
Di tengah perjalanan, Sandi menepikan sepeda motornya di sebuah warung yang menjual beberapa macam makanan untuk oleh-oleh. Widya yang meminta untuk membeli, bukan untuk oleh-oleh. Tetapi memang dirinya yang menginginkan.
"Kamu mau beli buat Ayah sama Bunda?"tanya Sandi saat mereka sudah berada di depan warung.
"Enggak, aku emang pengen beli buat aku aja."jawabnya polos.
"Lah kirain buat oleh-oleh."ucap Sandi menggelengkan kepalanya.
"Emang kenapa, gak boleh?Aku kan emang suka banget sama peuyeum, rasanya tuh asem-asem manis tau gak, enak pokoknya!"ucap Widya dengan menelan air liurnya yang mendadak banyak. (Ish -_!)
"Iyaa iya aku tau kok, yaudah silakan kamu beli sepuasnya aja biar aku yang bayar!"ujar Sandi tersenyum.
"Yakin nih?"tanyanya menatap dengan berbinar.
"Yakin lah, kenapa harus gak yakin coba?Aku aja yakin sama kamu,"ucapnya dengan senyuman yang menggoda.
"Hah maksud kamu?"Widya merasa kurang yakin dengan apa yang didengarnya barusan.
"Eh, enggak kok. Udah buruan pilih keburu macet nanti"elak Sandi mengalihkan pembicaraan tadi.
Setelah selesai membeli makanan yang menjadi favoritnya, Sandi dan Widya kembali melanjutkan perjalanan mereka. Dengan senyuman yang tak pernah lepas dari kedua bibir mereka.
Menjelang siang, akhirnya Widya dan Sandi tiba di rumah Widya. Saat mereka tiba di depan rumah Widya, bertepatan dengan Ibu Resni yang membuka pagar rumahnya hendak berkunjung ke rumah Widya.
"Eh, nak Widya baru pulang?"tanya Ibu Resni saat berada di hadapan Widya dan Sandi yang masih berada di atas motornya.
Widya pun turun dari motor Sandi, dan mencium tangan ibu Resni. "Iya tante, mau ketemu Bunda?"tanya Widya sopan.
"Iya, kami sudah janjian mau masak bareng."jawab Ibu Resni dengan senyumannya yang hangat.
"Oh gitu, yaudah mari masuk Tan!"Widya pun membuka pagarnya dan masuk diikuti ibu Resni juga Sandi.
Widya dan Ibu Resni masuk terlebih dulu, karna Sandi yang harus memarkirkan sepeda motornya dulu. Widya langsung mengajak ibu Resni menuju dapur. Karna Widya yakin Bundanya itu pasti sedang berada di dapur.
"Assalamu'alaikum!"ucap Widya seraya menghampiri bunda Novie yang tengah menyiapkan beberapa bahan sayur juga daging untuk dimasak.
"Wa'alaikumussalam!Eh, anak Bunda udah pulang. Loh, jeng Resni udah dateng juga."sapa Bunda sembari cipika cipiki bersama ibu Resni, melupakan Widya yang berdiri di samping mereka.
"Iya, tadi kebetulan papasan sama Widya di depan."jelas ibu Resni.
"Bun itu di depan ada Sandi,"ucap Widya.
__ADS_1
"Oyah, yasudah kamu kasih minum dulu. Nanti Bunda ke sana."Widya pun segera mengambil minuman segar untuk Sandi. Lalu kembali ke ruang tamu menemui Sandi.
"Mereka pacaran?"tanya ibu Resni, setelah Widya berlalu meninggalkan dapur.
"Setau saya sih enggak, hanya saja mereka memang sudah sangat dekat sejak mereka kecil."jelas bunda Novie.
"Oh begitu, pantas saja mereka memang terlihat sangat dekat."
"Yah apapun hubungan mereka, saya akan selalu mendukung mereka. Karna saya juga sudah sangat mengenal Sandi. Lagian yang namanya jodoh kan kita gak pernah tau,"ungkap bunda Novie.
"Iya betul, seperti anak saya tuh Deni. Dulu dia pernah pacaran, lama. Cuman ya mungkin memang gak jodoh, mereka malah putus di tengah jalan."keluh ibu Resni sendu.
"Yah mudah-mudahan saja kelak nak Deni mendapatkan jodohnya yang memang baik untuknya."do'a Bunda Novie tulus.
