Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
33


__ADS_3

Akhirnya Sandi pulang bersama Irda, dengan sangat terpaksa. Sedangkan Widya memutuskan untuk pulang menggunakan bus. Setelah Sandi dan Irda pergi meninggalkan area sekolah, Widya pun segera pergi menuju halte. Beruntunglah karna bus yang akan dia tumpangi belum pergi. Dengan segera Widya menaiki bus nya, karna penumpang yang semakin banyak. Widya berjalan pelan mencari kursi yang masih kosong, hingga akhirnya dia menemukan kursi yang masih kosong.


Widya duduk di sebelah pria yang wajahnya ditutupi dengan buku tebal, sedangkan telinganya terpasang earphone yang tersambung dengan Hp miliknya. Pria itu juga memakai topi, sehingga benar-benar menutupi wajahnya. Sebenarnya Widya merasa ragu untuk duduk di kursi itu, hanya karna tinggal kursi itu yang kosong mau tak mau Widya pun duduk di kursi itu.


Tak lama bus yang Widya tumpangi berjalan, karna semua penumpang telah naik. Untuk menghilangkan rasa kantuknya, Widya membuka Hp nya untuk sekedar berseluncur di media sosial. Dan tanpa Widya sadari ternyata pria yang disebelahnya sedang menatap dirinya. Setelah cukup lama, akhirnya Widya pun merasa ada yang memperhatikan dirinya. Dan saat Widya menoleh ke sebelahnya, dirinya merasa kaget. Karna pria yang duduk di sebelahnya itu ternyata orang yang dia kenal.


"Loh, kak Deni?"ucap Widya saat menoleh ke sebelahnya.


"Hai!"sapa Deni tersenyum. "Tumben pulang pake bus?"sambungnya.


"I iya kak, lagi pengen aja. Kakak pulang ngampus?"tanya Widya mencoba tenang, meski sebenarnya dia merasa gugup.


"Enggak, hari ini aku libur. "ucapnya sembari mengalihkan pandangannya ke depan. Begitu juga dengan Widya.


Tak ada lagi yang bicara di antara mereka. Mereka terlalu asik dengan pemikiran mereka sendiri. Ada rasa canggung yang Widya rasakan, entah mengapa Widya selalu merasa malu bila berdekatan dengan Deni.


"Makasih San udah mau nganterin, kamu mau masuk dulu?"ujar Irda setelah tiba di rumah tantenya, Ibu Resni.


"Enggak!"sahut Sandi segera pergi, setelah mengantar Irda hingga ke depan pintu.


"Kamu pasti bisa jadi pacar aku lagi San!"gumam Irda pelan, setelahnya dia masuk ke dalam rumah dengan berjalan normal. Ya, karna tadi dia hanya berpura-pura keseleo untuk bisa pulang bersama Sandi.


Sandi membuka pagar rumah Widya, setelah itu memarkirkan motornya di garasi. Setelah beres dengan motornya, sebelum masuk Sandi mencoba untuk menelfon Widya menanyakan keberadaannya.


📞Sandi calling...


"Hallo, Assalamu'alaikum San!"salam Widya saat sambungan telfonnya telah tersambung.


"Wa'alaikumussalam!Wid kamu pulang pake apa?Sekarang masih dimana?Mau aku jemput aja?"tanya Sandi beruntun tanpa jeda, membuat Widya disana terkekeh mendengarnya.


"Kamu kok malah ketawa sih Wid?"tanya Sandi bingung.


"Kamu tuh udah kayak wartawan aja tau gak, nanya tanpa ada titik sama koma. Aku lagi di bus, bentar lagi nyampe halte nih."jawab Widya.


"Yaudah aku tunggu di halte ya?"


"Gak usah, deket ini ah. Kamu udah di rumah kan?tunggu aja, ngobrol aja dulu sama Bunda."

__ADS_1


"Yaudah, kamu hati-hati ya."Sandi menutup sambungan telfonnya, dan segera masuk ke dalam rumah menemui Bunda.


"Pacar?"tanya Deni setelah Widya menyimpan kembali Hp nya.


"Hah?Oh, bukan kak. Cuman temen."jawab Widya sedikit kikuk.


"Oh kirain pacarnya."ujar Deni tersenyum.


"Mana ada pacar Kak.."ucap Widya lirih, namun masih terdengar jelas oleh Deni.


