Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
16


__ADS_3

Kini, Widya dan Fajar sudah berada di sebuah bioskop. Fajar sedang mengantri di loket tiket, yang sebelumnya sudah memilih film apa yang akan mereka tonton. Sedangkan Widya, menunggu Fajar di bangku yang memang dikhususkan untuk mereka yang menunggu pintu masuk ke dalam ruangan bioskop terbuka. Widya tengah asyik berselancar di dunia maya, saat ada sepasang sepatu yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Widya pun mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa pemilik sepatu tersebut.


"Hai!Widya ya?"sapa seseorang yang tengah berdiri di hadapan Widya.


"Iya, maaf siapa ya?"tanya Widya, sembari memicingkan kedua matanya seperti mengenal namun tak ingat.


"Ah, bener ternyata!Masa kamu lupa, ini aku Dina! Kita satu sekolah waktu SmP, cuman emang gak pernah sekelas sih. Tapi, kita satu ekskul kan dulu?" jelas Dina semangat, sambil duduk di sebelah Widya.


Widya pun mengingat ingat, sambil menatap Dina dari atas hingga ke bawah balik lagi ke atas. Hingga akhirnya dia pun bisa mengingat, siapa Dina.


"Oh iya, aku inget!Kamu apa kabar Din?Pangling deh, sekarang kamu lebih cantik!"ujar Widya memeluk Dina senang.


"Ah kamu bisa aja, dari dulu juga aku mah gini-gini aja. Kamu tuh yang berubah, makannya tadi aku agak ragu. Takutnya salah orang, hehe!" ucap Dina tersenyum bahagia.


"Wid, nih aku udah beli tiketnya!"ucap Fajar yang tiba-tiba menghampiri Widya dan Dina, sambil membawa 1 buah dus popcorn ukuran besar dan 2 gelas cup minuman dingin. Cukup repot memang, tapi Fajar bisa membawanya.


"Eh, iya Jar. Sini aku bantuin, kayaknya kamu repot gitu!" ucap Widya sambil membawa 1 gelas cup yang dipegang Fajar.


"Nyantai!Eh, ada siapa nih?"tanya Fajar melirik ke arah Dina. Yang dilirik malah tersenyum manis.


"Ouh iya, kenalin ini Dina temen aku waktu di Smp dulu. Dina, kenalin ini Fajar temen sekelas aku di sekolah." ucap Widya mengenalkan mereka masing-masing. Mereka pun berkenalan, saling melempar senyum.


"Dina!"


"Fajar!"


"Temen apa temen niih?"goda Dina berbisik pada Widya.


"Ish, temen Din!Oya, Din kamu sama siapa kesini?"tanya Widya, menghiraukan godaan Dina.


"Aku sendiri, tadinya janjian sama temen..tapinya, dia malah gak jadi dateng!" ucapnya lesu.


"Ouh, terus kamu mau nonton juga?" tanya Widya lagi, yang dijawab anggukan oleh Dina.


"Yaudah gabung aja sama kita, gimana?Gak apa-apa kan Jar?" tanya Widya pada Fajar, yang dari tadi hanya terdiam.


"Ouh iya gak apa-apa kok Wid!" jawabnya yakin.


"Ah, nanti aku ganggu kalian lagi. Aku juga kan belum beli tiketnya !" ucap Dina, yang masih terus menggoda Widya.


"Ganggu apaan sih Din? Yaudah Jar, maaf bisa kan kamu beliin lagi tiketnya buat Dina?"ucap Widya dengan nada memelas.


"Iya iya, yaudah nih tolong pegangin dulu!" ucap Fajar, menyerahkan makanan dan minumannya kepada Widya, lalu kembali membeli tiket untuk Dina.


Tak lama Fajar pun datang dengan membawa 1 buah tiket lagi, untuk Dina. Dan pintu ruangan yang akan mereka masuki pun terbuka,semua pengunjung yang akan menonton film yang sama dengan mereka, satu per satu telah masuk ke dalam ruangan. Termasuk Widya, Dina dan Fajar.

__ADS_1


"Ini tiketnya, tapi dapet kursinya kehalang 2 orang. Gak apa-apa kan?"ucap Fajar sembari memberikan tiketnya pada Dina.


"Iya gak apa-apa kok. Btw nanti aku ganti ya!"


"Santai aja, yaudah yuk kita masuk!"mereka pun masuk ke dalam ruangan.


Setelah kurang lebih 2 jam mereka di dalam, akhirnya mereka pun keluar dari ruangan bioskop itu, setelah filmnya selesai.


"Wid, kapan-kapan kita ketemu lagi ya!"ucap Dina, saat mereka sudah berada di luar bioskop.


"Iya pasti!Sekarang kamu mau pulang?" tanya Widya.


"Iya nih, udah sore banget. Yaudah, aku duluan ya Wid!" ucap nya memeluk Widya, dan menoleh kepada Fajar. "Duluan ya Jar!" sambungnya sambil tersenyum. Dina pun berlalu pergi meninggalkan Widya dan Fajar.


"Kita juga pulang yuk Jar!" ajak Widya, karna dia sudah sangat merasakan ngantuk.


"Oke, yuk!" sahut Fajar. Mereka pun akhirnya pulang menuju rumah Widya.


Di kostan Irda.


Irda masih saja terus menangis. Dia tetap tak ingin mengakhiri hubungannya dengan Sandi. Sandi yang melihat Irda menangis pun merasa tak tega, dia pun bingung harus berbuat apa.


"Da, udah dong jangan nangis terus. Tuh liat mata sama idung kamu udah merah gitu."bujuk Sandi dengan lembut.


