
Sandi dan Widya berjalan beriringan menuju kelas. Sesekali mereka tertawa karna Sandi yang menceritakan kekonyolannya. Sampai akhirnya mereka pun masuk ke dalam kelas. Mereka berdua masih terus saling melempar tawa. Tanpa mereka sadari, Fajar yang sudah datang terlebih dulu terus menatap ke arah mereka berdua.
Fajar merasakan sesak di dadanya, tiba tiba hawa panas menyeruak di tubuhnya. Dia sama sekali tak suka, melihat Widya begitu akrab dengan Sandi. Meski dia tau, Sandi yang terlebih dulu mengenal Widya dibanding dirinya. Namun tetap saja, rasanya tak rela melihat mereka begitu akrab.
"Woy!Bengong aja Lo kenapa?"tegur Naufal yang baru saja duduk di bangku sebelahnya.
"Gak apa-apa."jawab Fajar dingin, tanpa mengalihkan pandangannya.
"Berasa deket kulkas, urang!"Naufal bergidig seolah kedinginan. Fajar hanya menatapnya malas.
Bel tanda masuknya pelajaran pun dimulai. Guru pun telah memasuki kelas. Terlihat semua fokus menyimak apa yang guru mereka jelaskan. Sampai 2 jam berlalu, tiba waktunya mereka untuk mengisi perut mereka karna sudah waktunya jam istirahat. Sandi dan Widya berjalan bersama menuju kantin. Fajar pun mengikuti mereka dari belakang bersama Naufal.
"San, aku ke toilet bentar ya. Kamu duluan aja pesenin sekalian buat aku, kayak biasa!"seru Widya yang dijawab anggukan oleh Sandi. Dan dia pun segera berlari menuju toilet.
Setelah selesai dengan urusannya, Widya pun keluar dari toilet.
"Ya ampun!Fajar ih ngagetin aja, ngapain kamu disini?"tanya Widya, setengah teriak karna kaget melihat Fajar yang sudah berdiri di depan tembok pembatas toilet.
"Aku nungguin kamu.."jawabnya cengengesan.
"Ish, gak ada kerjaan. Ngapain harus nungguin aku disini?"ucap Widya sambil melangkah menuju kantin
"Ya biar bareng aja ke kantin."jawab Fajar santai.
"Ish aneh kamu mah!"Widya pun menggelengkan pelan kepalanya.
"Wid,"
"Hm."
"Nanti pulang sekolah kita jalan dulu yuk!"
"Jalan?Gak cape emang?"ucap Widya tersenyum tipis.
"Ish mulai ngebanyol ya kamu!"ucap Fajar menepuk bahu Widya gemas.
"Ya abis masa ngajak jalan sih, kamu kan bawa motor!"
"Aku gak bawa motor Wid, berat!"
"Lah, ngebales kamu. Haha!"mereka pun malah saling terus tertawa hingga sampai di kantin. Widya mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Hingga akhirnya dia menemukannya yang sedang duduk membelakanginya. Widya dan Fajar pun segera menghampirinya.
__ADS_1
"Dor!!"teriak Widya menepuk pundak Sandi.
"Yee malah ngagetin!Lama banget sih, ke toiletnya?"tanya Sandi yang tak menghiraukan keberadaan Fajar disana.
"Yaa namanya juga cewek. Eh ini punya aku ya?"tunjuk Widya pada semangkuk mie ayam.
"Iyalah, cepet makan keburu dingin nanti gak enak."ucap Sandi yang juga mulai memakan mie ayamnya.
"Jar, kamu gak makan?"tanya Widya dengan mulut penuh dengan mie, dan menyisakan sedikit saos di ujung bibirnya. Fajar yang melihatnya dengan refleks langsung membersihkannya menggunakan ibu jarinya.
"Kalo makan tuh jangan ngomong, nanti keselek loh!"ucap Fajar sembari membersihkan kotoran yang menempel di ujung bibir Widya. Widya pun terdiam menatap Fajar kaget.
"Ekhem!udah bersih kali, gak usah dipegang terus."ucap Sandi ketus.
"Makasih Jar!"ucap Widya kikuk. Fajar hanya tersenyum dan menatap Sandi tajam.
Mereka pun menghabiskan makanan mereka, lalu kembali ke kelas bersama-sama. Hingga waktu pulang pun telah tiba. Sesuai permintaan Fajar, Widya pun hari ini pulang bersama Fajar kembali. Namun, kali ini Fajar mengajak Widya ke sebuah tempat yang biasa dirinya kunjungi terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.
"Waah bagus banget Jar!"seru Widya saat tiba di tempat yang sekitarnya dikelilingi pegunungan. Ya mereka kini tengah berada di bukit kecil.
"Kamu seneng?"dijawab anggukan oleh Widya yang masih menatap pemandangan sekitar dengan tatapan berbinar.
