Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
My Cold Police : Protokol Misi 2


__ADS_3

< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru (~_^) >


"Apa seperti ini wajahnya?" ucap Reza memperlihatkan sebuah foto pada Rendra.


"Yah! Ini orangnya," ucap Rendra yakin.


"Oke sepertinya kita harus memulai menjalankan protokol misi," kata Reza sembari berpikir serius. "Tapi kita perlu seorang mata mata yang bisa masuk je perusahaan itu,"


"Mungkin aku bisa bantu," ucap seorang pria yang berdiri di ambang pintu.


---


Asisten Zain turun dari mobil dan berjalan menuju ke ruangan Amri untuk memberitahukan informasi tentang janji temunya dengan Darius.


"Permisi," ucap Asisten Zain pada Amri.


"Yah ada apa?" tanya Amri menatap Zain.


"Janji temu dengan pak Darius sudah tiba, apa bisa kita berangkat sekarang,"


"Okey," ucap Amri membetulkan jasnya.


"Baiklah pak kalau begitu saya keluar dulu," ucap asisten Zain membalikkan badannya hendak keluar dari ruangan tersebut namun segera di tahan oleh Amri.


"Tunggu," ucap Amri menahan Zain.


Asisten Zain menghentikan langkahnya dan berbalik menatap atasannya itu. "Ada apa pak??


Amri kemudian berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya dan memberikannya pada asisten Zain.


"Pakai ini," ucap Amri menyerahkan seragam cleaning servies pada asisten Zain.


Asisten Zain menatap seragam tersebut dengan paduan waran biru dan hijau yang sangat familiar baginya.


"Bukankah ini seragam OB di perusahaan telekomunikasi itu?" tanyanya dalam hati.

__ADS_1


Asisten Zain kemudian menatap atasannya itu yang dengan santainya kembali duduk dan membiarkannya larut dalam kebingungan.


"Tapi, kenapa Pak?" tanya asisten Zain bingung.


"Pakai saja, aku ada sebuah tugas untukmu," ucap Amri memberikan senyum terbaiknya yang terkesan menyeramkan bagi asisten Zain.


---


Eva membuka matanya bingung, kepalanya sakit seperti telah mengalami benturan, dia tak ingat apa apa dan dia tahu kenapa dia bisa ada di sini.


Kakinya terikat dan tangannya pun sama, ruangan yang gelap dan penuh debu, Eva ketakutan juga mulai panik dan tak tahu harus berbuat apa.


"Wah sepertinya tamuku sudah bangun," ucap seorang pria yang berpakaian serba gelap dan tersenyum licik.


"Siapa kamu?!" tanya Eva pada pria tersebut.


Eva merasakan ketakutan di sekujur tubuhnya sehingga napasnya mulai memburu tak karuan.


"Siapa aku? Hmmm, mungkin aku akan jadi malaikat mautmu,"


"Hah? Apa maumu apa salahku?" tanya Eva sedikit ketakutan.


"Sudahlah kau tenang saja, aku hanya ingin melihat seberapa kuat suamimu untuk menyelamatkan istrinya ini,"


Pria tersebut kembali berjalan keluar ruangan tersebut meninggalkan Eva yang terdiam tak berdaya dan entah kapan akan terselamatkan.


Tit! Tit! Tit!


Suara ponsel pria tersebut berdering tak karuan, pria tersebut kemudian mengangkatnya dan mulai berbicara pada suara di sambungan telepon ini.


[Halo?]


[Oh iya, siap Om saya akan segera kesana]


Pria tersebut kemudian mematikan sambungan teleponnya dan bergegas keluar dari tempat tersebut.

__ADS_1


"Kalian jaga Eva jangan sampai ada yang berani kesini," ucap Pria tersebut kepada beberapa anak buahnya yang dibalas dengan anggukan sang bawahan.


Setelah menyampaikan hal tersebut kepada anak buahnya, pria tersebut masuk kedalam mobilnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.


---


Rendra terdiam di dalam mobil, pikirannya terbang entah kemana, tampak matanya berkaca kaca mengingat sesuatu dan tak tahu harus bagaimana dan apa yang harus ia lakukan.


"Maafkan aku Va," ucap Rendra menatap foto prewedding pernikahan mereka.


Rendra menyandarkannya tubuhnya pada job mobil ia memijit mijit pangkal hidungnya pusing kepalanya sakit dan pikirannya melayang layang tak tentu arah.


"Aku memang pria yang bodoh, aku sudah menyakiti hati istriku, bagaimana kalau aku tidak bisa melihatnya lagi, bagaimana ini!" teriak Rendra tak karuan.


"Aku lebih baik mati daripada tidak bisa melihat wajahnya itu,"


Rendra sendiri bingung ia membenci Eva namun ia menjadi khawatir begini apakah ini cinta? Namun Rendra juga bingung dia tak tahu apa yang terjadi.


"Mungkin sudah takdirku mencintainya,"


---


"Apa yang bisa kita bantu?" tanya Wisnu pada Andrew.


"Hmmm gimana kalau bantu doa," ucap Andrew fokus pada ponselnya.


"Astaga, bukan begitu apakah kau punya rencana? Aku rindu dengan kejadian beberapa tahun lalu tentang penculikan Amri mungkin kita bisa menjadi pasukan kembali,"


"Wisnu, kita ini dokter bukan polisi, Lagian novel kita udah tamat jadi biarkanlah tokoh di novel ini yang bertindak," ucap Andrew menjelaskan.


"Jadi ngapain kita disini lagi?" tanya Wisnu pada Andrew.


"Yah sebagai pemain pelengkaplah," ucap Andrew kembali fokus dengan ponselnya. "Tapi kurasa aku punya rencana,"


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2