"Ya, karna aku gak mau bikin kamu makin sakit nantinya. Aku gak mungkin kasih harapan yang aku sendiri pun gak yakin dengan hal itu."jelas Sandi berusaha membuat Irda mengerti.


"San, aku mohon jangan putusin aku ya. Aku janji bakalan rubah sikap aku yang mungkin emang gak kamu suka. Tapi, please ya kasih aku kesempatan buat bikin kamu bisa cinta juga sama aku."Irda menatap Sandi dengan sangat memelas.


"Tapi, aku gak yakin Da."jawab Sandi mengalihkan pandangannya dari tatapan Irda.


"Aku yakin bisa kok San!Kasih kesempatan yaa, please!"Irda memegang lengan Sandi menatapnya penuh harap.


Sandi pun menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia merasa bingung harus berbuat apa lagi agar Irda mau mengakhiri hubungannya. Dengan terpaksa, akhirnya Sandi pun mengangguk menerima permintaan Irda. Karna dirinya pun masih bingung dengan perasaannya terhadap Widya.


"Aahh makasiih sayang!"Irda langsung memeluk Sandi dengan erat, namun Sandi sama sekali tak ingin membalas pelukannya. Sandi benar-benar bingung.


"Yaudah, mending sekarang kamu istirahat aja ya. Aku juga capek, mau pulang."ucap Sandi melepas pelukannya.


"Yaudah, kamu hati-hati ya. Kabarin aku kalo udah sampe kostan ya!"Sandi hanya mengangguk, lantas segera memakai helmnya dan menaiki motor sportnya. Setelah melambaikan tangannya, Sandi pun melajukan motornya meninggalkan kostan Irda.


"Hugh, untung aja Sandi mau nerusin hubungan ini. Pokoknya aku gak akan biarin kamu lepas San. Kamu cuman milik aku!"gumam Irda tersenyum smirk menatap kepergian Sandi.


Setelah pulang dari kostan Irda, Sandi langsung saja tidur. Dirinya terlalu lelah, sampai-sampai semua panggilan telfon dari Irda tak ada yang dia angkat. Lebih tepatnya, Sandi memang sengaja tak ingin mengangkat telfonnya.


...****************...

__ADS_1


Kini Sandi tengah berada di rumah Widya, setelah sekian lama akhirnya Sandi bisa berkunjung ke rumah Widya kembali. Tentu, Widya sangat senang Sandi datang kembali ke rumahnya.


"San, apa kabar Irda?" tanya Widya saat mereka sedang duduk di kursi ruang tengah sambil menonton tv.


"Baik." jawabnya singkat tanpa menoleh pada Widya.


"Oh. Kamu gak nemuin atau jalan sama dia gitu?Kan sekarang malam minggu...malah seharian disini." ucap Widya dengan nada bergurau.


"Enggak, lagi males aja jalan. Makannya kesini." masih dengan mode cueknya.


"Oh, jadi kalo lagi males aja kamu maen kesini nya. Pantes aja, jarang banget kesini nya! Gak kayak dulu.."gumam Widya lirih di akhir kata.


"Gak gitu juga Wid, ah udah kenapa malah jadi bahas Irda sih!Kamu sendiri gak diapelin noh ama si ketua kelas.." ucap Sandi, menatap Widya dengan tatapan penuh selidik.


"Fajar?Ya enggak lah, ngapain juga dia ngapel kita kan cuma temenan biasa. Ya gak pake apel-apelan lah!" Jawab Widya enteng.


"Berarti kita bukan temenan biasa ya?" ucap Sandi menaik turunkan kedua alisnya.


"Maksudnya?"tanya Widya heran.


"Ya, soalnya kan aku lagi apelin kamu." Jawab Sandi tersenyum menggoda.


"Ish! Saaa aeee kamu.." ucap Widya mengulum senyumnya malu. Tiba-tiba pipi nya berubah merah, debaran jantungnya pun berdetak dengan cepat, padahal dari nada bicaranya saja jelas Sandi hanya menggodanya.


"Tenang Wid, Sandi tuh cuman bercanda!" gumam Widya dalam hati.


"Lah kamu kenapa Wid?pipi kamu merah loh, kamu sakit?"tanya Sandi semakin mendekatkan dirinya pada Widya yang duduk di sampingnya.


"Hah?Enggak ih, aku baik-baik aja Sandi!" ucap Widya gugup. "Eh malah makin deket sih si Sandi!" gumamnya dalam hati, memalingkan wajah ke sembarang arah.


"Beneran kamu gak apa-apa Wid?Kok, kamu makin keringetan sih?" ucap Sandi sambil mengelap keringat yang meluncur dari dahi Widya.


"Ya ampun, kenapa aku makin berdebar gini ya?!" Widya semakin merasakan hawa panas, seakan darah dalam tubuhnya itu mendidih. Pipi nya pun makin merah merona seperti buah tomat.


"Aku gak apa-apa San, udah ih jangan deket-deket gini. Panas tau!" ucap Widya mendorong pelan tubuh Sandi.


"Masa sih panas? Diluar kayak nya lagi hujan deh Wid, harusnya dingin kali." ucap Sandi yang sudah menggeser ke tempat duduknya yang semula.


"Hujan?Kok, aku gak tau ya.."tanya Widya polos, yang memang tidak menyadari diluar sedang hujan.


"Kamu ini, lagi mikirin apa sih? sampe gak fokus gini." seru Sandi mengacak acak rambut Widya.


"Mikirin kamu San!" gumamnya dalam hati.


like like like nyaaa yaa 😄

__ADS_1


__ADS_2