Mencintai Sahabatku Sendiri

Mencintai Sahabatku Sendiri
21


__ADS_3

Widya dan Fajar kini sedang berjalan-jalan di taman kota, setelah tadi berpamitan kepada Bunda. Tadinya Fajar ingin mengajak Widya pergi ke mall, namun Widya menolak takut kalap katanya.


"Eh, Jar gimana orangtua kamu di sana? Kenapa baru juga 5 hari udah balik lagi ke sini?"tanya Widya, saat mendudukkan dirinya di bangku panjang yang ada di taman.


"Alhamdulillaah baik kok. Ya bosen aja sih, di sana aku juga gak terlalu banyak temen. Jadi ya mending balik ke sini aja, bisa maen sama kamu kan?"goda Fajar dengan senyuman genitnya.


"Ish ada-ada aja kamu tuh. Harusnya seneng dong bisa kumpul sama orangtua."


"Ya emang seneng sih, tapi di sana juga aku emang sendirian Wid. Orangtua ku sibuk sama kerjaannya."jelas Fajar.


"Oh mereka berdua kerja? Maksud aku, ibu kamu juga kerja?"


"Iya, mereka di sana kan punya penginapan gitu. Ya walaupun banyak pegawai, tapi mereka tetep turun tangan juga. Terus kamu sendiri beneran gak kemana-mana nih?"


"Iyalah, gak kemana-mana. Baru kemarin sama hari ini aja aku kekuar rumah."


"Oya? Emang kemana kemarin?"


"Ya cuman ke M*D aja sih sama Sandi."


"Sandi? Lah dia juga udah balik lagi?"


"Iya. Ya sama lah kayak kamu gitu, katanya bosen sepi di rumah." Fajar hanya ber oh saja, sembari menatap ke arah lain. Ada perasaan tak suka, bila Widya bersama Sandi.


Di kostan Irda


"Sayang, kamu kapan balik ke sini? Aku tuh kangen tau..."ucap Irda yang kini sedang menelfon Sandi.


"Ya paling minggu depan Da. Aku kan juga pengen kumpul sama orangtua aku."jawab Sandi berbohong.


"Iya sayang, tapi aku pengen ketemu. Apa aku dateng ke rumah orangtua kamu aja gimana? Ya sekalian ketemu sama orangtua kamu juga,"


"Gak usah Da. Gak enak dong masa perempuan yang dateng ke rumah cowok? Kamu sabar yaa, nanti kita juga ketemu lagi kok!"


"Heumm yaudah deh, aku bakalan tunggu kamu."ucap Irda lesu.


"Emang kamu gak pulang ke rumah orangtua kamu?"


"Pulang, tapi cuman 2 hari aja. Soalnya bosen, udah terbiasa tinggal di kostan sih."


"Heumm kamu ini, masa gitu sih? Orangtua kamu kan pasti pengen sama-sama kamu."


"Iyaa sih. Emmm ya paling nanti aku pulang lagi ke rumah kalo udah mendekati masuk sekolah."


"Yaudah, udah dulu ya Da. Aku mau mandi dulu nih."


"Yaudah, miss you sayang."


Sandi tak membalas ucapan Irda, dan langsung mematikan sambungan telfonnya. Meski ada perasaan bersalah, namun Sandi pun tak bisa membohongi perasaannya yang tak bisa membalas perasaan Irda. Akhirnya Sandi mengirimkan pesan pada Widya, berniat untuk mengajaknya jalan.

__ADS_1


Sandi


Wid, kamu lagi apa? Jalan yuk!


^^^Widya^^^


^^^Aku lagi di luar San.^^^


"Kenapa Wid?"tanya Fajar, saat Widya tiba-tiba bengong.


"Eh, gak apa-apa kok!"jawab Widya sembari memaksakan senyumnya.


"Kalo gak apa-apa, dimakan dong makanannya bukan diliatin aja kayak gitu."


"Eh iya lupa!"Widya pun memasukkan makanan yang ada di depannya.


Sandi::


Di luar di mana? Sama siapa?


^^^Widya^^^


^^^Lagi jalan sama Fajar San. Kalo mau main, ke rumah aja. Bentar lagi juga aku pulang kok.^^^


Sandi yang membaca balasan pesan dari Widya berdecak keras tak suka. Ada perasaan panas yang dia rasakan di hatinya, juga perasaan kesal.


"Ah ngapain sih si Fajar ngajak jalan terus Widya? Bukannya dia lagi liburan di Bali ya? Apa jangan-jangan si Fajar naksir lagi sama Widya?" gerutu Sandi kesal tanpa mau membalas kembali pesan dari Widya.


Sebelumnya Fajar telah memberikan sesuatu yang dia bawa khusus dari Bali untuk Widya. Fajar meminta Widya untuk membukanya setelah Fajar pulang. Dan Kini, Widya sedang berada di kamarnya untuk membuka apa isi dari kotak yang diberi Fajar tadi.


"Apa ya ini, jadi penasaran. Buka ah!"gumam Widya sambil membuka kotak hadiah yang diberikan oleh Fajar.


"Widya!"Teriak Bunda dari luar.


"Ish, bikin kaget aja!Iya bunda!"ucap Widya, reflek melepas kembali kotaknya. Bergegas menghampiri Bundanya. "Kenapa bunda?"tanya Widya saat tiba dihadapan Bunda, setelah membuka pintu kamarnya.


