Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
13


__ADS_3

"Kalian pacaran ya?"tanya Irda dengan lantang.


Mendengar Irda bertanya seperti itu, sontak Widya, Fajar dan Sandi jadi terdiam. Widya dan Fajar saling bertatapan, detik kemudian Widya pun tertawa.


"Haha, enggaklah!Aku sama Fajar gak pacaran, yakan Jar?"jawab Widya masih dengan tawanya.


"Iya, kita gak pacaran. Kita cuman temenan aja." ucap Fajar dengan nada lemah, memaksakan untuk tersenyum.


Sandi pun merasa lega mendengar pernyataan dari sahabatnya itu. Entah, yang jelas dia merasakan sangat senang mendengarnya.


"Ouh, kirain pacaran. Padahal kalian cocok loh, " ucap Irda, sambil melirik pada Sandi.


"Udah, udah kenapa jadi bahas pacar pacaran sih?Kita mau kemana sekarang?" tanya Sandi, mengalihkan topik pembicaraan yang membuatnya sesak.


"Gimana kalo kita jalan-jalan sekitar sini aja dulu, udah gitu baru kita cari tempat makan?"usul Irda, yang dianggukki oleh mereka bertiga.


Dan mereka pun, berjalan mengitari taman itu dengan posisi Widya dan Fajar berada di belakang Sandi dan Irda. Sejujurnya, melihat Sandi bersama Irda, membuat dada Widya sesak. Dia sama sekali tak suka, namun sekuat tenaga Widya mencoba untuk menutupinya dengan terus tersenyum dan mengobrol dengan Fajar.


Begitu juga dengan Sandi, meski dia bergandengan tangan dengan Irda, namun perasaannya tak tenang. Entah apa yang dia rasakan, yang jelas ada rasa senang, cemas juga amarah yang mungkin sudah tercampur menjadi satu.


"Sayang, aku haus beliin minuman dong!" ucap Irda manja.


"Kamu mau minum apa?"tanya Sandi datar.


"Emm aku pengen, jus apel sayang."jawab Irda masih dengan nada yang manja.


"Yaudah aku beli dulu, kalian mau nitip sekalian?"tanya Sandi menatap ke arah Widya dan Fajar bergantian.


"Biar aku ikut sama kamu aja San, Wid kamu mau minum apa?" tanya Fajar pada Widya.


"Aku air mineral aja Jar." jawabnya sambil tersenyum.


"Ih, Kenapa kamu senyum-senyum manis gitu sih sama si Fajar?!" gerutu Sandi dalam hati, tak suka Widya tersenyum ramah pada Fajar.


"Ouh yaudah, yuk San!" ajak Fajar, melangkah mendahului Sandi.


"Kalian tunggu disana aja, tempatnya agak teduh kalo di sana.!" usul Sandi menunjuk ke sebuah kursi panjang yang dekat dengan sebuah pohon besar.


"Oke!" jawab Widya dan Irda bersamaan, dan mereka pun langsung menuju ke tempat yang Sandi tunjuk.


Awalnya hanya ada keheningan diantara Widya dan Irda saat mereka telah duduk bersama di kursi taman itu. Hingga akhirnya, Irda yang mengajak ngobrol duluan pada Widya.

__ADS_1


"Wid, kamu udah berapa lama sahabatan sama Sandi?" tanya Irda pada akhirnya menghapus keheningan diantara mereka.


"Heh?Kita, dari Sd udah sahabatan."jawab Widya agak canggung.


"Oh udah lama juga ya, Sandi orangnya baik banget ya Wid! Dia juga romantis.." ucap Irda sambil tersenyum.


"Oyah?Iya Sandi emang baik, tapi kalo romantis aku gak tau..hee" ucap Widya menggaruk pelipisnya tersenyum canggung.


"Kok gak tau?"tanya Irda bingung.


"Ya soalnya kalo lagi sama aku, dia tuh orang nya iseng banget!" jelas Widya mengingat saat bersama Sandi, dia selalu jadi korban keisengannya.


"Oyah? Heumm, kalo lagi sama aku dia tuh romantis banget, dia juga selalu nurutin yang aku mau. Dan dalam waktu dekat, katanya dia mau main ke rumah aku, mau ketemu sama mami papi katanya..aku seneng banget, bisa ngenalin Sandi sama orangtua aku.!"ucap Irda penuh semangat.


"Oh gitu ya?" Widya hanya memaksakan senyumnya, karna lagi-lagi dada nya terasa sesak. Dia tak suka, sungguh tak suka.


Tak lama, Sandi dan Fajar telah kembali dengan membawa minuman dan beberapa cemilan. Mereka pun mengobrol bersama, mencoba untuk mengakrabkan diri mereka masing-masing. Meski, beberapa kali Sandi mencuri-curi pandang pada Widya, yang terus saja tersenyum pada Fajar.


"Eh udah siang nih, kita cari makan yuk sayang!" ajak Irda sambil menggelayut manja pada Sandi.


