
Ana terlalu marah kemudian keluar rumah dengan wajahnya yang hampir menangis, ia sungguh marah pada ibunya marah pada takdir hidupnya yang begitu suram, jika saja boleh ia meminta maka Ana lebih memilih ia tak pernah dilahirkan, percuma saja...hidupnya sudah di atur dengan begitu kejam seolah takdir tidak memberinya kesempatan untuk hidup tenang...
Usia 18 tahun dimana semua gadis menikmati hidupnya,bersenang senangdan bebas pergi kemanapun, namun berbeda dengan Anastasia yang harus menerima kenyataan hidupnya hanya sebagai mesin pembuat anak..mengapa begini, mengapa sangat sakit....
"Mengapa....." tangis Ana terjatuh di pinggir jalan gelap yang sepi...jemarinya kuat menggenggam batu tajam di sekitarnya...
Lama ia duduk disana dengan wajah yang tertunduk, Anastasia menyesali hidupnya, bahkan kesuciannya sudah di bayar dengan sangat mahal oleh keluarga tuan Martin....
Ana terkejut ketika terdengar suara langkah beberapa orang yang ia kenal, yah...itu suara tuan Burhan sang rentenir dan anak buahnya, tuan Burhan meminjamkan uang pada ibunya dengan bunga yang besar,
Ana kemudian bangkit dari duduknya lalu menatap segala arah untuk bersembunyi, dan sambil menahan nafasnya yang tercekat ia mencoba mendengarkan pembicaraan mereka...
"Bos.....malam ini kita harus membawa anak gadisnya pergi." ucap salah satu anak buah Burhan..
"Tentu saja...aku sudah lama mengincarnya." desis pia berkumis tebal itu pada anak buahnya...
Ana yang bersembunyi ia begitu gemetar ketakutan, Ana memejamkan matanya takut ketahuan, ibunya selalu berhutang tanpa memikirkan resikonya,ia selalu meminjam tanpa berpikir akibatnya...untung saja tadi Ana pergi dari rumah, kalau tidak..ia pasti tertangkap oleh para bajingan ini......
Setelah menunggu mereka menjauh, Ana kemudian berlari menembus kegelapan ia berlari sekuat tenaga, Ana harus bersembunyi dari para rentenir mengerikan itu yang mengincarnya tanpa ampun...karna jika mereka melihatnya maka itu adalah akhir hidup Ana....
Sesampainya di ujung lorong bangunan gedung tua, Ana menyebrang jalan di depannya, dan tepat pada saat yang sama, sebuah mobil melaju dengan kencang ke arahnya, dan hampir menabraknya jika saja ia tidak berteriak keras...dan pemilik mobil itu menghentikan laju mobilnya tepat di hadapan Ana....
Gadis itu berteriak histeris menyadari hampir saja ia di tabrak oleh mobil di hadapannya.
Pintu mobil terbuka dan seorang pria keluar dari sana....mendekati Ana dan menentuh bahunya...
"Maafkan aku..apakah kau baik-baik saja."
"Yah...aku baik-baik saja...."
"Anastasia....."?
Suara lembut itu terasa menusuk sampai hati Ana, ia sangat mengenal suara itu yang selalu ia rindukan setiap malam...
Ana mengangkat wajahnya dan membeku di tempat......
"Kak Alan...."?desahnya hampir tidak percaya dengan pandangan matanya...
Alan kepala sekolahnya, berusia 30 tahun masih seorang duda dengan satu putri berusia 3 tahun, sangat sopan dan yang terpenting Ana menyukainya setengah mati meski pria ini tak bergeming dengan perasaannya dan cenderung cuek.....
"Mengapa kau berlari di malam begini."? tanya Alan heran....
Ia melirik ke sekelilingnya dan tidak menemukan seorangpun di jalan ini.....apa yang terjadi...?
belum sempat Alan bertanya, ia mendengar suara beberapa pria dari sudut gang...
Wajah Ana menjadi pucat, dengan cepat ia meraih tangan Alan dan menuju mobilnya,
__ADS_1
"Kakak..tolong aku...." pinta Ana memohon...
"Ada apa Ana.."
"Terlalu panjang untuk di jelaskan, orang-orang itu mengejarku dan jika mereka menangkapku maka aku akan habis..."
"Habis...."?
"Yah...."
