
"Kenapa gak tinggal disini aja sama tante?Daripada ngekost, tante khawatir."
"Tinggal disini?Emm, maaf ya tante bukannya Irda gak suka. Cuman kayaknya gak deh tan, hehe"jawab Irda cengengesan.
"Loh kenapa?"tanya Ibu Resni heran.
"Ya, kan Irda mau belajar mandiri tante." ucap Irda dengan nada manja. "Kalo aku tinggal disini, bakalan gak bebas dong aku maen malem nya, apalagi pacarna heum, gak deh!Bisa-bisa tante ngadu lagi sama Papa!"gumam Irda dalam hati.
"Iya deh, tante gakkan maksa. Asal kamu bisa jaga diri, dan kalo ada apa-apa dateng aja kesini ya!" ucap Ibu Resni pada akhirnya.
"Siap tante!"ucap Irda, menempelkan tangannya di keningnya.
"Selamaat!" gumam Sandi dalam hati, tersenyum lega.
Di rumah Widya
"Sandi betah banget sih di rumah sebrang, ngapain coba ih?!"gerutu Widya, yang kini sedang mengintip di jendela kamarnya. Kebetulan view nya tepat bersebrangan dengan rumah Ibu Resni.
Widya terus saja mondar mandir, sambil terus melihat ke rumah seberang dari jendelanya. Widya sangat tak suka, melihat Sandi terus bersama Irda. Meski tau mereka pacaran, hanya saja Widya sangat merasa tak suka. Dia pun tak bisa mengutarakan perasaannya. Makin tak suka kan.
Hingga akhirnya, Widya melihat Sandi dan Irda keluar dari rumah Ibu Resni. Iya, akhirnya mereka pulang.
"Hugh pulang juga!Awas ya kamu San, kalo nanti gak kabarin aku ih!"gumam Widya. Dia pun memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya.
"Sandi, kenapa sih kita harus sahabatan gini?Kan akunya jadi serba salah. Aku sayang sama kamu, tapi aku gak bisa jadi pacar kamu. Bisanya cuman jadi sahabat. Heummm...Andai kamu juga mau jadi pacar aku!"Widya terus bergumam sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Tapi, salah gak sih kalo aku ngarep kayak gini?Aku juga gak tau, sejak kapan aku malah jadi suka sama kamu San. Agh rasanya sesek San, liat kamu sama dia"gumam Widya lirih sembari memeluk guling miliknya.
Kostan Irda
"Makasi ya Sayang udah anterin aku!" ucap Irda, yang baru saja turun dari sepeda motor milik Sandi.
"Iya, sama-sama."ucap Sandi yang juga turun dari sepeda motornya.
__ADS_1
"Jangan lupa loh, besok sekolah jemput aku ya!"ucap Irda yang mulai manja.
"Iya, aku usahain. Soalnya kan hari pertama suka males bawaannya."jawab Sandi enteng.
"Lah kamu mah, jangan males dong sayangku!"seru Irda sembari mencolek dagu Sandi.
"Yaudah ah, aku pulang dulu ya. Besok istirahat aja, biar nanti masuk sekolah fresh!"ujar Sandi sembari berdiri dari kursi yang tadi didudukinya.
"Iya sayangku!Yaudah, kamu hati-hati ya. Kabari aku kalo udah sampe!"
"Iya, bye!"Seru Sandi yang mulai menjauh dari hadapan Irda.
......................
Akhirnya tiba waktunya Widya dan teman-temannya kembali masuk ke sekolah tercinta. Widya kini sedang bersiap-siap di kamarnya. Widya sudah rapi dengan seragam barunya, dia juga sudah menyiapkan buku-buku yang akan dia bawa dalam tasnya. Widya tengah duduk di kursi meja riasnya, tentu bukan untuk berdandan, Widya hanya memakai bedak bayi dan juga liptin yang warnanya nyaris sama dengan warna asli bibirnya.
Begitu juga dengan Sandi yang juga sedang bersiap-siap di kamar kost nya. Sebenarnya dia malas, tak ingin pergi menjemput Irda. Inginnya dia pergi menjemput Widya seperti dulu, sebelum adanya Irda diantara mereka. Namun, Sandi juga tak enak hati bila harus memutuskan hubungannya sekarang.
