
''Ana..''
''Setelah kau menyampaikan dukacitamu..bisakah kita bicara.''? ucap Ana dengan tatapan dingin..
Mikha menurunkan pandangan pada arah peti dan mengangkat jemarinya yang bergetar untuk menyentuhnya dan....rasa nyeri itu mengalir menembus jantungnya, sosok pria yang ia cintai itu telah meninggalkan dirinya..ia bersalah ketika mengingat betapa egoisnya dirinya ketika tak mendengarkan Martin dulu..egonya hancur bekeping-keping, masa lalu yang menyakitkan..seharusnya....seharusnya ia tidak menyerah..seharusnya ia sudah bahagia bersama dengan pria yang paling ia cintai dan mencintainya..semuanya kini hancur tak berbekas...Mikha mengangkat wajahnya lagi dan menatap mata Ana yang sama-sama terluka...ia kemudian mengangguk menurut...
''Aku akan menemuimu.'' ucap Mikha lemah..
''Bagus...aku tak sabar lagi.'' ucap Ana menundukan kepalanya lalu melangkah meninggalkan ruangan itu..
Pandangan Mikha kemudian terarah pada sisa kenangan Martin yang membekas dan menyakitinya, yah.....airmatanya menetes dan begitu terluka....
''Martin..'' desahnya memejamkan matanya....
**************************************
Dion melangkah keluar ruangan, ia ingin ke toilet dan merasa bingung namun ia tersenyum melihat gadis kecil melangkah begitu saja melewatinya dengan pandangan angkuh yang kuat....
''Adik kecil.'' panggil Dion ramah....
Gdis itu kemudian menoleh dengaan sebelah alis yang terangkat.....
''Aku tak suka yah..kau memanggilku begitu, aku bukan adik kecilmu dan kau bukan kakakku...'' ucapnya tajam...
Dion mengerutkan dahi...namun mendekatinya,
''Maaf....itu karna aku tak tau siapa namamu..katakan..siapa namamu.''?
''Astaga..aku tak suka melihat wajahmu....jadi jangan bersikap ramah padaku.''
''Hey..jangan pergi dulu...meski kau tak suka dengan wajahku, bisakah kau menunjukan padaku arah toilet.''? tanya Dion mulai meringis...
Gadis kecil itu terkekeh..menertawakan kemalangan Dion yang kentara, ia mendekati Dion dengan tatapan redup...
''Aku di sebut nona kecil Alexa, kau tak boleh bertanya hal rendah itu padaku..tanya saja pada para pelayan...sudah yah..aku mau pergi dulu...semakin aku dekat denganmu..semakin aku kesal.'' ucapnya lalu melangkah begitu saja meninggalkan Dion yang terpaku di tempatnya, ia kehilangan kata, bagaimana bisa anak berusia 5 tahun itu mengatakan hal setajam itu..astaga, dia akan menjadi gadis sombong ketika besar nanti.'' desah Dion lalu melangkah sedikit kesal......
********************************
Mikha melangkah ke sebuah ruangan yang di tunjukan seorang pelayan kepadanya tempat dimana Ana menunggunya, ia menatap seorang wanita muda berdiri membelakanginya, ketika pintu dibukakan pelayan untuknya...Mikha pun masuk dan berdehem.....
''Ana...''
Ana menoleh seketika itu juga dan menghapus airmatanya ia mencoba tersenyum pada Mikha......
''Bagaimana perasaanmu.''? tanya Ana menatap tajam....
Mikha menghela nafas....lalu menatap Ana...
''Tidak percaya.''
''Tentang kematiannya.''?
''Sebagaian jiwaku menolak kenyataan...walau aku tau, itu tak mungkin...Martin benar-benar sudah pergi.''
__ADS_1
Ana mendekati Mikha dan mempersilahkan wanita hamil itu duduk.....
''Jujur..aku kagum dengan cinta kalian berdua, aku juga tak ingin tau tentang masa lalu kalian meski aku tau..itu pasti sangat indah...'' ucap Ana pelan....
''Itu hanya masa lalu.''
''Benarkah hanya masa lalu.''?
''Yah...hanya masa lalu..mengapa kau seperti tak percaya..aku sudah menikah, kau pun sudah menikahi Martin kan.'' ucap Mikha pelan...
''Kau tau betapa terlukanya aku ketika aku tau di saat terakhirnya pun ia masih memikirkanmu.''? ucap Ana menatap Mikha..
''Apa maksudmu menemuiku hanya untuk mengatakan hal ini.''? suara Mikha meninggi, masih dalam suasana duka ia merasa marah...
Mikha bangkit dari tempat duduknya dan hendak melangkah menuju pintu........
''Bisakah kau melepaskan Martin sekarang.....kau melepaskannya bersama kematian yang kau tangisi tadi.''? jerit Ana keras.......
Langkah Mikha terhenti ia menoleh dengan airmata yang menetes....
''Apa maksudmu...Martin masih hidup.''?
''Dia suamiku.'' jerit Ana histeris...
Mikha tertawa dalam tangis.....mendekati Ana lagi dan menyentuh lengan wanita muda itu, ia ingin penjelasan......
