Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
My Cold Police : Seuntai Rasa


__ADS_3

< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru :) >


---


Rendra, Amri, Zain dan Ali sudah berkumpul di ruang makan menunggu makanan yang sedang di masak oleh Eva dan Dela yang tak kunjung selesai.


Mereka tampak kelelahan setelah bermain sepak bola tadi sore keringat masih bercucuran dan terlihat dari raut wajahnya yang tampak masih mengatur napas yang memburu.


"Hmmm, bau apa ini?" tanya Eva yang keluar dari dapur menatap para pria yang terduduk dengan wajah cueknya.


"Iya bau apa yah?" timpal Dela yang ikut keluar menyusul Eva.


"Iya kak, kayaknya bau badan deh!"


"Bau badan siapa tapi?"


"Hmmm bau badan mereka lah yang merasa aja," sindir Eva sembari melirik para pria itu.


Seketika mereka semua menatap tajam ke arah Eva dan Dela dengan senyuman yang kecut mereka semua berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mereka masing masing meninggalkan Eva dan Dela yang sedang tertawa puas.


Sementara itu Rendra berjalan dengan kesal menuju kamarnya ia hendak mandi tapi badannya masih terasa lelah sehingga ia lebih memilih merebahkan tubuh di kasur tempat tidurnya.


"Ah! Berani beraninya gadis itu mengataiku bau," gerutu Rendra kesal.


"Baiklah akan kubuat dia menyesal dengan kata katanya dan ku bungkam dengan kenikmatan, tunggu aku gadis kecilku," ucap Rendra berdiri lalu bergegas menuju ke kamar mandi.


---


Dela dan Eva telah selesai memasak makan malam untuk mereka semua dan juga menghidangkannya di meja makan dan sekarang mereka tinggal menunggu para pria itu keluar namun lama mereka menunggu mereka semua tak kunjung keluar.


Eva dan Dela saling menatap dengan alis yang di naikkan dan seakan memiliki pemikiran yang sama mereka pun berjalan menuju kamar untuk memanggil suami mereka.

__ADS_1


Eva berjalan menuju kamarnya untuk memanggil Rendra yang tak kunjung keluar sejak tadi dan membuat Eva menunggu terlalu lama.


Ceklekk!


"Om?" ucap Eva membuka pintu.


Kosong!


Tidak ada apa di dalam kamar dan juga Rendra, Eva melangkahkan kakinya masuk mencari keberadaan suaminya yang tidak ada di sana, namun belum sempat ia berpikir Rendra kemudian menarik tubuh Eva sehingga Eva kini berada di pelukan Rendra dalam kondisi terkejut.


"Apa kau mencariku?" bisik Rendra pada Eva.


"Si ... Siapa yang mencari Om," ucap Eva gengsi.


"Kau Jangan berbohong," Rendra mengeratkan pelukannya membuat Eva tertekan ke dada Rendra. "Bukankah aku bau sayang?"


Eva terdiam dan menatap suaminya yang kini tersenyum mesum dan menaik turunkan alisnya yang sedikit membuat Eva takut.


"Om, lepaskan aku," ucap Eva berusaha melepaskan diri namun gagal karena Rendra kini menguncinya dan mendorongnya ke ranjang kemudian menindih Eva dari atas.


"Lantas kalau gak mau di panggil Om, mau dipanggil apa?" tanya Eva.


"Panggil aku sesuai isi hatimu,"


"Hati? Hatiku berkata bahwa kau adalah om om," ucap Eva yang kini mengalungkan tangannya di leher Rendra. "Kau kira aku tidak bisa romantis sayang?"


"Hmmmm, buktikan kalau kau mampu," tantang Rendra.


"Oh iya!"


Eva kemudian menarik kepala Rendra dan mencium bibir suaminya itu yang seketika menghentikan desir napas Rendra.

__ADS_1


"Apakah itu sudah cukup?" tanya Eva manja.


"Kau melebihi ekspestasiku sayang!" ucap Rendra menarik Eva berdiri dan memangkunya di atas ranjang. "Bisakah kau memelukku sebentar saja,"


"Kau bahkan bisa ku beri kehangatan namun pelukan ini akan selalu menemanimu,"


"Ah! Kau terlalu biasa terhadapku," ucap Rendra membalik tubuh Eva sehingga ia bisa memeluknya erat.


"Lepaskan Om, pasti mereka sudah menunggu kita di meja makan," ucap Eva melepaskan pelukannya.


"Tidak! Biarkan mereka menunggu aku tak mau melepaskanmu sedetik saja dan biarkan aku dalam posisi begini," rengek Rendra.


"Om sebenernya kenapa?"


"Aku hanya ingin memelukmu gadis bodoh!"


Eva terdiam lalu membiarkan suaminya memeluknya ia tersenyum akhirnya ia bisa merasakan cinta dari Rendra, tersenyum puas itu yang di rasakan Rendra dan Eva dan mereka berharap bahwa ini takkan pernah berakhir.


---


Sementara di meja makan sudah ada Amri dan Dela juga Ali dan Zain menunggu dengan keadaan lelah dan perut kelaparan.


Amri tak henti hentinya menatap jam di tangannya sembari mengetuk meja bosan akibat menunggu Rendra dan Eva yang tak kunjung datang.


Lapar, lelah dan juga kantur bersatu padu dalam diri mereka ingin rasanya segera makan namun apalah daya Rendra tak kunjung datang sehingga membuat mereka harus menahan laparnya sedikit lagi.


"Kapan kami makannya," protes Amri.


"Tunggu Rendra dan Eva," ucap Dela menjelaskan.


"Sudahlah palingan mereka sedang reproduksi ngapain nungguin mereka," ucap Amri lelah.

__ADS_1


"Ya sudahlah kita tunggu saja," ucap Ali menundukkan kepalanya di sambut Zain yang sudah sangat kelelahan sementara Rendra dan Eva sedang asyik menikmati waktu waktu romantis mereka tanpa memikirkan ada orang yang lapar menunggu kehadirannya.


- Bersambung -


__ADS_2