
< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru :) >
---
"Kalau kamu masih cinta sama suamiku, mau kan jadi penggantiku?" tanya Eva yakin.
Syafa yang mengira Eva hanya bercanda langsung melingkarkan mata sempurna dan menatap tidak percaya ke arah Eva yang kini di penuhi dengan rasa menyerah.
"Ngomong apa sih kamu!"
"Aku ini udah gak lama lagi, aku lebih memilih mempertahankan anak ini dan walaupun itu harus mengorbankan nyawaku dan bila nanti aku sudah tidak ada aku mohon kamu harus menjadi istri penggantiku," ucap Eva dengan penuh harapan dan berlinang air mata.
"Sudahlah kamu jangan pesimis kita percayakan semua pada Allah, istiqomah aja dan terus berdoa semoga kedepannya ada mujizat dan kau dan anakmu bisa selamat," ucap Syafa menghapus air mata Eva.
"Tapi itu tidak mungkin!"
"Berarti kau meragukan adanya Allah," ucap Syafa menatap tajam Eva.
Eva kemudian kembali tertunduk dan menghapus air matanya sendiri dan berusaha tetap merenungi ucapan dan keputusannya.
"Ingat Va, bahwa siapa yang selalu istiqomah maka akan diberi jalan oleh Allah, jangan ragu dan jangan takut, insya allah kamu sembuh aku yakin itu," ucap Syafa menarik Eva kepelukannya.
Eva terdiam kemudian tersenyum hening dan memeluk balik sahabatnya itu yang seakan memberinya semangat dan kehangatan yang membuatnya kembali semangat walaupun dia tahu bahwa ini takkan bertahan lama.
Setelah selesai menjenguk Eva, Syafa pun segera berpamitan pulang pada Eva yang sudah mulai kelelahan dan kembali tertidur, Syafa sangat berharap bahwa Eva akan sembuh setidaknya Rendra tidak sedih kehilangan Eva karena ketika Rendra bahagia hati Syafa sudah sangat senang sekali rasanya.
Syafa kemudian berjalan menuju ke arah ruangan kakaknya Adnan yang memang bertugas d rumah sakit ini namun ia ingat bahwa ternyata kakaknya itu sudah pulang pagi tadi jadi ia memilih untuk berangkat menuju ke rumah Adnan.
Di dalam perjalanan Syafa sengaja tidak membeli apapun karena hari ini dia akan membuat repot kakaknya itu karena sekeras apapun dia terhadap kakaknya tetap Adnan adalah kakak penyabar bagi Syafa.
Syafa kemudian menyetop taksi di samping jalan tepi rumah sakit namun sedari tadi tidak ada taksi yang ia temui melainkan hanya kendaraan lalu lalang yang bersebaran dimana mana.
Pit! Pit!
Suara klakson mobil mengagetkan Syafa yang tengan berdiri dan terdiam di tepi jalan, Syafa kemudian memgalihkan pandangannya menatap mobil tersebut yang rupanya mobil dari Zain.
"Mau kemana?" tanya Zain turun dari mobilnya menghampiri Syafa.
__ADS_1
"Eh Kak Zain, aku mau kerumah kak Adnan," ucap Syafa ramah.
"Oh, bareng aku aja yuk!" tawar Zain pada Syafa.
Syafa tampak berpikir sejenak sembari menimbang nimbang tawaran dari Zain untuknya. "Hmmmm, gak ngerepotin kak?'
"Ya gaklah, yuk masuk!" ucap Zain berjalan masuk kedalam mobilnya sementara Syafa menyusul di belakangnya dengan wajah tertunduk.
Zain kemudian segera menjalankan mobilnya setelah Syafa naik di mobil, di sepanjang perjalanan semuanya hanya diam dan hanya hening di antara mereka kala itu sampai Zain kemudian memulai percakapan antara mereka.
"Kamu habis jenguk Eva yah?" tanya Zain pada Syafa.
