
< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru :) >
---
Rendra kemudian segera menggelar sajadah dimana ia akan tertunduk kembali kepada tuhannya setelah sekian lama ia hanya berdiri layaknya manusia sombong sehingga ia di uji seketika ia roboh dan menyesali apa yang terjadi.
Rendra meneteskan air mata di setiap sujudnya dan tersenyum sembari membaca bacaan sholat yang mungkin tidak pernah dia baca lagi sebelum ini dan akhirnya dia sadar bahwa Allah adalah tempat terbaik untuk kembali.
"Ya allah, betapa bahagianya hati ketika bisa bersujud kepadamu lagi,' bathin Rendra setelah menyelesaikan salam terakhir.
Setelah selesai menyelesaikan sholatnya Rendra kemudian terduduk termenung memikirkan takdirnya mencari dan meminta dalam Sholat dan setiap doanya dan berharap akan ada mujizat baginya.
Rendra kemudian mengambil posisi bersila dan mengadahkan tangannya ke atas, dengan mata terpejam ia kemudian mencoba merasakan rasa akan tenangnya hati bila kita berserah diri kepadaNya.
"Ya Allah, hamba memang bukan orang yang selalu taat kepadamu, bukan orang yang selalu ada di jalanmu. Hamba malu! Hamba takut akan semua masalah ini. Hamba kini hanya bisa pasrah dan berharap semua akan kembali menjadi seperti dulu. Hamba meminta hanya satu permintaan selamatkanlah anak dan istri hamba dan jika memang itu harus mengorbankan nyawa hamba, insya allah hamba rela karena hanya kau tempatku meminta dari segala perkara yang terjadi dalam hidup ini,"
Setelah menyelesaikan doanya Rendra kemudian kembali terdiam dengan linangan air mata ia benar benar terguncang dan tanpa dia sadari ada seorang pria yang sedang memperhatikannya dari tadi.
"Kenapa harus takut akan masalah yang Allah berikan?" ucap Adnan duduk di samping Rendra. "Bukankah Allah tidak pernah memberikan ujian melebihi kemampuan umatnya?"
Rendra menoleh sejenak ke arah Adnan dan kembali merenung dan tertunduk dengan air mata yang berjatuhan serta tak menghiraukan segala di sekitarnya.
"Kau tidak perlu menangis, air matamu takkan mengubah segalanya," ucap Adnan kembali.
"Siapa kau?" tanya Rendra dengan suara serak.
"Kau tidak perlu tau, aku hanya ingin bilang bahwa kau jangan mudah menyerah taukah kau? Bahwa di luar sana masih banyak yang lebih berat masalahnya dari pada masalahmu,"
"Yang kau katakan itu memang benar berarti Allah sudah membenciku dengan memberi ujian seperti ini," ucap Rendra menatap Adnan.
"Bukan benci, tapi Allah sayang kepadamu," ucap Nissa Adnan menepuk pundak Rendra sembari tersenyum simpul.
"Apa maksudmu?"
"Jika Allah memberimu ujian berarti Allah sayang kepadamu, kenapa? Karena Allah ingin melihat kau menangis dan memohon kepadanya kemudian kembali kejalannya,"
Rendra tertegun kemudian kembali menundukkan kepalanya dan kembali menyesali kata katanya serta perlakuannya selama ini yang membuat dia semakin tertekan akan cobaan ini.
__ADS_1
"Jangan tertekan itu hanya akan menambah kesedihanmu," ucap Adnan merangkul Rendra.
"Kau tidak tahu aku sudah sangat jelek di mata orang lain," ucap Rendra sembari menyeka tangis di sudut matanya.
"Jelek di mata orang itu gak apa apa asal jangan jelek di mata Allah," ucap Adnan membuat Rendra sedikit tersenyum dan seakan menemukan secercah harapan. "Kalau begitu kembalilah! Aku permisi dulu yah, Assalamualaikum,"
Adnan kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan keluar musholla meninggalkan Rendra yang masih terduduk memikirkan semua kata kata dari Adnan untuknya.
Setelah selesai dengan pikirannya Rendra kemudian berdiri dan berjalan keluar musholla menuju ke kamar rawat Eva hanya sekedar ingin melihat kondisi istrinya itu.