"Syukurlah kalo kamu seneng, aku juga jadi seneng juga."ucap Fajar tersenyum.
"Aku emang suka dateng kesini dari kecil. Dulu, aku sama orangtuaku suka liburan kesini, soalnya di bawah sana ada tempat pemancingan gitu."Jelas Fajar tanpa menatap Widya.
"Oh pantesan. Terus, kenapa kamu ngajak aku kesini?"masih menatap Fajar.
"Ya pengen aja."Fajar pun kini menatap Widya.
"Heumm.."Widya mengalihkan pandangannya ke sekitar.
"Wid."
"Hm."
"Kamu suka ya sama Sandi?"tanya Fajar tiba-tiba. Kini dia menatap lurus ke depan.
"Hah?Kok kamu nanya gitu?"tanya Widya kaget.
"Ya pengen mastiin aja, sebelum aku jujur sama kamu."
__ADS_1
"Jujur?Apa sih Jar, aku gak ngerti deh."Widya pun semakin heran dengan ucapan Fajar.
"Jujur aku tuh udah lama Wid, suka sama kamu. Tepatnya dari awal kita sama-sama kelas 1."ungkap Fajar pada akhirnya.
Deg!
"Maksud kamu?"Widya semakin kaget dengan pernyataan Fajar.
"Iya, aku sayang sama kamu Wid. Tapi, aku tau di hati kamu sudah ada orang lain kan?"Fajar semakin dalam menatap Widya, dengan senyuman yang sangat tulus.
"Aku gakkan minta kamu untuk jadi pacar aku, ataupun minta kamu balas perasaan aku. Aku cuman pengen jujur aja sama kamu. Biar hati ini lega, gak ngerasa sesak lagi. Ya meskipun bakalan tetep sesak sih kalo liat kamu sama dia."ucapnya terkekeh menundukkan kepalanya.
Widya sama sekali tak tahu harus berkata apa. Widya masih kaget juga bingung, tiba-tiba Fajar mengungkapkan perasaannya seperti itu.
Malam harinya, sesuai undangan dari Bunda Novie keluarga dari ibu Resni datang berkunjung ke rumah Widya untuk makan malam. Sebelumnya, Bunda Novie terlihat begitu sibuk dengan urusan dapur. Meski ada Bibik yang sudah mengurus semua, tetap saja Bunda ikut-ikutan mempersiapkan semuanya.
"Widya sayang, kamu udah siap?"tanya Bunda masuk ke dalam kamar Widya.
"Udah Bunda, ini kan cuman makan malem kenapa heboh banget sih Bun?"tanya Widya heran, karna dia harus berpenampilan super rapi.
"Ya gak apa-apa dong sayang, jarang-jarang loh kita ngundang tetangga kayak gini. Karna kamu tau sendiri kan, tetangga-tetangga kita yang lain tuh pada sibuk, baru kali ini Bunda dapet tetangga yang sama-sama di rumah kayak Bunda."jelas Bunda penuh semangat.
"Iya deh Bunda."jawab Widya tak semangat.
ting nong
ting nong
ting nong
"Eh, kayaknya mereka udah dateng. Yuk kita turun!"ajak Bunda sambil menggandeng tangan Widya. Mereka pun segera menemui keluarga ibu Resni.
"Assalamu'alaikum!"ucap Ibu Resni saat pintu terbuka.
"Wa'alaikumussalam!Hai, jeng!"ucap Bunda sambil saling cipika cipiki ala buibu. "Ayo ayo silakan masuk!"Bunda pun menggeser posisinya, membuka akses jalan untuk Ibu Resni dan keluarga masuk.
Sejenak netra cokelat milik Widya dan netra hitam milik Deni saling bertabrakan. Mereka saling menatap sampai akhirnya Widya memilih untuk mengalihkan pandangannya. Widya merasa canggung dan sedikit tak nyaman, karna Deni terus saja menatapnya. Namun, Widya berusaha untuk tak membalas tatapannya.
Hingga acara makan malam pun telah selesai. Widya segera masuk ke dalam kamar, setelah keluarga Ibu Resni pulang. Rasanya dia sangat lelah, setelah kejadian tadi siang bersama Fajar membuatnya benar benar tak semangat. Bukan tak suka, hanya saja ada perasaan tak enak hati saat mengetahui perasaan Fajar.
***
__ADS_1
Seminggu sejak kejadian itu, Widya dan Fajar tak lagi pulang bersama. Bukan Widya yang menjauh, namun Fajar lah yang menjaga jarak dengannya. Bukan juga menyerah dengan perasaannya, hanya ingin membuat hatinya kembali tenang dan dingin. Tak ada lagi rasa untuk memiliki, yang ada hanya rasa menyayangi walau dalam diam.