
" sebuah tulisan takkan jadi indah bila tidak bisa membuat pembaca larut kedalam tulisan tersebut, larut? Air kali ah larut 😀 "
Author 17 Mei 2020 < 00 : 30 >
---
"Ini kan?" ucap Andrew ragu. "Ini nomor telpon Gea!"
"Gea?" guman Wisnu bingung.
"Kenapa nomor ini masih aktif?" tanya Andrew pada Wisnu. "Bukannya nomor ini sudah di nonaktif kan?"
"Memang siapa Gea?" tanya Wisnu pada Andrew.
"Dia adalah adik kembar Dea," ucap Andrew dengan suara merendah.
"Apa!?"
"Kita harus berhati hati padanya," lanjut Andrew masih dengan suara yang terkesan menakutkan.
"Kenapa?" tanya Wisnu kembali.
"Dia adalah psycopat!" ucap Andrew menekan kata "psycopat"
"Jadi?"
Andrew menghela napas panjang kemudian menyandarkan tubuhnya ke job mobil Wisnu, sementara Wisnu segera menaikkan laju kendaraannya karena khawatir akan keselamatan anaknya yang kini berada di tangan psycopat.
"Kita harus lapor polisi," sergah Andrew tiba tiba.
"Tidak bisa!" bantah Wisnu fokus mengendarai mobilnya.
"Kenapa?" tanya Andrew pada Wisnu.
"Kalau kita lapor polisi keselamatan Amri semakin diambang batas," ucap Wisnu kembali.
"Oh itu?" ucap Andrew santai. "Tenang aku tau cara membuat polisi itu datang tanpa sepengetahuan si wanita psycopat itu,"
"Apa?"
Belum sempat Andrew memberitahu rencananya tiba tiba Wisnu menekan klakson panjang dan mengerem mendadak.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Andrew panik.
"Ada perempuan di depan," ucap Wisnu turun dari mobilnya.
"Siapa?" tanya Andrew menyusul Wisnu.
Wisnu dan Andrew tampak panik kemudian turun dari mobil untuk mengecek siapa yang hampir mereka tabrak.
Wanita tersebut pingsan dan Andrew kemudian masuk kedalam mobil untuk mengambil kotak p3k.
Sementara itu Wisnu membalikkan tubuh wanita tersebut sehingga terlihat wajah dari wanita tersebut.
"Auran?" guman Wisnu dengan mata di bulatkan sempurna.
"Siapa dia?" tanya Andrew bingung.
"Bantu aku bawa dia kemobil," ucap Wisnu mengangkat tubuh Au masuk kedalam mobil.
Wisnu dan Andrew kemudian membawa Au masuk kedalam mobil untuk di obati oleh Andrew.
Terdapat banyak luka lecet di sekitar tubuhnya, Andrew kemudian mengobati luka luka Au dan mengoleskan minyak kayu putih ke wajahnya agar ia tersadar dari pingsannya.
Tak lama kemudian Au terbangun dari pingsannya dan tampak panik namun ia segera bernapas lega ketika melihat Wisnu.
"Darimana kau tahu?" tanya Wisnu bingung.
"Han dan adikku juga dalam kondisi mengenaskan kita harus segera lapor ke polisi,"
"Apa? Han?" ucap Wisnu melingkarkan mata sempurna. "Apa yang terjadi?"
"Sebentar, sepertinya aku tahu apa yang terjadi dan cara satu satunya menyelamatkan mereka adalah kau dan Au," ucap Andrew tersenyum puas.
"Apa?"
Andrew kemudian mebisikkan sesuatu ke Au dan juga Wisnu dan entah rencana apa yang akan mereka lakukan.
"Apa? Kau gila!"
"Yah untuk melawan orang gila kora harus menggunakan cara yang gila,"
Wisnu dan Au kemudian mengangguk kemudian segera melaksanakan aksi mereka sementara Wisnu tampak menelepon seseorang di dalam mobil.
__ADS_1
"Oke mereka sudah kesana segera kirim bantuan dari arah belakang!" ucap Andrew mematikan telepon sepihak.
---
"Gea!" teriak Wisnu mencari keberadaan Gea. "Dimana kau wanita iblis?"
Wisnu terus berteriak memanggil nama Gea namun tidak menemukan apa apa sebelum ia merasakan rasa sakit sehingga ia tidak sadarkan diri dan semua nampak gelap dimatanya.
---
"Ada apa ini?" ucap Andrew yang datang dari arah belakang.
"Kalian yang ada apa?" ucap Reza pada Andrew.
"Eh biji karet ngapain kau kesini?" tanya Andrew ketus.
"Woy kecebong nangka, emang penting kalau gue kesini? Yah gue mau bantu sohib gue lah si Wisnu,"
"Dari mana lo tau?" ucap Andrew menatap Reza.
"Woy lo pikun atau apasih? Kan lo sendiri yang ngehubungin gue," ucap Reza menjelaskan.
"Idih gue lupa sorry!" ketus Andrew.
"Dasar dokter pikun! Gimana gak sekarat tuh pasien,"
"Woy patung cibodas, lantang kali mulutmu, gulat yuk dah lama nih gue gak gulat!" tantang Andrew pada Reza.
"Sorry, polisi setampan dan sekeren gue gak pantas gulat sama dokter alay kayak kau,"
Reza kemudian membawa pasukannya memasuki area rumah tersebut dan mengepung agar Gea tidak bisa kabur.
"Aku bukan pikun tapi cuma lupa!" teriak Andrew kesal.
Sementara itu Au nampak tertawa kecil kemudian mendekati Andrew.
"Pak dokter, lupa ama pikun sama aja kan?"
"Kagak!"
"Kok kagak?" tanya Au bingung.
__ADS_1
"Kagak ada bedanya," ucap Andrew disambut tawa Au.
< Happy Reading >