Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
My Cold Police : Protokol Misi 5


__ADS_3

< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru (~_^) >


---


Setelah Ali keluar dari ruangannya, Zain segera beranjak menuju ke ruangan Darius untuk menjalankan misi selanjutnya yang diberikan oleh Amri dengan membawa sapu tangan berisi obat bius.


Ia berjalan cepat agar bisa lebih cepat keluar dari rencana atasannya ini dan mulai mengatur strategi untuk menyergap si pelaku asli dalam kasus ini.


Tok!


Tok!


Tok!


"Siapa?" tanya Amri dari dalam ruangan Darius.


"Ini saya pak, Zain," ucap Zain membuka pintu dan berjalan masuk kedalam ruangan tersebut.


"Oh Zain, silakan duduk," ucap Darius ramah.


"Eh iya pak, tapi saya ada perlu dengan atasan saya terlebih dahulu," ucap Zain mengedipkan matanya pada Amri.


"Apa?" tanya Amri pada Zain.


"Ini lo pak!" ucap Zain menunjukkan sapu tangannya pada Amri.


Amri yang awalnya agak bingung kemudian mengerti saat Zain menyerahkan sapu tangan tersebut kepada Amri yang kali ini bertugas untuk membius Darius.


"Kita lakukan sekarang?" tanya Amri berbisik.


Zain kemudian menganggukkan kepalanya dan memberikan jempolnya untuk Amri sebagai tanda ia sudah siap menerima segala reaksi yang bakal terjadi.


1


2


3


"Hmmm mampos kau!" ucap Amri geram membekap mulut Darius.


"Iya pak, orang begini mah kalau gak mampos gak seru," ucap Zain menyemangati.


Kejadian ini berlangsung cukup lama, Amri yang berusaha membuat Darius pingsan dan Zain yang memegangi anggota badan Darius yang cukup kekar akibat rajin ngegym, tapi bagaimanapun caranya Amri dan Zain bisa menang dengan senyum kepuasan.


Setelah sukses melumpuhkan musuhnya Amri segera kembali duduk di sofa dan mengatur rencana untuk membawa keluar Darius dari kantornya.


Namun sebelum itu ia mendapati ponselnya berdering saat menerima telepon dari Andrew ayah mertuanya.

__ADS_1


---


Nissa dan Au berjalan menuju halaman rumah Ay yang dimana terdapat bangku taman juga pepohonan rindang yang sangat meneduhkan.


Angin sepoi sepoi kadang kala membuat mereka terlarut dalam buaian sampai mereka menangkap sebuah pandangan yang menganggu penglihatan mereka.


Ay duduk dengan wajah sedih dan juga tatapan kosong memandang taman bunga mini miliknya sepertinya pikirannya benar benar sudah melayang dan berpisah dari raganya.


Nissa dan Au yang tadi hanya berdiri kini saling bertatapan melihat sahabat mereka kini sedang dalam keadaan gundah, bagaimana tidak jika seorang ibu harus menghadapi bahwa anak bungsunya kini sedang dalam keadaan berbahaya ditangan seorang mafia yang belum tentu anaknya masih bernapas sampai sekarang.


Nissa dan Au pun berjalan pelan ke arah tempat duduk Ay sekedar untuk menghibur atau menemaninya yang kini sedang keadaan terguncang.


"Ay?" panggil Nissa pelan sebelum ia duduk dibangku yang sama begitupun dengan Au yang duduk di samping kanan Ay.


Ay tidak menjawab pertanyaan sahabatnya dan hanya terlihat sedih memandang kosong dan tak merasakan orang di sekitarnya.


"Ay? Kamu kenapa sih?" tanya Au khawatir.


"Anak aku dimana?" tanya Ay dengan air mata yang mulai menetes. "Siapa sih yang ngambil anak aku? Aku tuh gagal jadi ibu,"


Ay mulai meneteskan air mata kesedihan yang membuat Au dan Nissa juga ikut meneteskan air mata dan memeluk sahabat mereka itu.


"Jangan bilang gitu ah, kamu bukan ibu yang gagal kamu udah berhasil malah," ucap Nissa sedih memeluk Ay.


