
< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru (~_^) >
Wisnu memasuki ruangan rawat Nissa, Nissa tampak tersenyum manis dan seorang bayi laki laki lucu dan manis tertidur disampingnya.
"Nissa?" ucap Wisnu menghampiri Nissa dan mengusap kepalanya. "Kamu gak apa apa kan sayang?"
Wisnu sangat khawatir akan kondisi istrinya terlihat dari wajah yang sudah pucat pasi melihat kondisi Nissa yang masih lemah namun dibalik itu semua masih ada senyum yang terpancar dari wajah Nissa.
"Gak apa apa kok mas," ucap Nissa memegang wajah Wisnu.
Wisnu tersenyum kemudian mengambil tangan Nissa dan meletakkan di dadanya.
"Aku pernah berkata bahwa jantung ini takkan berdetak bila kau tidak ada," ucap Wisnu dengan tatapan sendu.
"Dan aku juga tau bahwa aku tidak bisa hidup ketika tidak mendengar detak jantungmu," ucap Nissa membalas tatapan Wisnu.
Tak lama kemudian pintu ruangan di buka oleh Andrew yang membawa Ay di belakangnya.
"Nis kamu gak apa apa kan?" tanya Ay panik.
"Gak kok, udah baikan," ucap Nissa menenangkan.
"Eh selamat yah, kayaknya cowok lagi nih? Kapan bikin ceweknya," ucap Andrew sarkas yang di sambut oleh tatapan tajam dari Wisnu dan Ay sedangkan Nissa hanya tersenyum kecil melihatnya.
"Eh Sorry," ucap Andrew salah tingkah.
Tit! Tit! Tit!
Ponsel Wisnu bergetar menerima pesan dari seseorang yang ia tidak kenal.
[Anakmu dalam bahaya jika engkau ingin anakmu selamat silakan datang ke alamat ini dan jangan membawa polisi atau nyawa anakmu dalam bahaya]
"Anak?" ucap Wisnu dalam hati. "Amri?"
Wisnu panik kemudian segera keluar mengecek Amri namun nihil Amri sudah tidak ada di tempatnya, setelah itu Wisnu masuk lagi ke ruangan dan menarik Andrew pergi dari tempat itu.
"Ikut aku," ucap Wisnu setengah berlari.
---
"Awww!"
"Jangan Gea!" ucap Au berteriak.
__ADS_1
Tampak darah mulai mengucur dari bekas sayatan itu yang membanjiri wajah dan muka Put.
"Jangan apa?" ucap Gea tersenyum sinis.
Gea kemudian beranjak ke kaki Put dan mengelusnya lembut namun terkesan seram karena tangan Gea benar benar dingin.
"Kaki yang mulus, biar aku menghiasnya sedikit," ucap Gea menyeringai.
Sithhh!
Sebuah sayatan lagi tampak di kaki Put yang membuat Put menjerit kesakitan sebelum akhirnya suaranya terbungkam oleh tangisnya.
"Kini giliranmu!" ucap Gea pada Au.
Gea kemudian berjalan ke sebuah lemari tua dan tampak mengambil sebuah cangkul yang terdapat bekas tanah dan mengangkatnya lalu menancapkannya tepat didepan Au yang membuat Au menelan air ludahnya.
"Saatnya kau akan menerima akibatnya!"
Gea kemudian mengayunkan cangkul tersebut kearah Au dan Au hanya bisa memejamkan matanya menerima nasib yang akan terjadi.
Duk!
"Ah!"
Seketika Gea terjatuh akibat pukulan dari seseorang sebelum ia melancarkan pukulan kepada Au.
Han kemudian segera melepas ikatan tali pada Au dan Puput dan segera pergi dari tempat itu.
"Han? Bukannya ..."
"Ini bukan saat yang tepat untuk bertanya, dimana keponakanku?" ucap Han memotong kata kata Au.
"Dia ada di ruangan itu kurasa," ucap Puput menunjuk sebuah kamar.
"Kalian keluar saja aku akan mencari Amri dulu," ucap Han berlari menuju kamar tersebut.
Setelah Han pergi Au dan Puput segera keluar dari rumah tersebut namun naas pintu tersebut sudah terkunci.
"Kak kuncinya terkunci," ucap Puput meraih gagang pintu tersebut.
"Bagaimana ini?" ucap Au panik.
"Apa sebaiknya kita lapor polisi saja?" ucap Puput menyarankan.
__ADS_1
"Ah benar kita harus menghubungi pihak kepolisian," ucap Au setuju.
"Mau lapor polisi mana?" ucap Gea yang sudah berdiri di hadapan mereka. "Sebaiknya kalian menyerah atau nasib kalian akan seperti dia,"
Gea kemudian menunjuk Han yang sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri dan berdarah akibat bekas tembakan namun ia tetap mendekap keponakannya agar tidak terkena tembakan.
"Sekarang giliran kalian," ucap Gea menyeringai.
Gea nampak mengarahkan pistolnya ke arah Au dan mulai melepaskan tembakannya.
Dorr!
"Jangan!"
"Ah!"
Puput tampak tersungkur dengan bersimbah darah karena ia menghalangi peluru tersebut untuk mengenai kakaknya.
"Put!" teriak Au dengan air mata mengalir deras.
"Kakak pergi kak!" ucap Puput dengan napas yang terengah engah.
"Tapi ..."
"Pergi Au!" ucap Han yang ikut berteriak dan menarik Amri kedalam dekapannya. "Kau harus selamat untuk mencari bantuan,"
"Ah tidak mungkin karena kalian semua akan mati di sini," ucap Gea mengarahkan pistol kembali ke arah Au.
Au tampak panik lalu berpikir sejenak dan menemukan sebuah pipa besi yang berukuran besar, Au kemudian melemparkan pipa tersebut sehingga mengenai Gea dan terjatuh akibat benturan itu.
Melihat kesempatan itu Au segera berlari pintu keluar dan akhirnya menemukan sebuah pintu belakang rumah tersebut.
"Mau kemana kau?" ucap Gea dengan cangkul ditangannya.
"Jangan Gea, aku mohon!" ucap Au memohon.
Au sangat panik dan hanya bisa pasrah ia ingin lari namun bisa saja Gea melemparkan cangkul itu kearahnya namun jika ia diam nasibnya akan sama saja.
"Aku mohon jangan!" ucap Au kembali memohon.
"Jangan? Kau sudah lupa yah!" ucap Gea mengayunkan cangkul tersebut. "Kau terlalu memaksaku dan inilah saatnya,"
Dorr!
__ADS_1
"Tidak!!"
< Happy Reading ^_^ >