
Adzan Shubuh telah berkumandang, yang terdengar sangat jelas dari toa masjid yang memang terletak tak jauh dari rumah Sabitha. Tentu membuat yang mendengarnya pun terbangun dari indahnya mimpi, setelah semalaman tidur. Begitupun Sabitha yang memang terbiasa bangun shubuh, setelah meregangkan otot-otot tangannya dia pun beranjak dari tempat tidurnya dan segera keluar dari kamarnya. Tujuannya adalah kamar mandi, namun karna kamar mandi di rumahnya hanya ada satu dia pun harus menunggu terlebih dulu karna Ayahnya yang duluan masuk.
Sabitha pun menghampiri Ibunya yang masih berada di kamar. Sabitha berniat untuk memberitahukan perihal tawaran pekerjaan yang kemarin Fajar usulkan padanya. Walau bagaimanapun, Sabitha harus jujur pada orangtuanya.
"Bu.."panggil Sabitha di depan pintu, ketika sang Ibu sedang merapikan tempat tidurnya.
"Ya sayang, sini masuk!"ucap ibunya lembut. Sabitha pun masuk dan duduk di pinggir ranjang milik orangtuanya. "Kenapa?"tanya ibunya saat melihat wajah Sabitha yang terlihat bingung.
"Emmm, kemarin aku dipecat bu.."ucapnya lirih dengan menundukkan kepalanya.
Ibu Sabitha terkejut, namun dengan segera merubah kembali raut wajahnya setenang mungkin. Agar Sabitha tak semakin sedih.
"Gak apa-apa sayang, lagipula bukan waktunya kamu untuk bekerja. Seharusnya kamu sekolah, tapi..."ucapan Ibunya tercekat, suaranya bergetar menahan tangis.
"Enggak Bu, aku sendiri yang ingin bekerja. Tapi, karna kesalahanku sendiri aku harus kehilangan pekerjaan. Tapi, ibu gak usah khawatir, soalnya kemarin temen aku nawarin kerjaan."ucapnya dengan semangat.
"Oyah? Kerja apa sayang?"tanya Ibu sembari mengelus rambut Sabitha. Namun, belum sempat menjawab pertanyaan ibunya suara Ayah lebih dulu terdengar. Membuat keduanya menolehkan wajah mereka pada sang Ayah.
"Lah ada apa ini, bukannya shalat malah berbagi cerita."sindir Ayah dengan nada bergurau.
"Ish, tadi kan Ayah masih di kamar mandi. Emm, yaudah Bu aku shalat dulu aja ya. Nanti aku lanjut."Sabitha segera berlari keluar dari kamar orangtuanya menuju kamar mandi untuk berwudhu.
"Kenapa Sabi, Bu?"tanya Ayah yang sudah menggelar sejadahnya.
"Dia baru aja di pecat, tapi katanya ada temennya yang nawarin kerjaan baru sama dia."jelas Ibu.
Ayah hanya manggut-manggut, lalu segera melaksanakan ibadah shalat shubuhnya.
__ADS_1
Tepat pukul 6, Sabitha sudah berpakaian rapi. Dia menghampiri kedua orangtuanya yang sudah berada di ruang makan. Ibunya tengah memasak nasi goreng untuk sarapan mereka. Sedangkan Ayahnya juga sudah siap berangkat kerja.
"Wah, kamu sudah rapi jam segini. Memang mau berangkat kerja sekarang?"tanya sang Ayah melihat kedatangan Sabitha.
"Iya Yah, kemarin temen aku minta aku datang sebelum jam 7. Aku berangkat sekarang ya, Yah Bu."ucapnya sembari meraih tangan kedua orangtuanya bergantian.
"Loh, gak sarapan dulu sayang?"tanya Ibu, yang baru saja mematikan kompor.
"Nanti aja di sana Bu, soalnya aku juga belum tau pasti sih kerjaannya gimana. Kemarin dia cuman bilang, bantuin dia beresin rumahnya. Emm, gak apa-apa kan Yah Bu, kalo aku kerja jadi asisten rumah tangga?"tanya nya hati-hati.
Ayah terlihat menghela nafas berat, sebelum menjawab pertanyaan Sabitha.
"Sebenarnya, kamu gak perlu ikutan kerja Nak. Ayah gak tega lihat kamu kecapean nantinya."ucap ayah sendu.
