
Jangan lupa dilike sebelum membaca dan selamat membaca ♡
---
"Kondisimu sudah berangsur membaik dan juga tidak terlalu buruk, beristirahatlah dan semua akan baik baik saja," ucap Andrew setelah memeriksa kondisi Wisnu.
"Alhamdulilah," ucap Nissa memegang tangan Wisnu.
"Makasih yah sayang, akhirnya sekarang aku tahu bahwa aku tidak bisa hidup tanpa kamu," ucap Wisnu mengelus pipi Nissa lembut.
"Iya mas, tapi kamu harus berterimakasih juga sama Andrew, kalau gak ada dia mana mungkin aku bisa kemari," ucap Nissa melirik Andrew yang sedang menbereskan alat pemeriksaannya.
"Iya Dre, makasih yah! Gak salah aku punya sahabat kayak kamu," ucap Wisnu pada Andrew.
Andrew hanya tersenyum simpul lalu mendekati Wisnu dan memegang pundaknya.
"Apa sih yang gak buat sahabatku," ucap Andrew pada Wisnu. "Kalau gitu aku pergi dulu yah, nanti ganggu kalian romantisan lagi,
Andrew pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu sampai Wisnu mencegahnya.
"Tunggu!" ucap Wisnu menahan langkah Andrew.
"Ada apa?" ucap Andrew membalikkan badannya.
"Kau belum memberitahuku siapa yang mendonorkan ginjalnya buatku, siapa dia?" ucap Wisnu bertanya.
Andrew tampak terdiam dan kehilangan kata kata atas apa pertanyaan yang di lontarkan Wisnu.
"Hmmm kurasa kau tak perlu tau," ucap Andrew membalikkan badannya.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" ucap Wisnu dengan mata menyelidik.
__ADS_1
"Karena kau mungkin tak suka jika kau tau siapa yang mebdonorkan ginjalnya," ucap Andrew dengan menundukkan wajahnya.
"Aku lebih tidak suka jika kau menyembunyikannya," ucap Wisnu menatap tajam Andrew.
"Kurasa kau tak perlu tau!" ucap Andrew dengan nada sedikit meninggi.
Andrew diterpa perasaan bingung bagaimana dia bisa memberitahu Wisnu bahwa yang mendonorkan ginjal itu adalah ayahnya yang selama ini dia sangat benci.
"Aku harus tau!"
"Dia adalah pak Angga, ayahmu!" ucap Andrew terpaksa.
"Apa? Ayahku?" ucap Wisnu kaget. "Ta ... Tapi dia,"
• Flashback On.
"Mah, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" ucap Wisnu yang kala itu masih duduk di bangku sma.
Kehidupan mereka dulu sangat buruk dan serba kekurangan sampai sampai ketika pak Angga ayah Wisnu menderita sakit yang parah mereka tidak punya uang untuk melakukan operasi.
"Ta ... Tapi mah? Mereka itu sangat sombong bagaimana mungkin mereka mau meminjamkan uang untuk kita?" ucap Wisnu ragu.
"Ini adalah jalan satu satunya setidaknya kita sudah memcoba bukan?" ucap ibu Wisnu yang segera berangkat menuju kediaman orang tua Nissa, ditemani oleh Wisnu.
"Mas? Aku pergi cari pinjaman dulu yah, kamu disini aja sama Han," ucap ibu Wisnu pamit pada pak Angga. "Han jagain ayah yah?"
"Baik Mah," ucap Han yang kala itu masih duduk di bangku kelas tiga smp.
Setelah pamit pada suaminya ibu Wisnu di temani oleh Wisnu kemudian bergegas menuju kediaman orang tua Nissa.
Sesampainya dirumah yang megah tempat kediaman orang tua Nissa, Wisnu sangat terpesona oleh keindahan rumah ini, halaman yang luas serta jejeran mobil pribadi tak usah heran karena mereka memang orang terkaya saat itu sebelum keluarga ini jatuh miskin setelah di tipu oleh rekan kerjanya sendiri.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Ibu Wisnu mengetuk pintu rumah tersebut dengan cepat ditemani Wisnu yang ada di belakangnya.
Cekrek!
Pintu dibuka tampak bu Darsih yang membukakan pintu rumah tersebut, pakaiannya semua mahal dengan perhiasan di sekujur tubuhnya.
"Eh ada orang miskin, ada apa kalian datang kesini?" tanya bu Darsih dengan gaya angkuhnya.
"Maaf bu, kedatangan saya kesini ingin meminjam uang kepada ibu," ucap ibu Wisnu sambil memegang tangan bu Darsih namun buru buru di tepis oleh bu Darsih.
"Eh tangan kamu kotor jangan pegang saya!" ucap bu Darsih menarik tangannya.
"Ma ... Maaf bu, tapi tolong saya bu, saya butuh uang untuk operasi suami saya," ucap ibu Wisnu memohon.
"Saya tidak bisa, saya tidak mau karena kamu orang miskin nanti uang saya gak kembali lagi,"
"Ta ... Tapi bu saya mohon!" ucap ibu Wisnu bersimpuh sambil memegangi kaki bu Darsih.
"Eh apa ini? Sana jauh jauh kamu," ucap bu Darsih menarik kakinya sehingga ibu Wisnu terjatuh kebelakang.
"Mamah!" ucap Wisnu mendatangi mamahnya, "Mamah gak apa apa?"
"Gak apa apa nak!"
"Tante! Tante gak seharusnya begitu!" ucap Wisnu emosi. "Kami tahu kami orang miskin tapi gak seharusnya tante kasar begini,"
"Yah suka suka saya dong? Ini kan rumah saya? Jadi silakan kamu pergi saya banyak urusan," ucap bu Darsih ketus lalu menutup pintu rumahnya.
Wisnu sangat dibuat kesal oleh tingkah laku bu Darsih yang sombong itu sehingga Wisnu menyimpan beribu dendam dalam hatinya.
__ADS_1
"Tunggu saja, akan ada saatnya dimana kalian akan berlutut dihadapanku!" bathin Wisnu kesal.
Happy Reading ♡