
Alan tersenyum lalu duduk di samping Naila, namun matanya memenjara Anastasia.....
"Main apa sih anak papa ini."? bisik Alan gemas dan mengecup dahi putrinya,
Naila tertawa senang lalu menatap ke arah Ana, mereka bermain boneka barbie dan Ana adalah teman bermain yang menyenangkan...
"Ayah...kami bermain boneka, apakah kakak Ana bisa tinggal lebih lama disini."? pinta Naila dengan wajah memelas..
Alan menggeleng, ia tak ingin Naila memiliki ketergantungan dengan Ana,...biar bagaimanapun mereka tak ada hubungan apapun, Ana adalah mantan muridnya beberapa bulan lalu sebelum lulus. Alan tak ingin membuat harapan di hati putrinya...
"Naila...kak Ana harus pulang, jadi nanti Naila bermain bersama bibi okey."? ucap Alan menenangkan Naila..
Wajah Naila menjadi mendung dan hampir menangis, sehingga Ana menjadi tidak tega padanya, ia menatap Naila mengusap rambutnya dengan gemas...anak berusia hampir 4 tahun itu sangat pintar dan perasa...
"Bagaimana kalau kak Ana tinggal sampai sore..jadi kita bisa bermain lebih lama."
Kali ini sepasang ayah dan anak itu mengangkat wajahnya menatap Ana...mereka seakan tak percaya dengan perkataan Ana, bagaimana mungkin Ana mau tinggal lebih lama, gadis muda seusia Ana lebih senang berkumpul dengan sebaya mereka dan berbicara tentang dunia remaja...
"Ana....."
"Aku hari ini lbur kerja kakak,jadi aku tidak punya kegiatan lain dan bermain bersama Naila menyenangkan....tenang saja dan kakak jangan khawatir...."
"Ana...aku sungguh berterimakasih padamu..."
"Tenang saja dan pergilah ke sekolah, aku rasa...ini jam sibuk di hari senin...."
Alan melirik ke arah jam di tangannya dan membenarkan hampir jam 7 dan sebagai kepala sekolah ia harus sampai lebih cepat dari hari biasa, pria tampan itu membetulkan dasinya ia menatap Ana dengan pandangan penuh harap yang sulit di artikan, namun lambat-lambat pria itu tersenyum..
baru saja ingin mengucap,
"Berhentilah berterimakasih..aku sudah bosan mendengarnya kak,pergilah...dan aku akan menjaga Naila jangan cemas..."ucap Ana menundukan wajahnya...
Alan merasa sangat bahagia, ia merasa lega karna Ana..gadis yang sanbat baik, terlihat dari wajahnya yang manis....pria itu bangkit dan meraih ponselnya...
"Naila...ayah berangkat dulu sayang, main sama kak Naila dan jangan nakal yah.." ucap Alan dengan mengusap rambut Naila pelan...
Naila kecil mengangguk.....
"Baiklah ayah..Naila akan jadi anak baik kok." senyum Naila mengembang sempurna...
Ana ikut berdiri dan mengantar Alan sampai di depan pintu bersama Naila dan ikut melambaikan tangan waktu Alan masuk ke dalam mobil..
__ADS_1
Bagaimana jika ia benar-benar menjadi istri Alan....pasti akan senang sekali, tanpa sadar Ana tersenyum..ia sudah menyukai Alan sejak lama di hari pertama dia menjadi murid di sekolah itu, Alan tampak gagah saat memberikan pidato dan saat itulah cinta sepihak mulai tertanam di hati Ana, walau ia rasa tidak mungkin...Alan seperti bintang yang jauh dan tak bisa ia raih...
Alan memang duda yang paling di kejar sekaligus paling susah di dekati, istrinya meninggal ketika melahirkan Nailla dan sejak saat itulah, Alan merawat Naia seorang diri dibantu pengasuhnya..Alan adalah pria yang baik dan bertanggung jawab sekaligus pria impian Ana...
"Ayo kak Ana...kita bermain lagi..." ajak Naila tampak antusias....
Ana menganggukan kepala lalu menggandeng tangan Naila membawanya masuk dan bermain bersama..
ππππ
Alan mematikan mesin mobil hari sudah menjelang sore, ia masih tertegun lama di dalam mobil, jika mengingat kebersamaan Ana dan Naila sungguh membuat hatinya menghangat, ada rasa bahagia melihat Naila akhirnya bisa dekat dengan orang lain selain dirinya..Naila adalah anak yang susah dekat dengan orang lain apalagi orang yang baru pertama di temuinya, dan Ana mampu menaklukan hati Naila...