"Tapi, anakku masih hidup kan?" tanya Ay dengan lemah seperti tekanan bathin yang begitu berat.


Ay terdiam dan mebalikkan kepalanya menatap Nissa dan menggelengkan kepalanya.


"Jadi kenapa kau bertanya begitu? Eva akan selamat Eva masih hidup aku yakin itu," ucap Nissa meyakinkan Ay.


Ay kemudian kembali menatap lurus kedepan dan menganggukkan kepalanya dan terlelap dalam pelukan kedua sahabatnya.


---


Rendra dan pasukan A kini sudah memasuki area lawan dan jalan satu satunya untuk masuk kedalam adalah melewati gerbang yang dijaga oleh dua orang bersenjata.


Doni, Andre, Azraf adalah pasukan A yang dibawah oleh Rendra untuk membantunya untuk masuk kedalam dan menyelamatkan Eva.


"Kayaknya penjaga didepan ini biar aku yang urus," ucap Andre yakin dengan mengacungkan senjatanya. "Tentunya dengan bantuan Doni,"


"Apa? Katanya biar kau aja yang urus?" protes Doni.


"Yaudah sih bantu aja," timpal Azraf.


"Udah deh gue setuju," ucap Doni berjalan bersama Andre dengan keadaan kesal.


Sementara itu Azraf dan Rendra berjalan menuju area belakang menunggu aksi Doni dan Andre untuk melumpuhkan penjaga.

__ADS_1


Dor!


Dor!


Dor!


Tiga kali tembakan terdengar nyaring ditelinga Rendra dan Azraf sehingga membuat mereka berdua bergegas mengecek ke gerbang utama tempat ini.


Di sana sudah terbaring dua penjaga tadi dengan keadaan tengkurap dan penuh darah namun naas suara tembakan itu terdengar Sampe kedalam yang membuat beberapa penjaga keluar dan bersiap dengan senjatanya.


Mereka berempat langsung panik kalang kabut dan memilih bersembunyi di sisi pagar dan memilih masuk dengan memanjat pagar.


"Don, buruan lo manjat," ucap Azraf pada Doni.


Doni yang setuju kemudian segera memanjat tembok itu dan menatap sekelilingnya mencari tempat aman.


Dor!


Suara tembakan terdengar dan tak lama kemudian Doni terjatuh dari tembok dengan keadaan berlumuran darah segar yang membuat Azraf, Rendra dan Andre bergidik ngeri.


Tak ada jalan lain mereka bertiga harus meninggalkan Doni dan masuk ke area melewati jalan utama dan menghadapi beberapa penjaga.


"Woy rupanya disini kalian," ucap salah satu dari mafia itu dengan bersedia dengan pistolnya.


"Pak Rendra masuk duluan biar saya dan Andre yang melawan mereka,"


"Ta ... Tapi kalian bagaimana?" ucap Rendra ragu.


Dor!


Terdengar suara tembakan yang mulai ditembakan oleh para mafia tersebut membabi buta dan kini terjadi kejadian tembak menembak diantara Andre dan Azraf bersama dengan beberapa anggota mafia.


"Saya tidak bisa masuk! Saya harus membantu kalian," ucap Rendra bersiap dengan senjatanya.


Dor!


Salah satu tembakan kini mengenai lengan Andre yang menbuatnya tersungkur kesakitan.


"Andre!?" teriak Rendra emosi.


"Masuk pak!" teriak Azraf tak kalah emosi.


Rendra tidak ada pilihan lain ia harus menyelamatkan Eva karena harapan satu satunya hanya ada di Rendra karena nyawa kedua polisi terbaik ini dalam bahaya dan keberhasilan hanya ada ditangan Rendra sampe menunggu pasukan B datang.


- Bersambung -


Menurut para readers yang budiman yang cantik dan tampan tebakan kalian siapa nih penjahatnya? Terus nanti kita ceritain kisah Dela dan Amri juga yah? Atau gak usah? Soalnya cerita Amri dan Dela seru juga lo hehehehehe jawab dikomen yah.

__ADS_1


__ADS_2