"Pagi Ayah, pagi Bunda ku tersayang!"sapa Widya saat tiba di ruang makan.
"Pagi juga cantik!"ucap Ayah yang juga mencium kening Widya.
"Semangat sekali, gak biasanya kamu?"seru Ayah Widya, yang tengah membaca koran.
"Semangat dong Yah, kan ini hari pertama sekolah lagi." seru Widya sembari mengoleskan selai cokelat pada roti yang dia ambil.
"Loh, kamu kok makan roti sih sayang?Bunda kan udah bikin nasi goreng itu."tanya Bunda.
"Widya sarapan roti aja deh Bun, lagi pengen. Hehe"ucapnya sambil memakan roti nya.
"Yauda tapi 2 ya, biar kuat!"seru Bunda memberi lagi roti yang sudah diolesi selai cokelat kesukaan Widya.
"Siap Bunda!"Widya langsung memakan rotinya dengan lahap.
__ADS_1
"Mau ayah anterin atau berangkat sendiri sayang?"tanya Ayah yang juga sudah mulai memakan sarapannya.
"Kalo berangkat sendiri boleh kan?"jawab Widya tersenyum.
"Boleh aja, mau bawa mobil sendiri?"tanya Ayah lagi.
"Enggak, Widya mau naik bus aja Ayah. Gak apa-apa kan?"ucap Widya memasang wajah memelasnya.
"Kenapa naik bus? Kamu bawa mobil aja sayang."ucap Bunda merasa khawatir.
"Gak mau Bunda, ribet kalo harus bawa mobil sendiri. Mending naik bus, seru!"ucapnya penuh semangat.
"Yaudah gak apa-apa Bun, biarin aja. Tapi, kamu harus hati-hati ya!Jangan main Hp kalo masih dalam bus."ucap Ayah.
"Siap Ayah!Yaudah, Widya berangkat sekarang ya biar gak telat."Widya pun beranjak dari tempat duduknya setelah menghabiskan roti dan susunya, segera mencium tangan Ayah dan Bundanya.
Padahal semalam, Fajar sudah menawarkan diri untuk menjemputnya hanya saja Widya sudah bertekad akan menaiki bus menuju sekolahnya. Widya memang mempunyai mobil sendiri, namun tak pernah dia pakai. Terlalu ribet katanya.
Widya pun sampai di halte bus yang berada di dekat rumahnya. Suasana di halte sangatlah ramai, banyak yang sedang menunggu kedatangan bus berwarna biru itu. Ada yang mau pergi ke kantor, kampus, pasar juga ke sekolah sama seperti Widya. Saat tiba datangnya bus, hampir semua yang menunggu berebut untuk dapat menaiki bus terlebih dahulu. Jadinya saling dorong mendorong, Widya pun kesulitan saat hendak masuk ke dalam bus nya, hingga ada seseorang yang membantunya untuk segera masuk ke dalam bus.
Seorang pemuda yang usianya diatas Widya yang telah membantunya dapat masuk ke dalam bus itu. Pemuda itu belum juga melepaskan genggamannya sampai akhirnya mereka mendapatkan tempat duduk. Setekah mereka duduk, barulah pemuda itu melepaskan genggamannya dari tangan Widya. Widya pun sempat terpana setelah melihat dengan jelas wajah pemuda yang telah membantunya itu.
"Ma.. makasih ya Kak!"ucap Widya sedikit gugup.
"Santai."ucapnya singkat, namun memberikan senyuman manis pada Widya.
"Ya ampun manis banget sih senyumnya!"batin Widya, membalas senyumannya.
"Hei, kok malah bengong?"ucapnya mengibaskan tangannya di depan wajah Widya, yang masih tersenyum menatap pemuda itu.
"Eh, maaf maaf!"ucap Widya tersadar dari lamunannya. "Ih malu maluin!"gumamnya dalam hati, sembari mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
Pemuda itu pun hanya tersenyum, melihat tingkah Widya. "Lucu."gumamnya dalam hati.
__ADS_1
like komen yaa teman teman🙂