
Kelas pertama Widya baru saja selesai, dan karna masih ada 1 jam waktu kosong sebelum masuk kelas kedua Widya pun memilih untuk pergi ke perpustakaan. Widya memilih untuk mempelajari materi yang ada di kelas bisnis, agar nanti saat dirinya mulai masuk jurusan itu sudah tak lagi bingung.
Evan yang juga sama-sama akan menuju perpustakaan, diam-diam mengikuti Widya dari belakang. Hingga akhirnya mereka berdua pun masuk ke dalam perpustakaan. Widya merasa kaget saat tiba-tiba Evan ada di sampingnya saat menulis buku absen di meja penjaga. Namun, karna Evan bersikap cuek, Widya pun memilih untuk tak menghiraukannya. Widya segera melangkah menuju lorong dimana rak buku-buku tentang bisnis berada.
Setelah mendapatkan buku yang dia butuhkan, Widya pun mencari tempat untuk dirinya membaca. Namun, bukannya mendapatkan kursi kosong Widya malah melihat sesuatu yang membuat hatinya kembali merasa sakit. Di depannya kini, Widya melihat Sandi tengah duduk bersama Irda dengan sangat dekat. Sandi tak menyadari keberadaan Widya, karna dirinya tengah serius berdiskusi dengan Irda.
Yang membuatnya semakin sakit saat Irda dengan santainya menjahili Sandi dengan memainkan telinganya menggunakan tisu yang sudah dirinya gulung terlebih dahulu. Dan perbuatannya itu sama sekali tak membuat Sandi merasa terganggu ataupun marah. Malah terkesan menikmatinya, karna Sandi malah tertawa meski tak keras. Widya tak suka melihat keakraban Sandi juga Irda, hatinya merasa sakit juga takut. Akhirnya Widya memilih untuk pergi, namun saat dirinya membalikkan badannya Widya malah menabrak seseorang yang kebetulan lewat di belakang Widya.
Karna tak siap, Widya pun terjatuh hingga menimbulkan suara yang cukup keras karna buku-buku yang dirinya pun terjatuh. Membuat orang-orang yang berada di sekitarnya sontak melihat ke arahnya, termasuk Sandi juga Irda.
"Widya?!"pekik Sandi dan Irda saat melihat Widya sudah terduduk di hadapan meja mereka. Sandi langsung beranjak dari kursinya dan segera menghampiri Widya untuk membantunya berdiri.
"Wid, kamu gak apa-apa?"tanya Sandi begitu dirinya berada di sampinh Widya.
"Gak apa-apa kok San."jawab Widya lirih. Sandi pun membantu Widya untuk bangun.
"Kamu kok bisa jatuh Wid?"Widya pun hanya meringis, karna ternyata orang yang tadi bertabrakan dengan dirinya sudah tak ada.
"Wid, kamu gak apa-apa?"tanya Irda yang datang menghampiri.
"Gak apa-apa."jawab Widya tersenyum canggung, karna orang-orang masih melihat ke arahnya.
"Yaudah yuk duduk di sana,"ajak Sandi menarik tangan Widya agar mengikutinya. "Kamu masih ada kelas Wid?"tanya Sandi begitu mereka duduk.
"Masih, tapi nanti."jawab Widya singkat. Hatinya masih merasa tak enak.
__ADS_1
"Selesai jam berapa?"
"Jam 3an. Ada kelas tambahan juga soalnya."
"Nanti pulang bareng ya,"ucap Sandi yang dijawab anggukan oleh Widya. Irda yang mendengar obrolan mereka mendelik tak suka, tapi dia memilih untuk kembali fokus pada tugasnya.
*
*
*
Tepat jam 10, Fajar sudah berada di depan rumah Sabitha. Hari ini, Fajar ingin mengajak Sabitha pergi ke tempat bermain yang cukup terkenal di Bandung tepatnya berada di sebuah mall yang cukup besar di kota Bandung. Karna dari cerita yang Fajar dengar, Sabitha belum pernah datang ke tempat itu.
