
Luar Negri....
Disebuah ruangan perawatan , duduk di atas kursi roda seorang pria dengan pandangan yang jauh, sudah sebulan dia berada disini dan kondisinya sudah stabil, berbagai alat penunjang hidup sudah terlepas hingga ia hanya bersyukur..
Pintu ruangan terbuka, ia tau siapa yang datang...
''Ana....aku tak ingin apapun dan ingin sendiri bisakah pergi saja.''?
Suara langkah semakin mendekat hingga ia merasa gusar, wanita yang menjadi istrinya ini tak ingin mengalah...
Ana meletakan makanan kecil, beberapa buah segar dan jus di atas meja, lalu duduk di hadapannya..mereka saling menatap..
''Aku tak pernah meminta lebih, aku juga sama sekali tak berharap cintamu Martin..bukankah kita teman, kau selalu menganggapku orang asing.''keluh Ana terlihat sedih.
''Aku hanya tak ingin kau berharap..itu tak mungkin, aku mencintai wanita lain..''ucap Martin dengan tegas.
Ana menjadi kesal...
''Kau mencintai istri orang lain, dan orang lain itu tuan Derrell Russ yang hampir membunuhmu.'' Ana mulai kesal.
''Tapi Tuhan sayang padaku bukan..aku hidup..dan aku tak menyerah.''
''Kurasa kau salah paham Martin, kau pikir Tuhan menginjinkanmu hidup agar kau merusak pernikahan orang lain begitu.''?
''Itu bukan urusanmu Ana....aku tau apa yang kulakukan sebaiknya kau tidak ikut campur..''tatap Martin tak suka..
''Keras kepala, seharusnya kubiarkan kau tertembak saja..astaga aku tak pernah membayangkan kau menjadi buta karna cinta.''
''Mengapa kau tidak melakukannya dan mengapa justru kau menolongku.''? kali ini Martin menatap tajam mata Ana yang terlihat sayu..bahkan wanita ini hampir menangis...
''Aku hamil....bukankah itu yang kau mau, aku tak ingin kau mati dan anakku kehilangan ayahnya bahkan ketika dia belum di lahirkan.'' akhirnya airmata yang tadi di tahan Ana menetes dengan derasnya....
''Apa..''? Martin sangat terkejut dengan perkataan Ana...mulutnya terbuka lebar dengan ekspresi terkejut, ya ampun..semua berjalan dengan cepat, percintaan mereka di awal pernikahan membuahkan hasil, itu berarti setelah Ana melahirkan mereka akan bercerai...?
Martin menatap mata Ana yang basah oleh airmata, gadis muda itu terlihat begitu tertekan, hingga rasa penyesalan mulai muncul di hatinya, gadis cantik ini tidak bersalah..seharusnya ia mengucap terimakasih atas semua yang di lakukan Ana..
''Kau hamil yah.''suara Martin berubah menjadi lembut...
''Yah...aku hamil dan aku tak tau apapun, aku tak punya pengalaman..kita di luar negri sendirian, seperti yang kau tau..semua keluarga kita menganggapmu telah meninggall..aku bingung, aku tak tau harus menghadapi kehamilan ini bagaimana..sementara kau bersikap sedikit kejam kepadaku.''isak Ana putus asa.
''Aku kejam.''?ulang Martin terkejut..
''Yah..kau kejam..kau malah memarahiku, membentakku dan menyakiti hatiku...isak Ana sedih, aku tau pernikahan kita akan berakhir kurang lebih setahun, tapi setidaknya..bisakah kau memperlakukanku seperti seorang teman saja.''?
__ADS_1
Martin terdiam mengamati semua omelan Ana yang terasa lucu, astaga...Ana masih sangat kecil, ketika nanti mereka berjalan bersama mereka akan terlihat seperti seorang paman dan keponakannya,jarak usia yang jauh...dan tak pernah ada cinta..mengapa justru akan ada anak di antara mereka...apakah semua akan baik-baik saja nanti.?
Martin mengambil jemari Ana dan menggenggamnya erat, menatap kedua bolamata bening milik istri kecilnya ia tersenyum..
''Maafkan aku si pria tua ini Ana...aku benar-benar minta maaf karna sudah menyakitimu..aku janji akan membantumu menghadapi kehamilanmu ini..kita akan hadapi bersama....''
Senyum mengembang di bibir Ana...untuk langkah awal, lumayanlah, ia akan terus mengerjar cinta suaminya.....
''Baiklah,...aku memaafkanmu pria tua.''
