
"Ma, tebak Sandi dateng sama siapa?"tanya Sandi sembari terus tersenyum menatap wajah sang Mama.
"Hemm, pasti sama pacar kamu kan?Siapa?Ayo kenalin sama Mama, calon mantu Mama itu!"ajak Mama Sandi sangat antusias.
"Ish, belum jadi pacar sih Ma. Tapi, mudah-mudahan aja secepatnya. Hehe!"Sandi pun menggaruk tengkuknya merasa malu pada mamanya.
"Oyah, siapa sih emang?"tanya Mama penasaran.
"Mama kenal kok orangnya, yuk kita ke depan aja!"Sandi pun segera menggandeng sang mama untuk menemui Widya.
Di ruang tamu, Widya tengah duduk sembari memainkan ponselnya. Menutupi rasa gugupnya yang akan bertemu dengan orangtua Sandi. Meski sudah saling kenal, hanya saja entah kenapa kali ini perasaannya sangat gugup.
"Widya?!"pekik Mama Sandi saat memasuki ruang tamu dan melihat ke arah Widya.
Mendengar namanya dipanggil, Widya pun segera berdiri dan tersenyum pada Mamanya Sandi.
"Ya ampun, kamu apa kabar Nak?"tanya Mama Sandi langsung memeluk Widya erat penuh kasih sayang.
"Alhamdulillaah baik tante, tante apa kabar?"Widya pun tersenyum lega. Ternyata tak seperti yang dibayangkan.
"Jangan panggil tante dong, panggil Mama!Oke, Mama!"tegas Mama Sandi pada Widya. Widya pun mengangguk dan tersenyum.
"Mama apa kabar?Maaf Widya baru bisa dateng ke sini,"ucap Widya yang masih di peluk oleh Mama Sandi.
"Alhamdulillaah Mama juga baik sayang, iya gak apapa. Mama ngerti kok, kalian kan pasti banyak kegiatan."
"Ma, udah dong pelukannya. Ayo duduk, nanti pegel loh!"ujar Sandi, membuat Mamanya melepas pelukannya pada Widya.
"Mama lupa, saking kangennya sama kamu. Yuk duduk sini sayang!"ajak Mama Sandi mengarah ke sofa dan mereka pun duduk bersama.
"Ck. Lupa juga nih sama anak sendiri!"desis Sandi pura-pura merajuk.
"Hush, sembarangan!Sini kamu juga duduk, Mama juga kangen sama kamu!"ucap Mama yang kini duduk di tengah antara Widya dan Sandi.
__ADS_1
"Kamu lanjut kuliah dimana sayang?"tanya Mama pada Widya.
"Kampus Mahardika Ma."jawab Widya.
"Ouh pantesan Sandi juga jadi ikutan pengen masuk ke sana. Tapi bagus juga sih, jadinya kalian tetep bisa sama-sama. Mama juga sebenarnya gak mau Sandi jauh-jauh, sekarang aja udah susah buat kumpul di rumah."ucap mama sendu memeluk Sandi dari samping.
"Nanti Sandi bakalan sering pulang kok Mah. Asalkan Mama juga jangan terlalu sering ambil kerjaan ke luar kota dong."rajuk Sandi manja.
"Iya sayang, maafin mama ya!Akhir-akhir ini Mama sama Papa selalu sibuk sama kerjaan. Tapi, beberapa minggu ke depan Mama udah bakalan stay di rumah kok."
"Oyah? Kenapa Ma?"tanya Sandi senang juga bingung. Pasalnya sang Mama hampir sama seperti sang papa yang sangat gila kerja.
"Iya soalnya mana udah serahin semua kerjaan mama ke asisten mama. Mama juga udah capek sebenernya, makannya mama pilih atur kerjaan di rumah aja dan diwakilkan sama asisten mama."jelas sang Mama membuat Sandi langsung memeluk mama karna merasa sangat bahagia.
"Sandi seneng banget dengernya Ma. Sandi tuh bukannya gak setuju mama kerja, cuman Sandi khawatir aja kalo mama sering ke luar kota Takutnya mama sakit atau kenapa-napa."
"Iya sayang, makasih ya udah mau ngertiin mama sama papa selama ini."
"Iya Ma."
"Haah..senangnya akhirnya Mama mau di rumah juga."gumam Sandi tersenyum, saat Mamanya dan Widya pergi.