Setelah merapikan sedikit tampilannya, juga merapikan rambutnya yang tadi tertutup helm Fajar pun turun dari motornya dan segera membuka pagar rumah Sabitha. Meski jantungnya bekerja lebih cepat karna gugup, tapi Fajar berusaha untuk menetralkan kembali debaran jantungnya. Setelah tiba di depan pintu rumah Sabitha, belum dirinya mengetuk pintu berwarna cokelat itu sudah ada yang membukanya dari dalam.
"Assalamu'alaikum Tante."salamnya dengan senyuman manis yang cukup lebar.
"Wa'alaikumussalaam. Siapa ya?"tanya Ibu Sabitha ramah meski dengan raut wajah yang bingung.
"Aku Fajar Tante, temannya Sabitha."ucap Fajar memperkenalkan diri dengan setenang mungkin, agar tak terlihat gugup.
"Ouh, mari masuk Nak. Maaf, ibu tak tahu karna jarang ada yang bertamu ke sini. Silakan duduk."Fajar pun masuk dan duduk di sofa tunggal yang berada di ruang tamu yang hanya bersekatkan lemari dengan ruangan sebelahnya.
"Sebentar ya, Ibu panggilkan dulu Sabitha nya."ibu Sabitha pun segera menghampiri Sabitha yang masih berada di kamarnya.
__ADS_1
Di kamarnya, Sabitha baru saja selesai memakai bajunya. Penampilannya tetap sederhana, hanya dengan memakai kaos polos berwarna putih yang dipadukan dengan cardigan hitam dan bawahan celana kulot senada dengan cardigan yang dipakainya. Rambutnya sengaja dia gerai karna masih setengah basah. Dan dia juga hanya memakai bedak tipis juga liptin dengan warna yang tak terlalu begitu mencolok.
"Nak, ibu masuk ya!"ucap Ibu Sabitha sebelum membuka pintu kamar Sabitha. "Kamu udah siap sayang? Itu temennya sudah datang."ujar ibu seraya menghampiri Sabitha yang masih bercermin merapikan rambutnya.
"Oyah? Ontime banget."gumam Sabitha lirih.
"Apa dia orang yang sudah memberikan kamu pekerjaan?"tanya Ibu Sabitha lembut.
"Iya Bu, dia Fajar. Gak apa-apa kan kalo hari ini aku pergi sama dia? Katanya sih karna aku libur, jadi harua temenin dia."ucap Sabitha jujur.
"Iya gak apa-apa sayang. Asal kamu tetap hati-hati dan jangan terlalu malam ya pulangnya.
"Iya bu, siap. Oyah, tadi aku belum sempat ijin sama ayah. Tolong ibu bilangin yaa kalo ayah udah pulang nanti."ujar Sabitha tersenyum lebar.
"Iya sayang, ya sudah ayo cepet temuin itu Fajarnya. Ibu bikinkan minum dulu."
"Eh, gak usah bu. Kayaknya kita juga langsung berangkat aja deh, biar gak kemaleman juga kan pulangnya kan nanti."
"Yasudah kalau begitu. Ayo kita ke depan."Ibu dan Sabitha pun keluar dari kamar dan menghampiri Fajar.
Begitu Sabitha datang dan berdiri di hadapannya, Fajar seolah terpaku karna melihat penampilan Sabitha yang baginya sangat cantik. Meski hanya penampilan sederhana, namun mampu membuat debaran jantungnya kembali terdengar cukup jelas. Untung saja Sabitha tak bisa mendengarnya karna posisinya yang berdiri di depannya cukup jauh. Tatapannya pun tak lepas bahkan tak berkedip, yang terus saja menatap wajah Sabitha.
Ibu Sabitha yang melihatnya pun hanya mengulum senyum maklum. Sedangkan Sabitha yang ditatap seperti itu juga merasa salah tingkah. Namun, dia berusah untuk bersikap tenang dengan memanggil nama Fajar membuat lamunan Fajar pun buyar.
"Fajar!"panggil Sabitha cukup keras, membuat Fajar pun tersentak kaget.
__ADS_1
"Eh, udah siap?"reflek Fajar langsung berdiri. Setelah menyadari sikap konyolnya, Fajar pun tersenyum malu sembari mengusap tengkuknya. Merasa tak enak karna Ibu Sabitha kini menatapnya dengan senyuman geli.