
< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru (~_^) >
"Ngumpul yuk!" ajak Nissa pada semua yang ada di meja makan.
"Ini dah ngumpul," ucap Ay mengunyah cemilan yang di tangannya.
"Iya tapi bukan di sini, di ruang tengah aja," ucap Nissa menjelaskan.
"Yaudah ayuk," ucap Ay berdiri dari duduknya. "Mas Andrew? Yuk!"
"Bentar kamu duluan aja," ucap Andrew fokus ke ponselnya.
Merasa di acuhkan dan sedikit kesal Ay kemudian mengambil ponsel suaminya dan melemparnya.
"Yah rusak nanti," ucap Andrew kaget.
"Bodo amat, yuk ke ruang tengah," ajak Ay menarik paksa Andrew.
"Mas Wisnu?" panggil Nissa.
"Yuk kita ke ruang tengah," ajak Nissa menarik tangan Wisnu.
Berbeda dengan Andrew, Wisnu memilih pasrah dan mengikuti segala kemauan istrinya.
"Kak Reza? Han? Yuk kita ikut," ajak Au pada Reza dan Han.
"Iya Au kamu duluan aja," ucap Reza berdiri dari duduknya.
"Oke,"
Au kemudian berjalan menyusul Ay dan Nissa yang berada di ruang tengah, sementara di belakangnya Han dan Reza mengikuti untuk berkumpul di ruang tengah.
"Nah sekarang dah ngumpul terus mau ngapain kita?" tanya Andrew.
"Yah kita gini aja, menikmati indahnya kebersamaan yang nanti belum tentu kita dapatkan," ucap Nissa bersandar di bahu Wisnu. "Tau gak sih? Berawal dari ketidak sengajaan, seorang mahasiswi sepertiku bisa menikahi dokter tampan yang dingin ini yang ternyata adalah masa laluku,"
__ADS_1
"Hahahaha, sama Nis, aku juga gak nyangka bisa menikah sama dokter absurd kayak dia ini," ucap Ay bersandar di bahu Andrew.
"Aku lebih gak nyangka bisa nikah sama mahasiswi bar bar kayak kau," ucap Andrew pada Ay.
"Apa!?" ucap Ay menatap tajam suaminya.
"Gak lo sayang, aku cuma bercanda aja," ucap Andrew menarik kepala Ay ke bahunya.
"Hah? Sweet banget kalian," ucap Au memonyongkan bibirnya.
"Iya kan Au, aku pelakor sweet lo," ucap Ay disambut tawa oleh Nissa dan Wisnu.
"Yah maaf, dulu aku khilaf," ucap Au memeluk Ay. "Maaf yah?"
"Iya gak apa apa," ucap Ay pada Au. "Dan kau Han makasih yah,"
"Untuk apa?" ucap Han bingung.
"Coba gak ada kau mungkin aku sudah mati saat itu dan walaupun aku gak tau bahwa kenapa kau bisa hidup lagi yang penting aku pernah menghiasi hatiku," ucap Ay tersenyum manis.
"Andaikan mereka tau bahwa aku bukan Han," ucap Han dalam hati.
"Au?" panggil Nissa.
"Apa Nis?" ucap Au berbalik menatap Nissa.
"Makasih yah?" ucap Nissa memeluk Au. "Kamu rela pertaruhkan nyawa kamu demi nyelamatin anakku kalau gak ada kau aku gak tau Amri masih hidup atau tidak,"
"Hmmm gak masalah Nis, Lagian aku juga dulu sering banget jahat sama kamu," ucap Au melepas pelukan Nissa. "Dan buat adikku Puput semoga dia bisa tenang di surga,"
"Amin," ucap Nissa dan semuanya serentak.
"Huft akhirnya lega, dan maaf yah istriku Gea udah buat onar," ucap Reza menarik napas lega.
"Iya kecebong nangka kagak apa apa," ucap Andrew memeluk sahabatnya itu. "Jangan sedih Bro, gue banyak kenalan janda kali aja cocok,"
__ADS_1
"kampret kau emang," ucap Andrew tertawa di sambut tawa semua orang.
"Yah akhirnya kisah Nissa yang menikahi Doktee dingin sudah selesai," ucap Nissa bernapas lega.
"Ternyata semua yang kita alami bisa diambil pelajaran bahwa kebersamaan adalah kunci membangun sesuatu yang kokoh," ucap Wisnu memeluk Nissa. "Dan kalian semua jadikan 5 tahun perjalanan ini sebagai suatu ujian dan sekarang adalah hari kelulusan kita,"
"Peluk," ucap Nissa memeluk Ay dan Au.
"Dan aku yakin bahwa suatu saat ada dimana kita akan menjadi nyata," ucap Ay.
"Dan kau Andrew? Makasih bro kalau gak ada kau mana mungkin aku bisa bersama Nissa sampai sekarang," ucap Wisnu memeluk Andrew.
Malam itu mereka habiskan dengan kebahagian karena beberapa tahun lagi akan ada generasi penerus kisah ini.
Jadikan apa yang kau baca menjadi sebuah pelajaran berharga bahwa kesetian bisa meluluhkan dinginnya es.
---
Wisnu menarik tangan Nissa ke pelukannya dan menyandarkannya di tembok.
"Atas dasar apa kau mencintaiku?" tanya Wisnu pada Nissa.
Jarak antara wajah mereka kini sangat dekat sehingga NIssa bisa merasakan hembusan napas suaminya.
"Apa aku harus menjelaskannya?"
"Setidaknya beri aku alasan,"
"Cinta tidak perlu alasan kan mas?" ucap Nissa mendekatkan bibirnya ke Wisnu dan kini mereka berpangutan mesra
"I love you mas," ucap Nissa melingkarkan tangannya di leher Wisnu.
"I love you too istriku," ucap Wisnu kembali mengecup Nissa dab menggendongnya manja. "Aku takkan melepaskanmu lagi,"
Nissa tersenyum lalu memejamkan matanya dan berharap ini takkan berakhir.
__ADS_1
< The End >