Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
52. MDD : Hanya Rindu


__ADS_3

Jangan lupa like sebelum membaca dan selamat membaca ♡


---


"Ay?" ucap Andrew dalam hati. "Aku rindu!"


Andrew masih memandangi foto tersebut dengan air mata yang berjatuhan dengan rasa kerinduan yang berat.


"Andrew?" ucap Wisnu membuka pintu tanpa mengetuknya.


Seketika Andrew langsung kalang kabut menyimpan foto tersebut dan menghapus air matanya kemudian bersikap seperti biasa.


"Ups!" ucap Wisnu membalikkan badannya. "Maaf!"


Wisnu kemudian melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruangan itu sebelum Andrew mencegahnya keluar.


"Tunggu!" ucap Andrew menahan Wisnu.


Wisnu kemudian menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke arah Andrew lalu bersikap formal.


"Ada apa Nu?" ucap Andrew berjalan menuju ke arah Wisnu yang masih berdiri tidak karuan.


"Hmmm ... Sebenarnya aku hanya ingin pamit karena hari ini aku sudah boleh pulang," ucap Wisnu menerangkan.


Mendengar penuturan Wisnu, Andrew hanya bisa ber oh ria dan menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu aku permisi, sebab Nissa sudah menungguku dan terima kasih untuk selama ini," ucap Wisnu memeluk sahabatnya itu.


"Sama sama," ucap Andrew melepas pelukannya dan Wisnu pun keluar dari tempat itu sedangkan Andrew hanya tersenyum sebab pasti Wisnu sudah tau apa yang terjadi.


Setelah Wisnu keluar dari ruangannya. Andrew kemudian berjalan kembali ke mejanya dan duduk kembali ke kursinya kembali dalam lamunanan kerinduan kepada Ay dan anaknya.


Andrew merenggangkan badannya dan menguap karena mengantuk akibat tidak cukup tidur untuk beberapa hari ini, Andrew kemudian menyandarkan kepalanya di tembok belakang kursinya dan mulai memejamkan matanya dan terbuai dalam mimpinya untuk melepas lelah.

__ADS_1


---


"Ay?" ucap Andrew yang tengah duduk menggendong anaknya.


"Iya mas?" ucap Ay yang sedang duduk disampingnya.


"Anak kita cantik yah," ucap Andrew mengelus pipi Dela anaknya.


"Iya kayak aku kan?" ucap Ay menghadap antusias ke Andrew.


Andrew tersenyum lalu menggelengkan kepalanya dan menatap ke arah Ay.


"Siapa bilang kayak kamu?" ucap Andrew mengalihkan pandangannya kembali ke arah sang putri.


"Apa?"


Ay tampak kesal dengan ucapan suaminya dan mengerucutkan bibirnya hingga beberapa centi ke depan yang membuat Andrew tersenyum geli. Ay kemudian menginjak kaki suaminya dengan sekuat tenaga akibat kesal pada suaminya.


"Aw!" keluh andrew kesakitan ketika diinjak kakinya oleh Ay.


"Gak!" jawab Andrew berusaha bersikap biasa.


Mendengar penuturan suaminya Ay semakin kesal dan ingin sekali menginjak keras kaki suaminya itu namun bukan itu yang ia lakukan dan malah menunjukkan wajah cemberut serta bibir yang dikerucutkan sehingga membuat Andrew tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


"Masih ngambek yah?" tanya Andrew pada Ay.


"Gak tau!" jawab Ay ketus.


Andrew kemudian tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke pipi Ay dan cup, sebuah kecupan jatuh di pipi Ay yang membuat Ay terperanjat kaget.


"Kalau gini masih ngambek gak?" ucap Andrew kembali.


Seketika pipi Ay memerah tak karuan dan tersenyum tersipu malu akibat perlakuan suaminya.

__ADS_1


"Apaan sih mas," ucap Ay pada Andrew.


Ay kemudian menjauhkan wajah dari Andrew dan melipat kedua tangannya untuk menahan malu kepada Andrew, sedangkan Andrew mengelus pili Dela dan tersenyum sembari melirik kearah istrinya.


"Yaudah sini," ucap Andrew menarik kepala Ay kedalam pelukannya dan masih tetap menggendong Dela.


"Hmmm, aku udah gak ngambek lagi kok," ucap Ay memeluk Andrew.


Andrew dan Ay memandang ke depan dan melihat hamparan taman serta berbagai jenis bunga yang tumbuh di situ, mata Andrew fokus kepada satu bunga yang sangat indah menurut Andrew dan berniat memetiknya untuk Ay.


"Bisa kau ambil Dela dulu aku ada sesuatu untukmu," ucap Andrew menyerahkan Dela kepada Ay.


Andrew kemudian berjalan menuju hamparan bunga dan memetik satu untuk Ay yang menurutnya sangat indah dan saat ia hendak kembali ke tempat duduknya ia melihat Ay dan anaknya sudah ada disana.


Seketika Andrew terduduk lemas dan menatap lemas bangku yang sudah kosong tersebut sambil meneteskan air matanya.


"Ay!" teriak Andrew sembari terus meneteskan air matanya.


---


"Hah!"


Andrew terbangun dari tidurnya dengan keadaan pucat serta keringat yang bercucuran serta napas yang masih memburu.


"Ternyata hanya mimpi,"


"Kuharap ini menjadi kenyataan,"


Andrew menghela napas panjang dan mengambil foto Ay dan istrinya dari laci mejanya kemudian menatapnya penuh kerinduan.


"Aku akan menjemputmu sayang," ucap Andrew memeluk foto Ay dan anaknya kemudian menyandarkan kepalanya kembali dan memejamkan matanya.


"Ay? Aku rindu!" guman Andrew meneteskan air matanya.

__ADS_1


Andrew kemudian kembali tertidur sembari melupakan mimpinya dan berharap bisa bertemu dengan Ay kembali didalam mimpinya.


__ADS_2