Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
64


__ADS_3

Malam harinya...


Widya tengah merebahkan dirinya di ranjang queen size miliknya sembari membaca sebuah buku novel. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan cukup kasar, membuat dirinya terkejut hingga buku yang sedang dibacanya pun terlepas dari tangannya.


"Wid!"panggil Sandi yang baru saja membuka pintu kamar Widya.


"Ya allah Sandi! Kamu ngapain sih, masuk kamar orang maen langsung buka pintu aja! Ngerusuh pula buka pintunya, untung gak rusak tuh pintu!"gerutu Widya yang kesal karna kedatangan Sandi yang membuatnya terkejut.


Sandi hanya tersenyum sembari menggaruk kepala belakangnya merasa bersalah. "Maaf, abisnya aku tuh khawatir sama kamu tau gak!"ujar Sandi seraya menghampiri Widya dan segera duduk di samping Widya yang sudah duduk menyender di kepala ranjang.


"Khawatir kenapa?"tanya Widya heran.


"Tadi waktu di kantin, kamu kenapa?"tanya Sandi balik.


Widya membuang napas kasar, mengingat kejadian tadi siang membuat dirinya merasa malu juga kesal.


"Aku gak tau. Tiba-tiba aja perut aku tuh gak enak."jawab Widya sembari kembali membaca buku novelnya.


"Kamu marah ya sama aku?"tanya Sandi yang merasa tak enak karna tadi dirinya tak bisa menemani Widya.


"Enggak."jawabnya singkat.


"Maafin aku ya, tadi aku harus buru- buru masuk kelas. Pas pulang juga aku harus ngerjain tugas dulu."jelas Sandi masih dengan nada yang menyesal.


"Iya gak apa-apa. Udah lewat juga."ucap Widya menatap Sandi dengan datar.


"Sekarang gimana perutnya masih gak enak?"


"Udah baikkan kok, untung tadi ada temen di kelas yang ngasih aku minuman isotonik gitu. Dan hasilnya perut aku jadi cepet enakan."jelas Widya membuat Sandi mengernyitkan dahinya bingung.


"Temen di kelas? Siapa?"


"Evan. Aku kira gak ada yang tau kejadian tadi di kantin, dan emang cuman dia aja sih yang tau. Dia tiba-tiba aja ngasih aku minuman itu, katanya biar perut aku enakan. Dan emang bener."

__ADS_1


"Evan? Kayaknya aku baru denger deh kamu punya temen di kelas yang namanya Evan."Sandi memang mengenal hampir semua teman Widya di kelas, tetapi Widya tak mengetahui hal itu. Karna Sandi yang memang berbeda jurusan dengannya.


"Ya aki aja baru tau tadi nama dia. Dia emang duduk di bangku sebelah aku. Cuman dia tuh, jarang masuk juga sih. Gak tau deh kenapa. Orangnya terlalu misterius sih kalo kata aku mah."ucap Widya.


"Misterius? Ada-ada aja kamu tuh, ya dia emang gak niat kuliah aja kali makannya masuknya jarang-jarang."ucap Sandi asal.


"Suudzon mulu! Terus kamu ini masih pake baju yang tadi, emang belum pulang ke kosan?"


"Belum lah, aku tuh dari kampus tadi beres ngerjain tugas anterin dulu Irda pulang ke rumahnya, terus langsung deh ke sini."


"Anterin Irda? Emang kemana mobilnya?"Widya merasa tak suka mengetahui Sandi sekarang sudah mau mengantar kembali Irda pulang.


"Katanya sih masih mogok. Eh, ke bawah aja yuk. Temenin aku makan, tadi bunda udah nawarin aku makan. Aku gak enak kalo makan sendiri."ucap Sandi cengengesan.


"Apaan gak enak segala, biasa juga main nyelonong!"meski begitu Widya tetap menemani Sandi untuk makan malam di ruang makan.