Di dalam perjalanan Rendra hanya diam tanpa suara berjalan di keheningan sehingga hanya langkah kakinya yang terdengar menggema di koridor rumah sakit ini
Sesampainya di depan kamar rawat Eva, Rendra kemudian segera membuka pintu kamar itu dengan pelan agar tidak menbangunkan Eva yang sudah tertidur.
Ceklekk!
Rendra kemudian berjalan pelan menuju ranjang Eva, sesampainya di sana ia menatap sendu ke arah sang istri kemudian mengecup keningnya mesra sembari memejamkan matanya lemah.
"Kau jangan pernah meninggalkanku sayang!" batin Rendra.
---
Hari ini perasaannya agak lega karena ia tahu bahwa masih banyak yang mempunyai masalah lebih berat darinya dan itu semua berkat semangat dari Adnan yang membuatnya bangkit kembali.
"Assalamualaikum," ucap Syafa yang datang dengan sekantong buah buahan menyapa Rendra yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Eh Waalaikumsalam, mau lihat Eva yah Fa?" tanya Rendra.
"Iya, Mas," ucap Syafa sembari mengeluarkan senyum terbaiknya.
"Oh, silakan masuk aja, Eva ada di dalam kok," ucap Rendra mempercepat percakapan mereka.
Eva tidak menjawab dia hanya tersenyum dan mengangguk kemudian berjalan kedalam ruangan rawat Eva untuk sekedar memberinya semangat dan menjenguknya.
Ceklekkk!
Suara pintu yang dibuka oleh Syafa membuat Eva tersenyum seketika ketika melihat yang datang adalah Syafa.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Va," ucap Syafa berjalan menuju ranjang tempat tidur Eva.
"Waalaikumsalam, Syafa kamu bareng siapa kesini? Aku kangen banget," ucap Eva langsung memeluk Syafa.
"Hahahaha, baru aja ketemu dan kangen," ucap Syafa tersenyum melepas pelukannya.
"Fa? Kamu udah taukan tentang penyakit aku?" tanya Eva dengan wajah murung.
Syafa menaruh buah itu di nakas samping ranjang Eva kemudian beralih menatap Eva dan mengelus pelan rambut Eva.
"Iya, aku turut prihatin yah," ucap Syafa.
"Kamu masih cinta gak sama Om Rendra?" tanya Eva lagi yang kali ini membuat Syafa tertegun.
"Ah ngomong apa sih kamu," ucap Syafa tertawa kembali
Eva kemudian menundukkan kepalanya dan meraih tangan Syafa kemudian ia genggam dengan kuat dan kembali menatap sendu Syafa dengan tatapan sayu penuh kesedihan.
"Kalau kamu masih cinta sama suamiku, mau kan jadi penggantiku?" tanya Eva yakin.
Syafa yang mengira Eva hanya bercanda langsung melingkarkan mata sempurna dan menatap tidak percaya ke arah Eva yang kini di penuhi dengan rasa menyerah.
"Ngomong apa sih kamu!"
"Aku ini udah gak lama lagi, aku lebih memilih mempertahankan anak ini dan walaupun itu harus mengorbankan nyawaku dan bila nanti aku sudah tidak ada aku mohon kamu harus menjadi istri penggantiku," ucap Eva dengan penuh harapan dan berlinang air mata.
"Sudahlah kamu jangan pesimis kita percayakan semua pada Allah, istiqomah aja dan terus berdoa semoga kedepannya ada mujizat dan kau dan anakmu bisa selamat," ucap Syafa menghapus air mata Eva.
"Tapi itu tidak mungkin!"
"Berarti kau meragukan adanya Allah," ucap Syafa menatap tajam Eva.
Eva kemudian kembali tertunduk dan menghapus air matanya sendiri dan berusaha tetap merenungi ucapan dan keputusannya.
"Ingat Va, bahwa siapa yang selalu istiqomah maka akan diberi jalan oleh Allah, jangan ragu dan jangan takut, insya allah kamu sembuh aku yakin itu," ucap Syafa menarik Eva kepelukannya.
Eva terdiam kemudian tersenyum hening dan memeluk balik sahabatnya itu yang seakan memberinya semangat dan kehangatan yang membuatnya kembali semangat walaupun dia tahu bahwa ini takkan bertahan lama.
__ADS_1
- Bersambung -