"Mau makan apa?" tanya Sandi sambil melepaskan tangan Irda dari lengannya.


"Aku sih lagi pengen makan baso sayang, kita ke tempat biasa kita makan aja gimana?" ujar Irda yang kembali memeluk lengan Sandi.


Di Warung baso..


"Kalian duduk aja disana, biar aku yang pesenin!" ucap Sandi pada ketiganya. Widya dan Fajar pun segera duduk di tempat yang memang kosong.


"Aku ikut aja ya sayang," ucap Irda.


"Hm." jawab Sandi acuh, sambil melangkah menuju ke tempat penjual baso.


"Liat aja ya, aku jailin dia! Hugh, gara gara dia Sandi dari tadi jutek terus sama aku!" ucap Irda dalam hati. Irda pun mengikuti Sandi.


"Sayang, beliin aku tissu basah dong tuh di warung itu kayaknya ada deh..tolong yaa!" rengek Irda pada Sandi.


"Tapi, aku belum pesen baso nya." ucap sandi.


"Biarin sama aku aja, oya buat Widya sama Fajar samain aja sama aku atau gimana?"tanya Irda.


"Buat Widya mie kuning aja pake sayur, soalnya Widya gak suka mie putih." jelas Sandi.

__ADS_1


"Ouh oke sayang!"


"Yaudah aku kesana dulu!" ucap Sandi segera pergi ke warung seberang.


"Kebetulan, pesenannya beda dari yang lain. Haha jangan kira kamu bakal makan enak ya!!" gumam Irda tersenyum licik.


Irda memesan baso nya sesuai yang diucapkan Sandi, hanya saja untuk mangkuk baso Widya, Irda meminta pada penjualnya untuk lebih banyak menambahkan air cuka dan bubuk merica. Irda sengaja melakukan itu, karna dia tak suka melihat Sandi dari awal mereka jalan selalu curi-curi pandang pada Widya.


"Hai, pesanannya datang!" seru Irda membawa nampan berisi mangkuk baso yang dibantu oleh sang pelayan membawakan nampan berisi gelas air minum.


"Makasih mas!" ucap Widya pada pelayan yang sudah meletakkan nampan ke atas meja.


"Sandi mana?" tanya Fajar saat melihat Irda hanya kembali bersama seorang pelayan.


"Oh dia lagi... Nah itu dia!" ucap Irda terpotong karna melihat Sandi yang baru datang membawa pesanannya.


"Kalian belum makan?" tanya Sandi saat mendudukkan dirinya di kursi samping Irda.


"Belum, pesanannya juga baru datang kok."jawab Widya.


"Oh. Oyah ni Da, pesenan kamu." Ucap Sandi memberikan tissu basah yang dia minta.


"Makasih sayang! Yaudah yuk dimakan baso nya! Sayang, mau di tambah sambal nya?"ucap Irda sambil memberikan mangkuk sambal pada Sandi.


"Boleh, " Sandi pun menerimanya.


Saat Widya mulai memakan baso miliknya, raut wajah Widya seketika berubah. Ingin rasanya memuntahkan kembali mie yang dia makan, namun dia tahan karna tak enak pada teman-temannya. Dengan terpaksa, dan menahan rasa asam juga pedas Widya tetap memakan mie baso nya dengan tenang. Fajar yang duduk di sampingnya menyadari raut wajah Widya yang seperti menahan sesuatu, segera memberikan air mineral yang tadi dia beli di taman padanya.


"Ini Wid minum!" ucap Fajar memberikan botol air mineral pada Wìdya.


"Eh, iya makasih Jar!" Widya pun menerimanya dan langsung meminumnya sampai setengahnya. "Kayaknya nie baso dikasi cuka banyak banget!Rasanya jadi gak karuan gini sih!!" gerutu Widya dalam hati.


Sedangkan Irda sedang menahan senyum nya melihat reaksi Widya seperti itu. Irda merasa senang karna sudah berhasil menjahili Widya.


"Kamu gak apa-apa Wid?" bisik Fajar, melihat Widya terlihat berkeringat dingin.


"Gak apa-apa kok Jar," jawab Widya memaksakan senyum nya.


"Oh yaudah." ucap Fajar, meski masih merasa ragu dan khawatir dengan keadaan Widya.


Karna tak kuat menahan rasa asam pada mie baso nya, akhirnya Widya tak lagi memakannya. Dia beralasan bahwa dia sudah kenyang. Daripada dia harus mengeluarkan kembali yang sudah masuk ke dalam perutnya. Widya sebenarnya curiga pada Irda, karna yang memesan makanan kan dia. Tapi, Widya juga merasa bingung, bila memang Irda kenapa dia sampai melakukan itu padanya. Widya rasa, dia tak punya salah apapun pada Irda.

__ADS_1


Ini novel pertamaku, mohon dukungannya yaa dan kasii saran bila masii ada kurang kurang nya!!


__ADS_2