"Aamiin. Makasih loh jeng Novie."
"Iya, yasudah maaf ya saya tinggal sebentar ke depan. Saya mau nemuin dulu anak saya,"
"Iya gak apa-apa, silakan jeng. Biar saya siapkan dulu bahan-bahan yang akan kita buat!"
"Baiklah!"bunda Novie keluar dari dapur dan menghampiri Widya juga Sandi di ruang tamu.
"Wid, kamu kok makan sendirian aja sih itu peuyeum nya?"tegur Sandi saat Widya asik memakan peuyeumnya dengan nikmat.
Sebelum Sandi menjawab, suara bunda Novie sudah lebih dulu bertanya pada Widya. "Mau apa nih?"tanya bunda Novie menghampiri Widya juga Sandi.
"Bunda,"Sandi segera memeluk bunda Novie erat. "Kangen deh sama Bunda,"sambungnya.
"Ish kumat deh manjanya!"cibir Widya mendelik.
"Biarin!"Sandi menjulurkan lidahnya menggoda Widya.
"Sudah sudah, gimana kabar orangtua kamu San?"Bunda melepaskan pelukannya dan membawa Sandi duduk di sofa seberang tempat Widya duduk.
"Alhamdulillaah mereka sehat kok Bun, mereka juga titip salam buat Ayah sama Bunda."
"Wa'alaikumussalam. Syukurlah kalo mereka sehat. Widya, kebiasaan kamu yaa!Makan peuyeum malah asik sendiri gitu, sisain lah buat ayah kamu!"Ayah Irwan memang sama-sama menyukai peuyeum seperti Widya.
"Iya Bun, tenang aja. Udah aku pisahin kok buat ayah."jawabnya sembari masih asik dengan peuyeumnya.
"Yasudah kalo gitu, Sandi Bunda tinggal dulu ya. Bunda mau masak, kita makan sama-sama nanti!"
__ADS_1
"Iya Bunda, Sandi kangen banget sama masakan Bunda!"
"Iya, nanti kamu bebas makan sepuasnya tenang aja!Widya, sudah makan peuyeumnya!"tegur bunda, lalu beranjak menuju dapur.
"Iya Bunda,"Widya pun menyimpan sisa peuyeumnya.
Di lain tempat, Irda dan Erick baru saja selesai membereskan barang-barang Irda. Kini mereka tengah menunggu mobil yang akan mengangkut semua barangnya menuju rumah kedua orangtua Irda.
"Makasih ya Rick udah bantuin,"ucap Irda tulus.
"Sama-sama. Tapi, sesuai kesepakatan kalo aku bantuin kamu harus bayar oke!"
"Heumm, emang aku harus bayar berapa?"
"Aku cuma pengen besok kamu seharian sama aku!"
"Hah?Seharian sama kamu maksudnya?"
"Ya, besok pagi aku jemput dan kita jalan kemana pun terserah aku. Dan kamu gak boleh protes!"
"Heumm, maksa banget sih!Tapi, yaudah aku terima, daripada bete diem di rumah aja."
"Nah gitu dong!Eh, tuh mobilnya datang."
Erick dan Irda pun membantu memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil yang memang dikirim oleh Papanya Irda. Setelah semua barang masuk ke dalam mobil, Irda pun menyerahkan kunci kamarnya pada pemilik kostannya. Setelah berpamitan, Erick mengantar Irda pulang ke rumah orangtuanya.
Rumah Ibu Resni
"Don, Ibu kemana?"tanya Deni yang baru saja pulang dari kampus.
"Lagi masak di rumah tante Novie."jawab Doni tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel pintarnya.
"Oh, terus kamu kenapa jam segini udah nyantai aja?"tanya Deni membuat Doni nyengir memamerkan deretan gigi putihnya.
"Pasti bolos lagi ya?Ada apa sih sebenernya?Gak mau cerita sama abang?"pertanyaan beruntun yang Deni lontarkan pada adik satu-satunya itu.
"Ish si abang mah, aku tuh bukan bolos bang. Cuman ijin doang,"jawabnya polos.
"Ijin?Ijin ngapain?"tanya Deni bingung.
"Ijin pulang cepat, udah ya Bang aku ke kamar dulu!"Doni segera berlari ke kamarnya sebelum kakaknya itu kembali bertanya yang lebih padanya.
__ADS_1
"Dasar bocah!"Deni pun bergegas menuju ke kamarnya.