Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
30. MDD : Rencana Penangkapan Dea


__ADS_3

Assalamualaikum, jangan lupa di like yah! karena like dari kalian adalah booster semangat buat author.


---


Dea sudah bersiap dengan dandanan rapi dan juga wajah yang sudah di rias, ia beberapa kali memandang tubuhnya yang indah di depan cermin, namun dibalik keindahan itu tersimpan berjuta kebusukan yang masih ia pendam sediri.


Dea berjalan menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan rumahnya namun sebelum itu ia mengecek telpon genggamnya yang berisi banyak pesan dari Abdrew.


Dea kemudian menjalankan mobilnya menuju cafe tempat mereka bertemu dan entah kejutan apa yang akan diberikan oleh Andrew pada Dea.


Setelah sampai di cafe tersebut Dea memarkirkan mobilnya dan berjalan masuk kedalam cafe tersebut.


Cafe tersebut terlihat sangat sepi dan juga penuh dengan berbagai hiasan bernuansa hijau sesuai dengan warna kesukaan Dea.


"Dimana mas Andrew?" ucap Dea bertanya dalam hati.


Dea kemudian berjalan dan duduk di kursi sebuah meja yang tertulis nama Dea dan Andrew.


Dea masih terus menunggu Andrew sampai ia mulai agak bosan dikarenakan ia merasa sendiri di ruangan itu.


"Sayang?" bisik Andrew lembut dan menutup mata Dea dari belakang.


"Hmmmm ... Mas Andrew?" ucap Dea meraba tangan Andrew yang ada di kepalanya.


"Yah ketahuan," ucap Andrew lesu dan duduk di kursi depan Dea.


"Hahahaha, kamu mah gak bisa bohongin aku mas," ucap Dea sembari tertawa lepas.


Seketika raut wajah Andrew berubah dan terlihat senyum kecut di sana sembari menatap Dea setelah apa yang Dea katakan.


"Oh iya mas! Ada perlu apa?" ucap Dea yang mengenggam tangan Andrew.


"Aku cuma mau berdua aja sama kamu," ucap Andrew mengenggam balik tangan Dea. "Sayang?"


"Apa mas?" ucap Dea menatap lurus Andrew.


"Seandainya kita rujuk apa kamu mau?" ucap Andrew ragu.


"Hmmmm tergantung sih," ucap Dea berpikir.


"Tergantung apa?" tanya Andrew bingung.

__ADS_1


"Tergantung kamu mau ceraikan Ay atau tidak jadi rujuk denganku," ucap Dea melepas genggaman tangan Andrew.


"Aku bakal ceraikan Ay sayang, asalkan kamu mau menerima aku kembali," ucap Andrew mengambil tangan Dea dan mengenggamnya erat sekali.


"Aku mau mas," ucap Dea menganggukkan kepalanya.


"Serius?" tanya Andrew antusias.


Dea tampak mengangguk kecil dan tersenyum manis sekali dan tak lama kemudian Andrew bersimpuh di hadapannya dengan cincin yang siap di lingkarkan.


"I Love you, sayang," ucap Andrew hendak memasangkan cincin tersebut.


"Jangan bergerak!" Tiba tiba muncul beberapa pria berseragam dari segala arah mengepung mereka berdua.


Andrew berdiri dari posisi bersimpuhnya dan mulai mencari cari seseorang sampai dia menemukan Ay di ujung sana bersama dengan Wisnu dan Nissa.


"Ada apa ini?" tanya Dea bingung.


• Flashback On.


Andrew tampak menelpon seseorang untuk memasang alat perekam suara di dalam kamar Dea dan juga kamera pengintai yang tak terlihat, namun sebelum itu Andrew mengajak Dea ke sebuah bar untuk meminum beberapa teguk alkohol namun tidak untuk Andrew yang sama sekali tidak meminum minuman tersebut melainkan hanya air putih dan berpura pura mabuk.


Andrew dan Dea sudah terbaring di tempat tidur sambil bersantai dengan keadaan masih mabuk.


"Apa sayang?" tanya Andrew sambil sesekali melirik ke arah Dea.


"Kamu tau gak hari ini adalah hari yang paling terbaik untuk aku," ucap Dea dengan ucapan yang sedikit terganggu serta bau mulut yang beraroma alkohol.


"Hah!? Kenapa?" tanya Andrew antusias.


"Jelas!" teriak Dea penuh kemenangan. "Aku sudah bisa merebutmu kembali dan berhasil membunuh Han walau gagal membunuh si setan Ay itu,"


"Hah? Jadi kamu yang melakukan semua itu?" ucap Andrew tersenyum simpul.


"Iya dong mas! Istri kamu ini hebatkan?" ucap Dea penuh kemenangan.


"Hebat dong sayang, kamu memang istri kebangganku dan juga yang paling bisa membuatku senang," ucap Andrew mengelus rambut Dea. "Yaudah kita tidur yuk!"


"Iya mas!" ucap Dea menyetujuinya.


Sementara Dea tidur, Andrew pergi dari tempat itu membawa semua rekaman video dan suara.

__ADS_1


• Flashback Off.


"Tangkap dia pak! Dia pembunuh," ucap Andrew menunjuk Dea.


"Hah!? Mas Andrew ada apa ini?" ucap Dea saat beberapa polisi memegang tangannya agar tak bergerak.


"Dasar pembunuh, kau gampang sekali tertipu aku tidak mencintaimu lagi tapi sekarang sangat mencintai istriku Ay," ucap Andrew mengenggam tangan Ay.


"Licik kalian!" pekik Dea berusaha memberontak.


"Kau yang licik!" ucap Wisnu dengan nada tinggi. "Dasar pembunuh!"


"Hahahaha jadi gara gara itu? Aku tidak masalah di penjara karena aku sudah membunuh Han, dan kalian terkhusus kau Ay! Tunggu pembalasanku!" ucap Dea sembari tertawa tawa sendiri.


"Bawa dia pak!" perintah Wisnu sebelum akhirnya mereka membawa Dea pergi dari tempat itu.


Seketika Ay memeluk erat suaminya itu dan menangis di pelukan Andrew.


"Lah kok nangis sih?" tanya Andrew mengusap pipi Ay.


"Gak apa apa, cuma pengen nangis aja," ucap Ay kembali memeluk tubuh suaminya.


"Hmmmm kalau gitu kita pulang yuk!" ucap Andrew menyarankan.


"Lah buru buru amat? Kita ke cafe dulu yuk cari makan," ucap Wisnu menawarkan.


"Gak bisa, aku mau buat keturunan dulu, iya kan sayang?" ucap Andrew pada Ay sambil menaik turunkan alisnya.


Seketika wajah Ay berubah merah karena malu.


"Yaudah aku balik dulu yah? Gak sabar nih pengen bikin anak!" ucap Andrew mengandeng Ay pergi dari tempat itu.


Seketika Wisnu dan Nissa tertawa melihat tingkah mereka berdua.


"Kalau kita bikin anak keduanya kapan?" ucap Wisnu menarik Nissa kepelukannya.


"Sekarang aja mau?" ucap Nissa antusias.


"Serius?" ucap Wisnu ragu.


"Yah enggaklah, yuk pulang!" ajak Nissa berjalan mendahului suaminya. "Mas? Yuk katanya mau buat anak kedua?"

__ADS_1


Seketika wajah Wisnu merah padam dan berjalan mengikuti istrinya itu.


Happy Reading😊


__ADS_2