"Enggak kok, Yah. Aku malahan seneng, aku bisa ngumpulin uang hasil keringatku sendiri untuk biaya kuliahku nanti. Ayah sama Ibu gak usah khawatir, aku seneng kok bisa kerja."ujar Sabitha dengan senyuman semangat, agar kedua orangtuanya tak lagi merasa bersalah.
"Ibu juga, tapi ingat kalo kamu udah gak sanggup jangan dipaksakan ya. Kami orangtuamu, dan kamu masih tanggung jawab kami, untuk membiayai kebutuhanmu."
"Iya, Ayah ibu. Yaudah aku berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum."Sabitha pun segera pergi menuju alamat apartemen Fajar yang memang sudah dia kirimkan padanya.
Lima menit sebelum jam 7, Sabitha baru saja tiba di depan pintu apartemen milik Fajar. Dengan perasaan ragu, setelah menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan akhirnya Sabitha menekan bel yang berada di pinggir pintu apartemen. Dan tak harus menunggu lama, pintu berwarna cokelat tua itu pun terbuka.
"Kirain gak jadi dateng."ucap Fajar sembari membuka pintu dengan lebar, dan mempersilakan Sabitha untuk masuk ke dalam.
"Aku tadi salah naik angkot."jelas Sabitha memberi tahu alasan keterlambatannya.
Sabitha terus mengikuti Fajar, hingga terhenti saat Fajar duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Apartemen Fajar memang tak terlalu besar, hanya ada ruang tamu, dapur, kamar mandi juga satu kamar tidur. Dan juga di samping ruang tamu, ada balkon kecil yang langsung menunjukkan pemandangan jalanan raya yang berada di depan gedung apartemen itu.
__ADS_1
"Jadi apa kerjaan buat aku?"tanya Sabitha langsung.
"Semangat banget kayaknya."ucap Fajar terkekeh. Sabitha pun memutar matanya malas. "Oke, seperti yang kemarin aku bilang sama Kamu. Kerjaannya cuman beres-beres, dan itu juga gak terlalu banyak sih kayaknya. Kamu bisa liat kan keadaan apartemenku, yang gak terlalu besar, tapi ya emang berantakan sih."tunjuk Fajar dengan tatapannya mengelilingi ruangan yang memang terlihat berantakan.
"Emang sebelumnya gak ada yang bantuin buat beresin ni apartemen?"tanya Sabitha heran.
"Gak ada, awalnya sih aku bisa beresin sendiri. Tapi, karna sekarang aku udah mulai aktif ngampus, jadinya ya gak keburu. Keburu capek."jawabnya cuek. Sabitha menatapnya malas.
"Oyah, kamu bisa masak gak?"sambungnya menatap Sabitha yang masih mengamati keadaan apartemen.
"Bisa sedikit-sedikit."jawabnya singkat.
"Kalo gitu, tugas pertama kamu hari ini. Buatin sarapan buat kita. Apa aja deh, bahan-bahannya ada di kulkas."tanpa menunggu lagi, Sabitha pun langsung berlalu menuju dapur dan membuka kulkas untuk melihat bahan apa yang bisa dirinya buat untuk sarapan.
Sabitha memang sering membantu ibunya memasak, jadi beberapa menu masakan rumahan tentu dia dapat membuatnya. Setelah melihat beberapa sayuran dan berbagai bahan makanan yang ada di kulkas, akhirnya Sabitha hanya mengambil sosis dan telur juga beberapa bahan lainnya untuk membuat ommelet.
Tak butuh waktu lama, masakan Sabitha telah siap di meja bar. Aroma khas dari ommelet, tercium sangat wangi membuat Fajar yang tengah menonton acara televisi pun segera bangkit menuju dapur.
"Wangi banget, udah beres kan?"ucap Fajar tiba-tiba sudah berada di depan meja bar yang berada di dapur.
"Udah kok, silakan makan. Aku mau lanjut beres-beres."baru saja Sabitha hendak melangkah, namun suara Fajar menghentikan langkahnya.
"Sarapan bareng sini, beres-beresnya nanti aja."ajak Fajar tanpa menatap ke arah Sabitha karna sudah fokus pada makanan yang ada di hadapannya.
Sabitha pun menurut, karna memang dirinya yang juga merasakan lapar karna belum sarapan. Akhirnya Sabitha dan Fajar sarapan bersama tanpa obrolan di antara mereka.
~lamaa banget gak up.... maafkan yaa
__ADS_1
~makasih buat yang masih mau membaca cerita remahan ini