"Ikut Bunda yuk, katanya rumah yang di depan udah ada yang ngisi, kita kenalan sama tetangga baru. Kebetulan Bunda tadi bikin kue banyak, kita kasih sama tetangga baru."ajak Bunda semangat.


"Kenapa gak sama Ayah, Bunda?Widya kan capek, baru pulang ih!"Widya pun memasang wajah lesu nya.


"Ish, cuman bentaran doang. Ayah kamu lagi pergi sama temen-temen mancing nya. Udah hayu ah!"Bunda pun menarik tangan Widya untuk segera berkunjung ke rumah tetangga barunya.


"Assalamu'alaikum!"salam Bunda saat tiba di depan pintu rumah tetangganya.


"Iya, sebentar!" terdengar suara seseorang dari dalam rumah.


"Bun, aku pulang aja ya!"rengek Widya pada Bunda.


"Ssstt, itu udah ada yang buka!"bisik Bunda ketika mendengar suara kunci di putar.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam!Iya, bisa saya bantu?"ucap seorang wanita seumuran Bunda, saat membukakan pintu.


"Maaf, kami dari rumah depan. Kenalkan saya Novie, dan ini anak saya Widya."ucap Bunda mengulurkan tangannya dengan senyuman ramahnya.


"Oh, senangnya. Mari masuk jeng, maaf masih berantakan, soalnya belum sempet diberesin semua!Silakan masuk!"ucapnya semangat, setelah menjabat tangan Bunda dan Widya. Bunda juga Widya pun kini masuk dan duduk berhadapan dengannya.


"Oiya, gak apa-apa kok!Saya paham, yang namanya baru pindahan kan gini ya, capek beberesnya!"ucap Bunda tersenyum yang juga dibalas oleh wanita itu.


"Iya bener, oiya kenalkan saya Resti. Sebentar ya, saya bikinkan minum dulu."


"Aduh gak usah repot-repot, kami cuman sebentar aja kok. Sekalian ini tadi saya bikin kue, semoga saja jeng Resti dan keluarga suka."Bunda pun menyerahkan kotak berisi kue itu.


"Adu makasih loh ya. Udah repot-repot bikin kue segala. Tapi, saya seneng loh punya tetangga seperti jeng Novie ini."


"Iya sama-sama, gak repot kok jeng. Saya juga senang punya tetangga baru, soalnya kan rumah ini udah agak lama kosongnya."


"Iya, sebenernya sih kita udah lama beli ini rumah. Hanya saja baru bisa pindah sekarang."


"Oh seperti itu. Jeng Resti disini sama siapa saja?"


"Saya sama suami dan 2anak saya, tapi sekarang mereka lagi pada keluar."


"Ouh gitu, yasudah kalo gitu saya permisi dulu ya jeng. Kalo ada apa-apa, jeng Resti bisa datang ke rumah, tuh yang di depan." ucap Bunda berdiri dari tempat duduknya, diikuti Widya.


"Kok buru-buru, padahal sebentar lagi suami sama anak-anak pasti pulang."


"Gak apa-apa, nanti kita bisa kenalan sama ngobrol-ngobrol lagi. Yaudah kita permisi dulu ya jeng!"ucap bunda pamit, setelah cipika cipiki dengan ibu Resti.


Bunda sangat senang mendapat tetangga baru. Berbeda dengan Widya yang sejak tadi menekuk wajahnya karna merasa lelah dan bosan. Setelah pulang dari rumah Ibu Resti, Widya pun segera masuk ke dalam kamarnya. Widya lupa akan kotak yang tadi akan dia buka, Widya malah lebih memilih untuk segera memanjakkan matanya, alias tidur.


Di rumah Ibu Resti


"Assalamu'alaikum!Pria-pria ganteng pulang!"teriak seorang pria paruh baya dengan penuh semangat.


"Idih, ayah kok PeDe banget sih?"ucap seorang pemuda, dengan memasang wajah mual.


"Iya nih, kalo kita sih emang ganteng ya kan Bang?"seru pemuda satu lagi yang usianya lebih kecil.


"Lah, kalian mah. Kalian ganteng juga karna gen dari Ayah lah!"ucapnya dengan bangga.


"Wa'alaikumussalam!Hush, ada apa sih ini dateng-dateng malah ribut!" ucap ibu Resti menghentikan perdebatan suami juga kedua anak-anaknya.


"Ini loh Bu, mereka gak mau ngakuin kalo ayah lebih ganteng dari mereka ini!"seru suami ibu Resti yang bernama Agam.


"Ayah emang ganteng, tapi itu beberapa tahun yang lalu. Iya kan Bu?" ucap Deni, anak pertama Ibu Resti dan Ayah Agam.


"Hush ah, udah ngapain sih malah pada narsis!Pokoknya, diantara kalian Ibu yang paling cantik!"ucap Ibu Resti, melenggang pergi meninggalkan mereka yang ternganga tak percaya.


"Ternyata ibu narsis juga ya, Bang?!" ucap Doni adiknya Deni.

__ADS_1


"Udah, gak usah bengong gitu!"ucap ayah Agam, yang langsung menyusul Ibu Resti masuk.


__ADS_2