Alan menganggukan kepala lalu membuka pintu mobil dan Ana masuk ke dalamnya, iapun segera menghidupkan mesin mobil dan tepat di saat itu juga para pria berbadan tegap itu muncul dari bangunan tua yang tadi di lewati Ana...
gadis itu memejamkan matanya merasa sungguh ngeri, hampir saja mereka menangkapnya......setelah agak jauh, ia menghela nafas lega,...
Alan yang dari tadi memperhatikannya hanya mengerutkan dahi....
"Apa kau sedang berhutang pada rentenir itu Ana.."?
"Kak Alan mengenal mereka."?
"Tentu saja...siapa tidak mengenal mereka...hampir semua yang ada di kota ini meminjam pada mereka.." ucap Alan...
"Yah....sebenarnya ibuku yang berhutang, namun mereka mengicarku..."
Alan menghentikan mobilnya mendadak.....
"Semua sudah terjadi dan....yah...inilah hidupku, kak Alan benar..mungkin aku akan mati..."ucap Ana dengan nada lemah..
"Berapa hutangmu."? tanya Alan membuat Ana terperangah...
"Kak Alan.....sudahlah...."
"Berapa hutangmu."?
"Hampir 1 Milyard kak." ucap Ana dengan mata berkaca-kaca..."
Alan kehilangan kata.....
"Yang benar saja..... 1 Milyard Ana....sebanyak itu.."? Alan mencoba meyakinkan pendengarannya...
"Hutang ibu 200 juta, namun dengan bunga berbulan-bulan.....Ana memejamkan matanya, airmata seakan sudah mengering dari matanya....hidupku hancur kak Alan."
Alan mencengkram stir mobil dengan kuat...ada nyeri di hatinya melihat gadis ini menangis...
"Baiklah...bagaimana jika aku menolongmu Ana..."?
"Hah..."? Ana kehilangan kata.....
__ADS_1
"Kak Alan...."
"Kakak akan mengganti semua uang mereka dan kau bisa bebas..."ucap Alan tegas..
"Kak Alan...tidak perlu....."
"Ini mauku Ana...besok kita sama-sama menemui ibumu, aku akan bicara padanya, kau bisa bekerja di sekolah dan membayar hutangmu padaku....bagaimana..."?
Wajah Ana menjadi cerah seprti pelangi sehabis badai.....ia menunduk hormat pada Alan, pria berhati malaikat di hadapannya..sungguh tanpa Alan, ia tak tau harus kemana, sekarang Ana tak perlu memikirkan tentang rencana pernikahan kontrak bersama tuan Martin lagi....
"Kak Alan...terimakasih..."ucap Ana menunduk hormat..
"Baiklah Ana...jika kau mau kau bisa menginap di rumah kakak malam ini, ada putri kakak namanya Naila, kau bisa tidur bersamanya..."
"Benarkah aku boleh."?
"Tentu....."senyum Alan sangat sopan...
Ana kembali memperlihatkan senyum indahnya hingga Alan membeku, ketika hatinya bergetar....
"Ayo kita pergi..."aja Ana dengan rasa lega yang sudah lama tidak ia rasakan, seakan beban di pundaknya terangkat ke udara...
❤❤❤❤
Pesawat mendarat mulus di bandara kota kelahiran Mikha, wanita itu tanpa sadar memperlihatkan senyumnya..sungguh lega karna ia bisa menghirup udara yang sama dengan orangtuanya, betapa bahagianya Mikha.......
"Ibu...." desah Dion masih memejamkan mata, dia masih sangat lelah...
Mikha mencium dahi Dion lalu meminta pengasuhnya membawa tubuh Dion keluar dari pesawat....Mikha mendekati Derrell yang juga masih tertidur, hingga Mikha ingin membangunkan Derrell.....
Namun sekejap saja,tubuhnya di tarik hingga jatuh tepat di atas tubuh Derrell.....pria itu membuka mata....
"Istriku...."
"Kau tidak tidur..."
Pria itu menggeleng....
"Aku sengaja ingin menggodamu...."
"Waktu yang tidak tepat Derrell." ucap Mikha hendak beranjak melepaskan diri, namun ia terkejut ketika Damian menariknya kembali terjatuh di dalam pelukan posesifnya....
Mereka kembali bertatapan....
"Haruskah aku menghukummu karna kau selalu salah menyebut namaku..aku Damian Russ.....Damian Russ adalah suamimu..."
Damian membalikan posisi tidurnya dan menjebak Mikha di bawahnya...
__ADS_1
"Kurasa aku jatuh cinta padamu." Damian kemudian menunduk dan melum** bibir manis Mikha yang terbuka....