Alan tersenyum lalu membuka pintu mobil, ia melangkah masuk ke dalam mansionnya dan di sambut pelayan rumahnya,
"Bagaimana rumah selama aku pergi."? tanya Alan pada wanita yang sudah sangat di percayanya ini,...
"Seperti biasa tuan, semua baik-baik saja.."
"Bagus...." ucap Alan menuju kulkas untuk mengambil air minum....matanya melirik ke lantai atas dengan penasaran,bagaimana keadaan Naila dan Ana.?
"Nona kecil dan nona Ana sedang di kamar nona Naila tuan."
"Baiklah aku akan melihatnya setelah mandi.."
"Terimakasih." ucap Alan pada pelayan berusia 50 tahunan itu dengan sopan..
ππ
Setelah mandi Alan melangkah menuju kamar Naila dan membuka sedikit untuk mengintip apa yang terjadi di dalam kamar putrinya,
Hening....tidak tampak suara Naila atau Ana di dalam sana, dengan penasaran Alan membuka pintu dengan lebar dan menemukan sesuatu yang membuatnya tercengang.....
Alan sangat terkejut.....melihat pemandangan di depannya.....
πππ
Makan malam keluarga Aksana penuh dengan puja-puji Aksana yang terlalu berlebihan pada Damian,sehingga wajah Stela dan Rico merah padam...
Mikha juga tak setuju dengan ucapan papa yang menyanjung Damian berlebihan..namun Aksana siapa yang bisa menghentikannya...
"Jadi perusahaan MD itu perusahaan barumu untuk Mikha dan juga Dion."?
__ADS_1
"Yah..papa, aku sangat mencintai istriku hingga aku mendirikan perusahaan atas namanya dan Dion...itu tak seberapa." ucap Damian menatap penuh cinta pada Mikha...
Aksana lalu bertepuk tangan begitu bangga...
"Sudah seharusnya kau memberikan sesuatu pada istrimu nak..itulah pria sejati." sindir Aksana menatap ke arah Riko yang mulai gerah....pria itu tersinggung...
"Papa...ayo kita makan saja." ucap Luci memperingatkan lewat matanya sungguh tidak enak dengan Stela yang tampak sedih.....
Aksana mengangguk walau masih menatap sinis ke arah Rico....
"Aku sangat rindu makanan ini Ma...terimakasih ini sangat enak."ucap Mikha mengalihkan pembicaraan sang papa,..
"Kau tau Mikha mamamu bahkan tidak tidur demi mempersiapkan menu yang kau suka...kami benar-benar senang dengan kedatangan kalian..." ucap Aksana kembali membuat ruang makan itu kembali hening yang mencekam,Mikha memutuskan untuk tidak berkata apapun lagi dan membuat papanya diam...
ππ
Dikamar...
Mikha duduk di ranjang dengan gelisah, sambil memainkan ponselnya ia berusaha mengalihkan rasa gugupnya, Damian sedang mandi dan mengapa malam ini ia sangat gugup.? kata-kata Derrell sungguh menghantuinya....
Jangan pernah melayani Damian di tempat tidur!!!!!
Bagaimana ini..haruskah ia mengunci Damian saja...
Mikha beranjak dari ranjang dan melangkah cepat menuju pintu namun baru saja ia membuka pintu sedikit...
"Jangan mencoba lari dari kewajibanmu sayang atau aku akan mengikatmu di tempat tidur dan aku rasa itu lebih nikmat untuk kita..."
Mikha membeku pintu itu tertutup kembali...ia berdiri dengan lemah, menoleh dan menatap Damian...
"Aku ingin mengambil minuman untukmu, bukankah kau harus minum sebelum tidur."? Mikha tersenyum manis...
Damian melangkah mendekat dengan hanya melilitkan handuk di pingganggnya, suasana menjadi panas.....
"Aku sudah meminumnya tadi waktu kau sedang di kamar mandi..."
"Cepat sekali." desah Mikha dengan suara tercekat cemas.....
Damian menatap Mikha dengan tekat yang kuat, ia harus menyatukan diri bersama istrinya dan membuat Derrell marah...yah....ia harus membalas Derrell yang sudah berani mengusiknya...Mikha juga istrinya, jadi bukankah dia juga punya hak untuk bersama istrinya..dan mulai saat ini ia akan terus memasuki Mikha dengan rutin.....sebelum ia tertidur lagi dan Derrell mengambil alih tubuhnya..
Damian menarik Mikha dalam pelukannya dengan senyum yang penuh gairah.........
__ADS_1
"Aku tak sabar lagi sayang...."
"Damian....." desah Mikha gugup...