
< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru (~_^) >
-
Amri dan asisten Zain turun dari mobil yang telah mereka parkir di depan kantor tersebut.
Di pintu lobby mereka sudah di sambut oleh para karyawan dan juga keamanan kantor. Zain yang sedari tadi gemetar tak karuan hanya mengikuti atasannya dengan berpakaian masih lengkap seragam kantornya.
"Zain kamu ingatkan rencana kita?" bisik Amri pada Zain.
"Ingat pak!" jawab Zain singkat.
Amri dan Zain kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju keruangan sang Ceo perusahaan itu.
"Pak Amri?" sapa seorang pria pada Amri. "Perkenalkan saya Ali, General Manager perusahaan ini,"
Ali kemudian menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan Amri dan disambut oleh uluran tangan Amri.
"Oh iya? Dimana pak Darius?" tanya Amri melihat sekitar. "Eh saya lupa kenalkan ini sekretaris atau asisten saya, Zain,"
"Oh, kenalkan pak saya Ali," ucap Ali menjabat tangan Zain.
"Saya Zain," ucap Zain menyambut uluran tangan Ali.
"Kalau begitu bisa ikuti saya ke ruangan bapak Darius?" ucap Ali ramah.
"Oke," ucap Amri singkat mengikuti langkah Ali menuju ke ruangan pak Darius.
Sesampainya diruangan pak Darius, Ali, Zain dan Amri segera masuk untuk menemui pak Darius yang sudah menunggu mereka sedari tadi.
Sebuah ruangan dengan interior klasik juga beberapa tempelan lukisan yang indah serta sofa untuk menerima tamu juga meja kerja yang telah tersedia di ruangan tersebut menambah kesan klasik pada ruang kerja Darius.
"Selamat siang," sapa Amri pada Darius.
"Siang juga pak Amri, silakan duduk," ucap Darius pada Amri.
Amri kemudian mendudukkan tubuhnya pada sofa di samping Darius sementara Zain dan Ali hanya berdiri bersiap dengan berkas mereka masing masing.
"Jadi kerjasama apa yang bapak maksud?" tanya Darius memulai pembicaraan.
"Jadi begini, perusahaan kami "Al Corp" sudah memproduksi beberapa produk jadi sekarang kami ingin berinovasi menciptakan satu produk yang berguna bagi dunia komunikasi," ucap Amri menjelaskan.
__ADS_1
"Hmmmm, boleh saya lihat berkas datanya?" ucap Darius.
"Oh boleh," ucap Amri. "Zain? Kesini sebentar,"
Zain yang melihat dirinya dipanggil segera menghadap ke hadapan atasannya itu.
"Baik pak!"
"Tolong kamu ambil berkas datanya di mobil yah," perintah Amri pada Zain.
Amri kemudian menepuk pundak Zain dan mengedipkan matanya pada Zain seakan memberikan kode pada Zain.
Seakan mengerti akan maksud atasannya Zain hanya mengangguk kemudian mengiyakan dan segera menjalankan aksinya.
"Baik Pak,"
Zain kemudian berjalan keluar ruangan tersebut dan berjalan ke arah toilet pria untuk berganti baju dan menjalankan aksi penyamarannya.
"Untung ini disuruh atasanku, coba bukan dah gue tolak mentah mentah," gerutu Zain kesal.
"Hancur sudah, dari sekretaris jadi cleaning servies dimana harga dirimu Ananta Zain Andryoga," ucapnya dalam hati.
Tak lama kemudian Zain keluar dari toilet dengan pakaian seperti OB juga alat kebersihan yang dibawahnya menuju keruangan Ali.
Cekrekkk!
Zain segera memasuki ruangan tersebut dan mulai memeriksa kesudut tempat untuk menemukan sebuah info.
Lama Zain mencari namun tak kunjung menemukan apapun, ia sendiri mulai bingung namun ada satu tempat yang belum ia periksa yaitu meja kerja Ali.
Di saat Zain sedang sibuk memeriksa meja kerja Ali, tiba tiba terdengar suara langkah kaki dari luar dan juga gagang pintu yang dibuka.
Zain panik lalu bingung sendiri harus bagaimana dan tampak tak mengerti dengan kejadian saat ini.
"Aduh mampos gue,"
---
Wisnu tak henti hentinya menatap Andrew yang sudah semakin misterius sedari tadi dan entah apa yang dipikirannya.
"Jadi bagaimana rencanamu?" tanya Wisnu pada Andrew.
__ADS_1
Andrew meletakkan ponselnya lalu beralih menatap Wisnu.
"Hmmm, tenanglah kau tak usah panik begitu," ucap Andrew santai.
"Apa!? Tak usah panik? Yang di culik itu anakmu kampret," ucap Wisnu kesal.
Andrew berdiri dari duduknya kemudian menarik napas panjang sebelum akhirnya kembali menatap Wisnu.
"Apa kau yakin kalau Eva akan dalam bahaya?" tanya Andrew pada Wisnu.
"Jelas! Dia dalam bahaya," ucap Wisnu ikut berdiri menatap tajam Andrew.
Andrew tersenyum kemudian mengambil ponselnya dan menunjukkan sesuatu kepada Wisnu yang sukses membuat Wisnu melingkarkan mata sempurna.
"Apa ini?" tanya Wisnu kaget.
"Menurutmu?"
"Jadi? Reza?" tanya Wisnu memastikan.
"Menurutku bukan dia," ucap Andrew berjalan membelakangi Wisnu.
"Tapi bukti ini sudah cukup jelas,"
"Itu hanya video bukan? Tapi kau tahu bukan Reza yang dalang dari semua ini," ucap Andrew berbalik ke arah Wisnu.
"Maksudmu?"
"Dia hanya menjalankan permainan," ucap Andrew santai. "Dan kita sebagai dadunya,"
Andrew tersenyum kecut dan terlihat raut wajah yang sudah tak sabar sementara Wisnu hanya semakin panik dengan tingkah laku Andrew yang misterius dan juga maksud dari perkataannya.
"Apa!?"
-
-
-
-
__ADS_1
- Bersambung -