Keduanya tertawa dengan lepas, lalu Martin membiarkan Ana menyuapinya buah, pandangan matanya fokus pada perut rata Ana...
''Sudah berapa bulan kau hamil.''? bisik Martin ingin tau..
''2 bulan, dokter memintaku datang bersamamu ketika usia kandungan ke 3 bulan, mungkin saja kau mau mendengar detak jantungnya.'' ucap Ana pelan..
''Detak jantung.''? ucap Martin membeku...ada perasaan hangat di dadanya, ia tersenyum.....
*************************************
Suasana makan malam lebih tegang dari biasanya, Derrell sudah membawa Mikha pulang kerumah karna takut dengan kehamilan Mikha yang tinggal menunggu hari...mereka duduk di meja makan dengan keheningan yang mengerikan, bahkan Dion hanya menundukan kepala.
''Mengapa kau sangat gugup Dion, makan saja..kau perlu tenaga lebih.''suara dingin milik Derrell menembus keheningan di ruang makan...
''Aku sudah kenyang papa dan ibu.'' ucapnya menunduk...
Derrell mengeraskan tatapannya..dengan sengaja ia membanting gelas hingga jatuh dan pecah menimbulkan kengerian, Mikha menoleh...mendapati Dion berdiri kaku di tempatnya..airmatanya menetes, hingga Mikha merasa hatinya seperti di remas, ia menatap Derrell..
''Kurasa kau..''
''Berhenti membelanya Mikha..aku akan mendidiknya mulai dari sekarang dengan caraku.''ucap Derrell yang membuat Mikha menelan semua perkataannya, kepalanya mendadak terasa nyeri...
Pandangan mata Derrell terarah lurus pada Dion...
''Mengapa kau menangis..apakah itu yang di ajarkan ayahmu, kau menjadi lelaki cengeng.''?
''Papa..'' wajah Dion menjadi pucat.
''Habiskan makananmu sekarang atau papa akan memberimu hukuman keras.'' lirik Derrell tajam..
Mikha memejamkan matanya, jemarinya mengepal. hatinya sakit sekali melihat Derrell membentak Dion, jika Damian yang ada disini...Dion bahkan tak pernah di bentak.....
''Tapi aku sudah kenyang papa.''
__ADS_1
''Kau yang mengambil makananmu sendiri bukan,? maka kau harus bertanggung jawab menghabiskannya..atau kau akan melihat kemarahanku Dion..papa tidak pernah main-main.''
Dion menatap ke arah Mikha berharap pertolongan namun ia hanya mendesah ketika Mikha hanya menggeleng tak mampu berbuat apa-apa...
Derrell bangkit meraih Mikha bersamanya,
''Jika dalam 5 menit kau tidak menghabiskan makananmu..maka kau akan mendapat hukumanmu dengan segera.''
Derrell setengah menyeret tubuh Mikha bersamanya membuat Dion menjadi kesal dan marah....
''Papa.....'' desahnya mengepalkan tangannya...
*******************************
''Kau terlalu keras padanya Derrell ia hanya anak berusia 9 tahun.''ucap Mikha sedikit tidak terima dengan perlakuan Derrell.
Mikha mencoba membujuk Derrell, ketika pria itu mengambil piyama tidurnya dan hendak menggantinya,
Derrell menoleh..
''Aku ingin mendidiknya dengan caraku..bukan cara Damian yang lembek..Dion akan menjadi sepertiku...''ucapnya dengan senyum misterius..
''Tidak....kau tak berhak, dia bukan anakmu.'' ucap Mikha bersedekap...
Derrell mendekat seraya meraih Mikha tenggelam di dalam pelukan posesifnya,
''Damian dan aku sama saja, anakknya adalah anakku dan anakku adalah anaknya namun....perlu kau tau, aku akan membuatnya tidur lama...jangan coba membelanya karna percuma..aku akan semakin menyiksanya kalau kau ikut campur.''
"Kau kejam sekali." teriak Mikha kesal...
"Inilah caraku hidup sayang."
Akhirnya sebuah pesan di ponsel Derrell membuatnya tersenyum, ia melirik Mikha...
"Saatnya memberi Dion hukuman agar dia mulai belajar."
Wajah Mikha memucat....airmatanya menetes...
"Derrell...jangan."
Pria itu tersenyum dingin dan melangkah menuju pintu...ia menoleh sebentar...
"Kau tidak boleh keluar sayang, aku pastikan Dion tak akan mati..." usai berkata Derrell melum** bibir Mikha dengan gemas lalu meninggallkan kamar...
__ADS_1
"Derrell....buka pintunya....Derrell." jerit Mikha histeris.