa rasanya aku gak pernah rela ngeliat Sandi sama perempuan lain?"Widya terus menangis walau sudah mencoba untuk menghentikan tangisannya.
Hampir 30 menit Widya berdiam diri di dalam mobilnya sembari terus menangis. Setelah dirinya berhasil menenangkan pikiran juga hatinya, dia mulai kembali melanjutkan perjalanannya menuju toko buku yang berada di sebuah mall.
__ADS_1
Sandi dan Irda telah sampai di mall tempat mereka janjian dengan teman-temannya yang lain. Dan mereka berdua pun langsung menuju tempat bioskop, karna sebagian teman-teman mereka sudah ada yang datang dan menunggu di sana.
"Eh tuh mereka!"tunju Irda saat memasuki bioskop yang melihat keberadaan teman-temannya.
"Yaudah yuk kesana!"Sandi dan Irda pun langsung menghampiri teman-temannya.
"Hai, kalian udah lama?"tanya Irda begitu tiba di hadapan teman-temannya.
"Eh, hai kalian! Enggak kok, kita juga baru dateng sekitar 5 menitan lah."jawab salah satu temannya.
"Siapa aja yang belum dateng emang?"tanya Sandi.
"Tuh kita tinggal nunggu si Eki sama si Yuli aja sih. Kayaknya mereka malah ngedate berdua deh bukannya gabung sama kita."
"Haha, iya ya mentang-mentang mereka baru jadian tuh!"ledek salah satu teman Sandi dan Irda.
"Oyah, jadi mereka udah jadian? Wahh, bisa minta PJ nya dong nangi kita, haha!"ujar Irda dengan tawanya.
"Haha, bener-bener tuh! Oya, terus giliran kalian kapan dong?"pertanyaan tiba-tiba dari temannya, sontak membuat Irda dan Sandi saling tatap.
"Maksudnya giliran kita apaan nih?"tanya Sandi yang memang merasa bingung.
"Ya kalian kapan mau jadian? Perasaan deket doang, tapi gak ada status mana enak dong,"ledek teman-temannya lagi.
Perkataan dari teman-temannya itu membuat Irda salah tingkah dan juga merasa senang. Itu berarti kedekatannya dengan Sandi banyak yang mendukung. Irda hanya bisa tersenyum malu sembari menundukkan kepalanya. Namun, jawaban dari Sandi malah membuat hatinya kecewa. Membuat senyumannya pudar begitu saja.
"Kita mah sahabatan guys, gak mungkin lah kita jadian. Kita deket karna emang udah kenal dari sejak SMA. Ya kan Da?"ucap Sandi santai.
"Iya, kita emang udah kenal dari SMA."jawab Irda singkat dan malas.
__ADS_1
Tak lama Eki dan Yuli yang mereka tunggu telah datang, bertepatan dengan dibukanya pintu ruangan tempat mereka akan menonton. Akhirnya mereka pun masuk bersama-sama dan tak lagi membahas soal kedekatan Irda dan Sandi.