"Yakin nih gak ada.."goda Deni tersenyum.


"Iyalah Kak yakin, aku emang belum ada pacar. Dan belum ada niatan pacaran juga."ujar Widya menatap Deni.


"Loh kenapa?Bukannya biasanya seusia kamu tuh, lagi seneng-senengnya pacaran ya?"tanya Deni antusias.


"Ya mungkin itu mereka, tapi kalo aku sih ya gak kepikiran kesitu."ujarnya santai.


"Tapi, kalo misalnya ada yang tiba-tiba nembak kamu gimana?Mau kamu tolak gitu?"


Deni mengikuti Widya dari belakang, sengaja tak menyusulnya. Hanya ingin memperhatikan dirinya dari kejauhan, ada rasa penasaran yang Deni rasakan. Entah itu rasa suka atau apa, yang jelas Deni senang bila bersama Widya. Tetapi tak bisa dipungkiri, di hatinya masih ada 1 nama yang selalu menetap di hati nya.


"Assalamu'alaikum!"salam Widya sembari masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumussalam. Anak Bunda kok, baru pulang sih. Kasian loh Sandi daritadi nungguin."ujar Bunda yang tengah menonton tv di ruang keluarga.


"Iya Bunda, tadi Widya naik bus. Sekarang Sandi nya dimana?"tanya Widya sembari mencari keberadaan Sandi.


"Tadi katanya nunggu di rooftop aja. Kamu samperin gih, sekalian bawain makanan. Daritadi disuruh makan, bilangnya nunggu kamu."


"Yaudah, Widya simpen tas dulu. Nanti kita makan di atas aja ya Bun."Widya segera berlari masuk ke dalam kamar, agar segera menemui Sandi.


Di rumah Ibu Resni.


"Assalamu'alaikum!"salam Deni masuk ke dalam rumahnya.


"Wa'alaikumussalam."jawab Bi Darti asisten rumah tangga di sana.

__ADS_1


"Pada kemana Bi, kok sepi gini?" tanya Deni yang kini berada di dapur.


"Ibu sama bapak lagi pergi, Den. Kalo den Doni ada di kamarnya."jawab Bi Darti sembari memberikan minuman dingin pada Deni.


"Oh, yaudah aku ke kamar dulu ya Bi."ujarnya setelah menghabiskan minumannya.


"Oya Den, ada Non Irda di taman belakang."


"Oyah?Yaudah makasih Bi."Deni mengurungkan niatnya untuk ke kamar, dan lebih memilih menghampiri Irda.


Saat tiba di taman belakang, Deni melihat Irda yang sedang duduk di kursi yang membelakangi dirinya. Deni berjalan mengendap ngendap, berniat mengejutkan Irda. Mereka memang dari kecil sudah sangat dekat, meski kadang sering bertengkar namun itu bukanlah hal yang serius.


"WOY!"teriak Deni menepuk pundak Irda.


"Kodok jalan bukan lompat!!"teriak Irda kaget.


"Eh, sejak kapan kodok jalan?"tanya Deni tertawa.


"Ya ampun ih bikin kaget aja tau gak?!"ujar Irda kesal.


"Ya namanya juga emang bikin kaget kan, wajar dong kalo kamu kaget. Eh, sejak kapan itu kodok jalan?"ujar Deni yang kini duduk di sebelah Irda.


"Sejak kini!Dari mana sih bang?Daritadi aku disini sendirian."tanya Irda manja.


"Kan ada Doni, kenapa malah sendirian disini?"


"Doni mah gak asik, dia malah asik aja ngamar kayak anak cewek. Tapi, aku juga cewek gak ngamar terus ah."


"Lah, udah dong sewot mulu. Udah makan belum?"tanya Deni sembari mencubit kedua pipi Irda gemas.


"Ish, sakit woy!Belum, abisnya tuan rumah nya gak peka sih. Ada yang dateng malah dicuekkin."ujar Irda mengerucutkan bibirnya.


"Gak usah lebay deh, kamu mah bukan tamu. Kalo mau makan atau minum tinggal ambil aja kali. Yaudah yuk kita makan. Aku juga laper nih!"Deni pun beranjak dari tempat duduknya diikuti Irda yang menggelayut manja di lengan Deni.


Baruu bisa up lagiii


tetep like dan vote nyaa yaa

__ADS_1


__ADS_2