"Iya, Kak, kakak gak jenguk?" ucap Syafa tersenyum kepada Zain.
"Aku semalam udah kok, ini malahan baru mau pulang lihat kamu disini yah ngapain gak sekalian," ucap Zain fokus ke arah jalan raya.
Mendengar penuturan Zain, Syafa hanya bisa ber oh ria sembari menganggukkan kepalanya dan beralih menatap ke arah lain.
"Kamu masih cinta sama Rendra?" tanya Zain.
"Gak lagi tuh," ucap Syafa singkat.
"Kamu yakin?" tanya Zain yang seakan mengintimidasi Syafa.
Syafa sekarang hanya memilih diam dab tidak mengeluarkan sepatah katapun karena mungkin ia akan salah menjawab nanti.
"Maaf kalau aku salah bicara," ucap Zain menghentikan mobilnya.
"Eh tidak apa apa," ucap Syafa meremas bajunya canggung.
Syafa kemudian beralih menatap Zain yang kini sudah mendekatkan wajahnya ke arah Syafa, Syafa sangat kaget dalam hati dia hanya bisa beristigfar karena ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Zain dan ia hanya memejamkan matanya sesaat.
Ceklekk!
Suara pintu mobil yang ternyata dibuka oleh Zain, setelah membuka pintu mobil di samping Syafa, Zain kemudian kembali keposisinya semula sementara Syafa kini bernapas lega dan merasa bersalah karena sudah bersikap suudzon terhadap Zain.
"Kalau begitu bisakah kau turun? Kita sudah sampai di rumah Adnan," ucap Zain melirik ke arah rumah megah dengan sebuah mobil yang terparkir di depannya.
__ADS_1
"Eh iya Kak, makasih yah!" ucap Syafa turun dari mobil.
"Sama sama, kalau gitu aku duluan yah? Assalamualaikum," ucap Zain menjalankan mobilnya kembali meninggalkan Syafa yang masih berdiri menatap mobilnya menjauh.
"Aku harap aku tidak mencintaimu," ucap Zain dalam hati.
---
"Selamat pagi, Mas," ucap Dian memeluk Han dari belakang yang sedang menikmati secangkir teh hangat dan membaca berita lewat ponselnya. "Kamu mau sarapan apa?"
Han melirik sekilas istrinya kemudian tersenyum simpul dan menaruh ponselnya di meja yang ada depannya.
"Gak usah," jawab Han singkat.
"Tapi? Kenapa?" tanya Dian melepas pelukannya.
"Karena aku maunya kamu," ucap Han menarik tangan Dian.
Han kemudian menarik tangan Dian hingga terjatuh dipangkuannya dan merapatkan sedikit tubuhnya sehingga Dian benar benar tidak punya ruang untuk bergerak.
"Apa ini?" ucap Dian berusaha melepaskan cengkraman Han yang menahan dirinya.
"Aku mau sarapannya pake kamu," bisik Han pelan yang membuat Dian bergidik ngeri.
Han.kemudian mendorong kursinya lalu berdiri menggendong Dian ke arah sofa ruang tamu lalu menindihnya disana, jarak antara wajah mereka kini sudah sangat dekat bahkan mereka bisa merasakan deruan napas masing masing saat itu.
Han kemudian mengangkat wajah Dian dan mendekatkan wajahnya sampai kini kedua pasangan suami istri itu terlibat dalam adegan yang mesra.
"Mas, nant...,"
Belum sempat Dian meneruskan kata katanya Han sudah menbungkamnya dengan ciumannya sehingga Dian sangat kesulitan untuk berbicara saat itu.
Dian yang mulai pasrah akan perlakuan suaminya itu hanya mengalungkan tangannya di leher Han, sementara Han mengangkat dagu Dian dan kembali memperdalam ciumannya sehingga pagi itu menjadi pagi yang sangat spesial bersamanya dan juga di dekatmu.
- Bersambung -.
Ya allah jiwa jomblonya Author meronta ronta!
__ADS_1