''Dia pria yang kucintai dan dia mencintaiku.'' teriak Mikha tak mau kalah..
''Ana.....''
''Yah...kau benar dia masih hidup, Martion masih hidup dan berada di suatu tempat yang hanya aku yang tau.'' ucap Ana tajam...
Mikha meraih lengan Ana dengan kasar....
''Mengapa kau menyembunyikannya..mengapa kau memalsukan kematiannya dari semua orang..bukankah kau jahat.''?
Ana melebarkan matanya kemudian ia menghempaskan pegangan Mikha hingga terlepas.....
''Aku..jahat...aapakah kau tidak salah bicara Nyonya Mikhayla Russ.....suamimu membuat suamiku sekarat dan memutuskan mengampuni nyawanya di detik terakhir...kau tau apa yang terjadi pada Martin suamiku..kau atau apa yang terjadi pada pria yang kau akui mencintainya.''? jerit Ana murka....
Tubuh Mikha bergetar hebat,...ia menggeleng merasa takut, dengan kenyataan yang ada di depan matanya..hantinya hancur berkeping-keping...
"Ana...."
"Aku mohon padamu nyonya, jangan mendekat hingga suamimu marah..dan melampiaskan kekesalannya pada suamiku." isak Ana sedih....
"Aku berjanji itu tak akan terjadi.."
"Bisakah aku percaya padamu..bahwa kau tak akan datang dalam kehidupan kami nyonya Mikha."
''Katakan padaku Ana...aku berhak mengetahui semuanya aku akan berjanji membuatmu tenang.'' tangis MIkha memohon...
Ana mengangguk lalu mengeluarkan sebuah ponsel dan menatap mata Mikha yang bengkak karna terlalu banyak menangis...
__ADS_1
''Bersumpahlah...lupakan Martin, dia suamiku nyonya Mikha...jangan hancurkan pernikahan kami.'' ucap Ana dengan penuh penekanan.....
Mikha kemudian menganggukan kepala, meski ia mencintai Martin, namun ia tak berpikir untuk kembali, apalagi menghancurkan pernikahan mereka.....
''Aku bersumpah..bagiku jika dia hidup, aku akan merasa lega....aku bersumpah tak akan mengganggu kalian lagi...aku hanya ingin tau keadaanya.'' pinta Mikha putus asa...
Ana kemudian mengalah lalu menunjukan sebuah video di sebuah ruangan rumah sakit, seorang pria terbaring dengan berbagai selang yang memenuhi tubuhnya..pria itu sekarat hingga Mikha ta sanggup lagi melihatnya..dadanya sesak, menahan rasa sakit....
''Dia mengalami luka yang parah....dokter masih berusaha keras,..namun..aku yakin..Tuhan mengasihiku dan akan mengembalikan dia kepadaku.'' ucap Ana penuh keyakinan....
"Martin.....mengapa kau seperti ini..."
Ana kemudian menatap Mikha....
"Kami akan menetap di luar negri sampai selamanya....bagiku, kalian adalah kenangan..yang harus dikubur." ucap Ana tegas....
Mikha membeku...namun sesaat kemudian ia menganggukan kepala....Martin berhak bahagia bersama istrinya....
"Ana....bagiku, Martin sudah meninggal jadi dia adalah milikmu sekarang...dia suamimu.." tangis Mikha pecah...
Ana juga meneteskan airmata...
"Terimakasih untuk melepaskannya....terimakasih nyonya Mikha."ucap Ana menundukan wajahnya.....ia lega sekarang dan fokusnya adalah mendapatkan hati suaminya.......
❤❤❤❤
Di dalam mobil perjalanan pulang hanya keheningan yang mencekam...Dion duduk di samping Mikha dan merasa sang Ibu terlihat marah...ayahnya di mobil belakang..
"Ibu....mobil kita akan kemana...ini tidak mengarah kerumah."
"Ibu akan pulang ke apartement." jawab Mikha menahan rasa kesalnya...
"Mengapa..."? tanya Dion mengerutkan dahi....
Namun belum sempat Mikha menjawab..mobil milik Damian menghentikan mobil mereka..pria itu keluar dari sana dengan tatapan beku..lalu membuka pintu mobil dan menatap Mikha...
"Dion turunlah dan masuk ke mobil Ayah."
"Tidak....Dion ikut aku saja...dia menginap denganku..." ucap Mikha tajam...
Damian menggeleng...ia tak sanggup jauh dari istri dan anakknya....
"Mikha aku mohon...."kata-kata Damian terputus......
Namun....Mikha mendorong tubuh Damian dan memerintahkan anak buahnya menjalankan mobilnya....Dion yang tak tahan dengan semua itu, apalagi melihat ayahnya masih berdiri menatap mobil mereka dengan tatapan hancur..
"Ibu....cukup..ayahku tidak bersalah atas semua ini." ucap Dion mulai menangis......
Mikha menoleh....
"Apa maksudmu Dion..."?
Dion mengepalkan tangannya,dengan tekat kuat....
__ADS_1