Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
39. MDD : Perpisahan


__ADS_3

"Apa kau yakin Ay?" ucap Andrew pada Ay.


"Iya mas, orang tuaku meminta aku melahirkan di paris bersama kedua orang tuaku," ucap Ay menjelaskan.


"Tapi maaf, aku tidak bisa mendampingimu karena saat ini Wisnu perlu bantuanku, kalau sudah selesai aku akan menyusul dan menjemputmu kembali," ucap Andrew memeluk tubuh istrinya itu.


Koper dan perlengkapan sudah disiapkan Ay untuk memenuhi permintaan orang tuanya agar melahirkan di paris.


Malam ini aangat beda bagi Andrew karena besok ia tak bisa melihat wajah istrinya untuk beberapa saat, Andrew bisa memilih ikut namun ia tak mungkin meninggalkan Wisnu dalam kondisi begini, sahabatnya itu butuh dirinya.


"Mas? Kalau semuanya sudah selesai kau berjanji akan menyusulku, oke?"


"Oke sayang!" ucap Andrew mengelus rambut Ay.


----


Wisnu berbaring dikamarnya sementara Nissa sudah tertidur disampingnya dengan nyenyak istrinya tidur, sedangkan Wisnu tidak bisa tidur karena ia memikirkan sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya.


Ia berjalan menuju ke jendela kamarnya yang besar dan membuka horden kemudian menatap lurus kedepan yang berisi hamparan bintang dan keindahan kota dimalam hari.


"Apakah aku bisa melihat keindahan ini nanti?" ucap Wisnu dalam hati.


Tak terasa air mata jatuh disudut pipi Wisnu kemudian dia menutup kembali horden dan memeluk istrinya seakan tak ingin melepaskannya.


"Mas?" ucap Nissa yang sadar bahwa ia sedang dipeluk.


Wisnu hanya berdehem pelan dan semakin erat memeluk istrinya.


"Kamu kenapa?" ucap Nissa bertanya.


"Aku hanya mau begini aku mohon!" ucap Wisnu.


"Baiklah selamat malam sayang!" ucap Nissa kembali tertidur.


---

__ADS_1


Pagi sudah tiba, Nissa seperti biasa sedang sibuk di dapur dan membuat masakan dengan gaya ala masterchef.


"Selamat pagi sayang!" ucap Wisnu memeluk Nissa dari belakang.


"Pagi mas!" ucap Nissa tetap mengerjakan apa yang ia lakukan.


"Apa aku bisa membantumu?" ucap Wisnu menawarkan.


"Hmmm gak usah nanti kamu kecapean penyakitmu kambuh," ucap Nissa melepas pelukan suaminya.


"Gak mau! Aku mau bantu kamu," ucap Wisnu kembali memeluk Nissa dari belakang.


"Yaudah ambilin aku tomat di kulkas," ucap Nissa pada suaminya.


"Oke," ucap Wisnu berjalan menuju kulkas untuk mengambil tomat.


Tit! Tit! Tit!


Suara ponsel Nissa berdering yang menunjukkan panggilan telpon dari Ay, Nissa mengangkatnya dan seketika wajahnya berubah pucat dan panik.


"Kite ke bandara mas!" ucap Nissa pada Wisnu.


"Tapi ada apa?" ucap Wisnu bingung.


"Udah mas nanti aku jelaskan," ucap Nissa menarik tangan Wisnu.


Bahkan mereka belum mandi tapi dengan pedenya mereka ingin perfu ke bandara tapi biarlah itu urusan mereka bukan?


Wisnu menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh dan juga agak bingung dengan apa yang dikatakan Ay dalam telpon sehingga membuat Nissa begitu panik.


Mobil Wisnu kini telah sampai di bandara Nissa segera mencari keberadaan Ay tapi ia tidak menemukannya, ia melihat Andrew di sana berdiri menatap pesawat yang sudah lepas landas, apa ini? Apakah Ay sudah pergi? Tidak!


"Andrew? Ay mana?" ucap Nissa dengan mata sembab.


"Ay?"

__ADS_1


"Aku disini Nissa!" ucap Ay pada Nissa dan seketika membuat Nissa memeluk sahabatnya itu.


"Kenapa kau pergi?" ucap Nissa pada Ay.


"Kan cuma sementara kita masih tetap sahabat bukan? Aku pergi bukan tak kembali ada saatnya nanti aku kembali bersama anakku!" ucap Ay memeluk sahabatnya.


"Aku heran pada kalian! Ay sebesar itu kau tidak melihatnya?" ucap Wisnu berpikir.


"Bisa diam gak mas?" ucap Nissa dengan tatapan tajamnya.


"Iya gak bakal ribut!"


"Ay beneran bakal pergi?" ucap Nissa bertanya.


"Ini sudah keputusanku, tolong jaga mas Andrew yah kalau sampai menggoda perempuan lain hubungi aku," ucap Ay pada Nissa.


"Ah! Disaat seperti ini kau masih bisa bercanda?" ucap Nissa kesal.


"Udah dong! Kan aku bakal balik marpuah!" ucap Ay menghapus air mata sahabatnya.


"Tapi jubaidah,"


Belum selesai Nissa mengucapkan kata katanya terdengar sebuah pengumuman bahwa pesawat akan segera berangkat.


"Ay?" ucap Nissa menahan sahabatnya.


"Dadah Nissa!" ucap Ay melangkah meninggalkan Nissa. "Mas Andrew aku pergi dulu yah!"


"Iya sayang!" ucap Andrew memeluk istrinya.


Ay segera pergi karena pesawar akan segera berangkat hanya ada tangis yang melepas kepergian Ay dan Andrew hanya bisa menatap sampai Andrew menyelesaikan semuanya dan menjemput Ay pulang.


"Kuharap kau baik baik saja sayang!" ucap Andrew dengan airmata bening yang mengalir.


Happy Reading♡

__ADS_1


__ADS_2