Setelah selesai acara masak-memasak bersama Mamanya Sandi, mereka pun makan siang bersama. Dan setelah beres makan, Widya segera membantu untuk membereskan semua dan mencuci piring bekas mereka makan. Meski Mama Sandi sudah melarangnya, Widya tetap ingin melakukannya.
Waktu menunjukkan jam 5 sore, saat Papanya Sandi baru saja pulang dari kantor. Widya, Sandi dan juga Mamanya tengah berkumpul di ruang keluarga sembari mengobrol ringan. Melepas rindu satu sama lain, hingga akhirnya Papanya Sandi ikut berkumpul.
"Assalamu'alaikum!"salam Papanya Sandi ketika menghampiri mereka yang tengah mengobrol dan tertawa kecil.
"Wa'alaikumussalam!"jawab mereka serentak. Dan mereka pun menoleh ke arah sumber suara yang memang tepat di belakang mereka.
"Papa!"seru Sandi seraya beranjak dari tempat duduknya menghampiri Papanya dan memeluknya erat.
"Wah sudah pulang ternyata anak Papa yang cakep ini!"balas Papa Sandi memeluknya yang juga erat.
__ADS_1
"Maaf Sandi baru bisa pulang sekarang,"ucap Sandi sembari melepas pelukannya.
"Yah gak apapa, yang penting kan sekarang kamu sudah pulang. Loh, ini Widya kan?"tanya Papa Sandi menatap Widya yang berdiri di belakang Sandi.
Widya pun menghampiri Papa Sandi dan mencium tangan Papa Sandi.
"Iya Om, ini Widya. Apa kabar Om?"ucap Widya tersenyum ramah.
"Alhamdulillaah baik, gimana kabar orangtua kamu disana?"
"Kabar Ayah sama Bunda juga alhamdulillaah baik-baik aja Om."jawab Widya tersenyum.
"Jangan Om dong sayang, panggil Papa oke?!"ucap Mama Sandi sembari menghampiri suaminya itu.
"Iya, anggap aja kita orangtua kamu juga ya. Sama seperti Ayah dan Bunda kamu yang udah anggap Sandi seperti anak mereka sendiri."tambah Papa Sandi mengusap kepala Widya dengan lembut.
"Iya Om, eh Pa. Makasih ya!"ucap Widya terharu, karna perlakuan orangtua Sandi begitu baik padanya.
"Yasudah, kalian lanjutkan aja ngobrolnya. Papa mau bersih-bersih dulu, gerah!"ucapnya seraya menggandeng tangan Mama Sandi menuju kamarnya yang terletak tak jauh dari ruang keluarga.
Kini tinggal Sandi dan dan Widya berdua di ruang keluarga, dengan posisi mereka yg masih sama-sama berdiri. Sejenak mereka saling pandang, sebelum akhirnya Widya memilih untuk duduk kembali di kursi sofa yang berada di sana. Meski sebenarnya dirinya tengah menenangkan debaran jantungnya yang tiba-tiba berpacu dengan cepat, hanya karna bertatapan dengan Sandi.
"Wid, kamu seneng gak?"tanya Sandi yang entah sejak kapan duduk di samping Widya.
"Seneng?"ulang Widya bingung.
"Iya, kamu seneng gak ketemu sama orang tua aku?"ucap Sandi sembari tersenyum.
"Ya, yaa aku seneng dong."jawabnya gugup.
"Udah gak gugup lagi kan?"
"Ya ada sih sedikit, tapi sekarang sih udah agak lega. Ternyata papa sama mama masih inget sama aku, padahal kan terakhir ketemu juga waktu kita lulus SD.
__ADS_1
"Ya gak mungkin lah mereka lupa. Kamu kan temen cewek aku satu-satunya yang selalu aku ajak main ke rumah. Bahkan sampai sekarang pun, cuman kamu yang aku ajak ke rumah."
Entah mengapa mendengar ucapan Sandi, Widya merasa sangat senang. Karna ternyata meski Sandi sudah beberapa kali pacaran, tak ada satu pun pacar-pacarnya itu yang diajak ke rumahnya untuk dikenalkan kepada orangtuanya. Bolehkan kalo Widya berharap hanya dirinya yang akan selalu datang ke rumah orangtua Sandi.