Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
65. MDD : Penculikan Part 6


__ADS_3

< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru (~_^) >


Andrew dan Au kemudian menyusul Reza dan pasukannya memasuki halaman rumah tersebut.


"Ngapain kau kesini?" tanya Reza memperhatikan kawasan sekitar.


"Emang kudu izin ke lo yah?" ucap Andrew sengit.


"Kagak sih, tapi jauh jauh lo," usir Reza.


"Songong beut nih bocah, awas aja kalau sakit datang ke gue, gue infus 5 galon lo ntar," gerutu Andrew meninggalkan Reza dan pergi ke tempat lain.


---


Wisnu membuka matanya pelan, badannya sangat sakit seperti habis di pukul oleh benda berat, ia sekarang dalam mode bingung karena ia kini sudah dalam keadaan terikat dan terduduk di sebuah kursi.


"Dimana ini?" guman Wisnu meringis kesakitan.


"Rupanya kau sudah bangun?" ucap Gea tertawa kejam dengan Amri di genggamannya serta pistol di tangan kirinya.


"Dea?"


"Dea? No call me Gea dan Dea? siapa dia?" ucap Gea tertawa kemudian menodongkan pistol itu ke arah Amri.


Wisnu melingkarkan mata sempurna melihat pistol yang ada ditangan Gea sedang mengarah ke arah putranya.


"Apa yang kau mau?" ucap Wisnu berteriak.


"Yang aku mau?" Gea menurunkan pistol nya dan kemudian berjalan memutari Wisnu seolah sedang memikirkan sesuatu. "Yang aku mau kalian semua mati,"


"Apa?" teriak Wisnu. "Kau gila yah!?"


"Hahahaha, seharusnya kau pikirkan itu dulu sebelum berani berurusan denganku,"


"Lepaskan anakku!"


"Lepas? Aku akan melepas nyawanya dulu lalu aku berikan padamu," ucap Dea tersenyum jahat.


"Jangan! Apa yang akan kau lakukan?"


"Tenang saja, aku akan memperlihatkanmu bagaimana cara anakmu meregang nyawa dihadapan ayahnya sendiri,"


Gea kemudian berjalan memutari Wisnu dan menodongkan pistolnya kepada Amri yang sudah ia ikat pada sebuah kursi dihadapan Wisnu.


"Aku akan mulai menghitung dan bersiaplah Wisnu,"


1

__ADS_1


"Jangan!"


2


3 ...


Brak!


"Berhenti!" ucap Reza mendobrak pintu dengan beberapa anggota polisi di belakangnya.


"Bagaimana? Bagaimana kalian bisa masuk kesini?" tanya Gea panik.


"Yah bisalah masa iya kami pakai pintu ajaib doraemon," celetuk Andrew kesal.


"Bisa diam gak!" ucap Reza pada Andrew sambil memberikan tatapan killernya.


"Idih untung lo kawan gue," ketus Andrew.


Reza kemudian berjalan menuju kearah Gea dengan pistol di sebelah tangannya yang mengarah ke Gea.


"Jangan mendekat!" ucap Gea panik.


Reza tak menghiraukannya dan malah semakin mendekati Gea.


"Mas, kumohon jangan mendekat!" ucap Gea mundur beberapa langkah.


Suara tembakan berbunyi dan menggetarkan seisi ruangan tersebut, tampak Gea jatuh tersungkur dengan aliran darah dari kepalanya akibat menembak dirinya sendiri.


"Gea!" ucap Reza berlari ke arah Gea.


"Mas?" panggil Gea memegang Pipi Reza.


"Kamu gak apa apa kan sayang?" ucap Reza panik.


"Bentar sayang? Jadi?" ucap Andrew ragu namun terhenti akibat tatapan dari Wisnu.


"Mas? Maafkan aku," ucap Gea lemah.


"Bukan sayang, bukan kamu yang salah ini semua salah aku," Reza menitikkan air mata memegang tangan Gea. "Andainya aku tidak menyerah mungkin kamu sudah sembuh dari penyakit ini,"


"Maaf,"


Gea kemudian merasakan sesak napas dan perasaan yang tidak enak sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya dan menutup matanya untuk selamanya.


"Gea?" ucap Reza menggoyangkan tubuh Gea. "Sayang? Bangun!!"


Reza nampak tertunduk lesu dengan napas lemas kemudian terjatuh di samping jasad Gea dan tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.

__ADS_1


"Lah dia pingsan?" ucap Andrew mendekati tubuh Reza.


"Terus menurutmu dia ngapain? Dugem?" ucap Wisnu kesal.


"Yaudah sih gak usah ngegas," ucap Andrew kemudian menelepon pihak rumah sakit untuk datang kesini.


"Telpon rumah sakit cepet," ucap Wisnu pada Andrew.


"Udah kampret sabar napa?"


Wisnu kemudian mengambil napas lega kemudian berjalan ke arah tempat Amri di ikat dan melepaskan ikatan pada anaknya dan memeluknya erat.


"Anak papah?" ucap Wisnu memeluk sang putra. "Maafin papah yah?"


Amri tampak tak sadarkan diri mungkin dia masih terkena efek biusan atau apa itu tidak jelas.


Sementara Au berdiri dengan seuntai senyuman walaupun dia tak tahu bagaimana keadaan Han dan adiknya saat ini namun ia bisa bernapas lega dan malam ini akan menjadi malam yang paling berkesan baginya.


Dan ini juga tak lepas dari rencana gila Andrew yang bisa menyelamatkan semuanya walaupun di sisi lain ada yang berduka karena hal ini.


• Flashback On


"Apa? Han?" ucap Wisnu melingkarkan mata sempurna. "Apa yang terjadi?"


"Sebentar, sepertinya aku tahu apa yang terjadi dan cara satu satunya menyelamatkan mereka adalah kau dan Au," ucap Andrew tersenyum puas.


"Apa?"


Andrew kemudian mebisikkan sesuatu ke Au dan juga Wisnu dan entah rencana apa yang akan mereka lakukan.


"Kita harus menelepon polisi!"


"Tapi gak mungkin nanti Gea akan membunuh Amri," bantah Wisnu.


"Hmmm aku tahu siapa polisi yang pas untuk hal ini," ucap Andrew mengelus dagunya.


"Siapa?" tanya Wisnu pada Andrew.


"Kau tak perlu tau dan kau Wisnu harus jadi pancingan dan kemudian aku datang untuk membunuh dia, oke?"


"Bunuh?" ucap Au kaget.


"Apa? Kau gila!" timpal Wisnu.


"Yah untuk melawan orang gila kora harus menggunakan cara yang gila,"


` Flashback Off

__ADS_1


Mereka bahkan tidak tahu apa yang sedang Andrew rencanakan dan mungkin kata bunuh hanya kiasan, walaupun akhirnya dendam Andrew pada Gea yang telah membunuh adiknya dulu kini terbayarkan sudah tanpa harus mengotori tangannya.


__ADS_2