Sandi memang kerap ikut makan di rumah Widya, dengan alasan masakan bunda membuatnya selalu rindu. Padahal mah memang dia suka saja dapat makan gratis, apalagi bisa makan dengan keluarga orang yang dirinya sukai.


*


*


*


"Kamu mau beli apa, sekalian aja sekarang mumpung kita ada di sini."tanya Fajar yang kini tengah mendorong troli yang sudah agak penuh terisi belanjaan.


"Hah? Gak ada deh kayaknya, lagian aku kan belum gajian. Nanti aja sih aku mah belanjanya."jawab Sabitha yang kembali serius memilih barang untuk keperluan di apartemen.


"Ngapain harus nunggu gajian kalau bisa sekarang. Udah biar sekalian nanti bayarnya disatuin aja sama belanjaan aku."ucap Fajar.


"Serius nih? Jadi, aku bisa kasbon dulu?"tanya Sabitha dengan tatapan berbinar menatap ke arah Fajar yang berdiri di belakangnya.


"Kasbon? Ah ya.. yaudahlah, buruan kamu mau beli apa?"

__ADS_1


"Oke kalo gitu, yuk kita ke sana aja!"ucap Sabitha berjalan dengan semangat meninggalkan Fajar yang masih berada di belakangnga.


"Orang mau ditraktir malah berharap kasbon. Dasar cewek aneh!"ujar Fajar menggelengkan kepalanya lantas menyusul Sabitha.


Setelah berputar-putar membeli semua keperluan untuk di apartemen juga barang milik Sabitha, kini mereka sudah berada di dalam mobil milik Fajar. Fajar akan langsung mengantar Sabitha pulang ke rumahnya. Dia sudah cukup senang bisa bersama dengan Sabitha walau hanya menemaninya berbelanja.


Fajar akui, kini dirinya benar-benar menyukai Sabitha. Dia selalu merasa nyaman bila bersama dengan Sabitha, bahkan sejak dekat dengannya Fajar sudah tak lagi memikirkan Widya. Tapi, untuk mengakui cinta Fajar belumlah yakin akan hal itu. Jadi, dia hanya akan menjalaninya seperti biasa, tak ingin terburu-buru menyatakan perasaannya terhadap Sabitha.


"Kamu kenapa sih, daritadi senyam senyum gitu?"tanya Sabitha yang kini menatap Fajar yang tengah mengemudi.


"Ya gak apa-apa, lagi seneng aja. Gak boleh memangnya?"jawab Fajae dengan masih tersenyum.


"Ya ya boleh aja sih. Tapi, aneh aja sih."gumam Sabitha lirih, Fajar yang mendengarnya pun tak ingin membalasnya karna dia terlalu bahagia dengan perasaannya sendiri.


*


*


*


Keesokan harinya, Widya baru saja selesai bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Dia pun keluar dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan bersama dengan kedua orangtuanya dan juga Kenny.


"Pagi semua!"sapa Widya begitu memasuki ruang makan, yang sudah ada kedua orangtuanya juga Kenny.


"Pagi sayang,"jawab bunda yang baru saja meletakkan nasi goreng yang dibuat sendiri olehnya.


"Pagi."jawab Kenny tersenyum.


Widya pun segera duduk setelah mencium pipi kedua orangtuanya. Dengan telaten Bunda mengisi piring suami, anak juga keponakannya baru setelahnya piring milik bunda sendiri. Bunda memang selalu seperti itu, mendahulukan oranglain dari pada dirinya sendiri.


"Kamu dijemput Sandi sayang?"tanya Ayah di sela-sela sarapannya.


"Iya Yah, paling bentar lagi juga dateng. Numpang sarapan."jawab Widya tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum!"teriak seseorang yang baru saja di pertanyakan oleh sang Ayah. Ya, Sandi yang baru datang langsung ikut bergabung di meja makan untuk ikut sarapan seperti biasanya.


"Nah kan, aku bilang juga apa."ucap Widya geleng-geleng kepala melihat sikap sahabatnya yang sudah tak memiliki rasa malu bila berhadapan dengan kedua orangtuanya.


__ADS_2