Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
My Cold Police : Menguji Kesabaran


__ADS_3

< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru :) >


---


Syafa kemudian beralih menatap Zain yang kini sudah mendekatkan wajahnya ke arah Syafa, Syafa sangat kaget dalam hati dia hanya bisa beristigfar karena ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Zain dan ia hanya memejamkan matanya sesaat.


Ceklekk!


Suara pintu mobil yang ternyata dibuka oleh Zain, setelah membuka pintu mobil di samping Syafa, Zain kemudian kembali keposisinya semula sementara Syafa kini bernapas lega dan merasa bersalah karena sudah bersikap suudzon terhadap Zain.


"Kalau begitu bisakah kau turun? Kita sudah sampai di rumah Adnan," ucap Zain melirik ke arah rumah megah dengan sebuah mobil yang terparkir di depannya.


"Eh iya Kak, makasih yah!" ucap Syafa turun dari mobil.


"Sama sama, kalau gitu aku duluan yah? Assalamualaikum," ucap Zain menjalankan mobilnya kembali meninggalkan Syafa yang masih berdiri menatap mobilnya menjauh.


Setelah melihat mobil Zain menjauh dan menghilang dari pandangannya Syafa kemudian segera melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah kakaknya.


Tampak sepi namun Syafa yakin kakaknya ada didalam ia tidak mengetuk pintu karena Adnan sudah memberinya kunci cadangan rumah tersebut, uhhh! Kakak yang sweet jika adikmu tidak sejahil Syafa.


Krek! Ceklek!


"Assalamualaikum," ucap Syafa membuka pintu rumah Adnan.


Kosong. Tidak ada siapapun di sini pasti Adnan sedang berada di ruang kerjanya, Syafa kemudian meletakkan tasnya dan segera melangkahkan kakinya menuju ruangan kerja kakaknya.


Yah benar, ternyata Adnan sudah ada disana sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya namun inilah saat yang tepat untuk menganggu kakaknya.


"Assalamualaikum, Kak," ucap Syafa pada Adnan.


Adnan yang tadi fokusnya ke laptop segera menatap adiknya itu dan tersenyum simpul sembari mengulurkan tangannya untuk disalami oleh Syafa.


"Waalaikumsalam," ucap Adnan singkat kemudian fokus lagi ke laptopnya.


Kak Adnan?" panggil Syafa pada kakaknya yang sibuk dengan laptop di depannya.

__ADS_1


Syafa tampak berjalan masuk kedalam ruangan Adnan dan langsung duduk di kursi sambil kursi kakaknya itu, sedangkan Adnan hanya menatap sekilas kemudian menanyakan apa keperluan adiknya kesini.


"Iya, Dek? Ada apa?" tanya Adnan yang kini beralih fokus ke adiknya.


"Bantuin aku dong!" ucap Syafa merangkul tangan kakaknya.


"Bantuin apa, Dek?" tanya Adnan.


"Beliin aku martabak dong," rengek Syafa manja.


"Kenapa gak beli sendiri?" tanya Adnan cuek dan kembali fokus ke laptopnya.


"Udah kakak aja nanti aku jagain rumahnya, masa iya gadis secantik dan seimut aku pergi sendiri?" ucap Syafa dengan pipi yang dikembungkan sehingga membuatnya terlihat imut.


Adnan kemudian menarik napas panjang dan menutup laptopnya dan berdiri dari duduknya sembari tersenyum tulus, walaupun Syafa tau kakaknya itu sudah sangat kelelahan.


"Yaudah tunggu sini yah! Jangan sentuh apapun! Oke?" ucap Adnan yang di sambut anggukan manja Syafa.


Adnan kemudian segera mengambil kunci mobilnya dan memberi salam pada Syafa kemudian melangkahkan kakinya keluar rumah untuk segera membelikan martabak pesanan adiknya itu.


Suara deru mesin mobil Adnan memecah keheningan, ia kemudian segera menjalankan mobilnya mencari tempat yang menjual martabak yang Syafa mau itu.


Di sepanjang perjalanan Adnan hanya fokus menyetir sembari memperhatikan kiri dan kanannya yang barang kali terdapat stand penjualan martabak yang sedang beroperasi.


Namun saat Adnan sedang menyetir mobilnya dalam keadaan sedang, tiba-tiba seorang wanita melintas begitu saja di depan mobilnya sehingga ia otomatis mengerem mobilnya itu.


Adnan panik namun ia semakin panik tak kalah wanita itu berdiri dan langsung masuk kedalam mobil Adnan, Adnan yang masih shock dan tidak mengerti apa apa hanya bisa melongo dan menatap wanita itu.


Wanita itu tampak ketakutan dan gelisah sambil menutupi wajahnya yang membuat Adnan semakin panik dibuatnya.


---


"Ayolah sayang, makan sedikit saja," ucap Rendra menyuapkan bubur yang sudah di sediakan dokter untuk Eva.


Eva yang sedari tadi tidak ada nafsu makan sudah berulang kali menolak suapan dari suaminya itu, namun bukan Rendra namanya kalau dia menyerah sekarang.

__ADS_1


"Ayolah, satu suap aja," ucap Rendra memelas.


"Gak mau!" ucap Eva ketus.


"Kenapa? Ayolah aku mohon," ucap Rendra mengarah sendok berisi bubur ke mulut Eva.


"Aku bilang gak mau!" bentak Eva mendorong Rendra menjauh sehingga membuat Rendra terjatuh kebelakang dari kursinya yang lumayan tinggi.


"Aww!" ringis Rendra saat kepalanya membentur lantai.


Eva yang tidak berniat melakukan itu langsung turun dari ranjangnya dan membantu Rendra untuk berdiri dengan wajah pucat dan panik Eva segera mengulurkan tangannya membantu suaminya itu.


"Om? Om gak apa apa kan?' tanya Eva membantu Rendra untuk berdiri.


Rendra tidak menjawab pertanyaan Eva dan malah segera menggendong Eva dan menidurkannya di ranjang dengan keadaan menindih Eva.


"Kau terlalu mengujiku, aku sudah sangat sabar terhadapmu gadisku tapi kau selalu bersikap dingin," ucap Rendra menyeringai pada Eva.


"Ma ... Maaf!" ucap Eva gugup.


"Maaf?"


Rendra kemudian menarik tubuh Eva kepelukannya dan memangkunya kemudian menaruh kepalanya di pundak Eva yang membuat Eva semakin mengigil ketakutan akan tingkah suaminya itu.


"Aku sudah sabar tetapi kau selalu mengujiku dan baiklah akan kuberikan sebuah permainan manis untukmu, sayang!" bisik Rendra yang membuat Eva bergidik ngeri mendengarnya.


Rendra kemudian membalikkan tubuh Eva namun masih dalam posisi memangkunya sehingga wajah dari mereka berdua kini saling berpapasan.


Rendra yang sedari tadi sudah tidak tahan segera mendorong wajahnya sehingga kini bibir mereka sudah berpangutan mesra, sementara Eva hanya melingkarkan mata sempurna karena menerima perlakuan secara mendadak oleh suaminya.


"Astagfirullah! Woy sadar! Rumah sakit woy kalau mau main noh dirumah!" ucap Amri yang datang entah darimana mengagetkan mereka berdua yang sontak langsung salah tingkah dibuatnya.


- Bersambung -


Jiwa jomblo Author ya allah!!!

__ADS_1


__ADS_2