
< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru :) >
---
Eva hanya bisa pasrah akan tingkah laku suaminya dan kini ia tahu bahwa suaminya bisa bersikap semanis dan selembut ini setelah berbagai kekerasan bahkan telah di terimanya.
"Peluklah diriku dan akan kau rasakan aku takkan pernah meninggalkanmu untuk saat ini dan bahkan selamanya,"
"Aku akan terpejam dan menanti kejadian akan terulang lagi," ucap Eva memejamkan matanya dan berharap kejadian ini tidak akan pernah berakhir.
Dan malam ini ia bisa merasakan kehangatan dari suaminya yang telah lama di nantikannya dan jika ini harus berakhir ia bahkan tak sanggup menerimanya walau hanya sedetik saja.
---
Pagi sudah tiba, cahaya matahari menyapa di balik tirai jendela kamar Rendra dan Eva sehingga membuat Eva terbangun dari tidurnya akibat terkena sinar remang cahaya mentari.
Eva perlahan mengerjapkan matanya dan duduk mengucek matanya sebentar kemudian melirik Rendra yang masih larut dalam tidur dan mimpi indahnya.
Badannya agak masih pegal dan juga sakit akibat kejadian semalam, permainan Rendra begitu membawa Eva terbawa sehingga ia bisa begitu menikmati detail demi detail permainan dan cumbuan mesra Rendra semalam.
Eva kemudian turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah lemari baju dan mengambil koper di balik lemari yang tersusun di samping tempat duduk sofa di kamar Rendra.
Eva pun mengemasi beberapa baju miliknya dan juga milik suaminya untuk di bawah menginap saat liburan nanti pasalnya siang ini mereka akan segera berangkat menuju villa yang sudah di pesan oleh Zain.
Setelah semuanya beres dan siap, Eva kemudian beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya itu, Eva mengambil beberapa bahan di kulkas kemudian mulai memasak untuk Rendra.
Di saat Eva sedang asyik membuat sarapan tiba tiba ia di kagetkan dengan sebuah pelukan yang mendarat di punggungnya dari belakang.
__ADS_1
"Selamat pagi, sayang," ucap Rendra memeluk Eva dari belakang.
Eva yang awalnya sibuk dengan aktifitasnya kemudian berhenti sejenak dan membalikkan badannya menghadap ke arah Rendra sehingga wajah mereka kini sudah berjarak hanya beberapa centi.
"Selamat pagi, Om," ucap Eva tersenyum ke arah Rendra. "Ada apa nih pagi pagi udah romantis?"
"Hmmm gak ada apa apa sih, cuma pengen aja emang gak boleh," tanya Rendra menekan tubuh Eva sehingga mereka semakin rapat.
"Hmmm, gak!" ucap Eva cuek.
"Emang kamu siapa mau ngelarang aku?" tanya Rendra kembali menarik Eva sehingga wajah Eva terbenam di dada Rendra dengan posisi kini berdiri tegak. "Kalau aku mau dalam posisi gini? Kamu mau apa?"
Eva diam tak berkutip ia benar benar terkunci oleh posisi sekarang dan hanya bisa pasrah menerima perlakuan Rendra.
"Aku ingin merasakan bibir manismu sayang," bisik Rendra merengek manja.
Eva sesaat menelan salivanya mendengar bisikan Rendra itu dan hanya memejamkan matanya menanti apa yang akan dilakukan Rendra. Rendra perlahan kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Eva kemudian memejamkan matanya sesaat merasakan rasa yang akan terjadi.
"Assalamualaikum," ucap Syafa mengetuk pintu rumah Rendra.
Eva dan Rendra yang awalnya hanya ingin merasakan posisi seketika terbuyar dari duduknya dan saling menatap karena siapa yang datang bertamu sepagi ini.
"Siapa yah?" tanya Rendra pada Eva.
"Gak tau, mungkin kak Amri," ucap Eva berjalan menuju ke arah pintu rumahnya. "Yaudah yuk kita buka,"
Rendra berjalan menyusul Eva untuk membukakan pintu bagi tamunya itu.
__ADS_1
"Waalaikusalam, siapa yah?" tanya Eva membukakan pintu untuk tamunya.
"Siapa sa...?" tanya Rendra ikut melihat siapa tamu yang datang sepagi ini.
Belum sempat Rendra menyelesaikan kata katanya kini terdiam melihat seorang wanita cantik dengan balutan pakaian syari dengan nuansa putih, Rendra serasa kehilangan kemampuan berbicaranya karena kini ia sedang di hadapkan oleh cinta dari masa lalunya.
---
Zain sudah bersiap dengan pakaiannya yang akan ia bawah untuk berlibur bersama atasannya nanti sementara menunggu waktu keberangkatannya ia lebih memilih menuju ke arah ruang tamunya dan memandangi foto kemesraannya dengan Dian.
"Kenapa sih? Kenapa!" teriak Zain kesal.
Zain memijit pangkal hidungnya pening karena dia harus kehilangan orang yang paling ia sayang dan tak bisa hidup tanpanya, perlahan Zain meneteskan air matanya memandang foto yang tercetak dengan raut wajah bahagia.
Wajah tampan yang ia miliki kini sudah blur terhapus air mata, wajah kotak yang ia miliki juga mata coklat serta rambut coklat yang acak acakan dan juga brewok tipis yang ia miliki serasa tidak bisa menambah ketampanannya untuk saat ini.
Wajah seorang asisten Zain yang selalu jadi pusat perhatian kantor karena ketampanannya sungguh tak di sangka bisa menjadi seorang pria cengeng hanya karena satu wanita.
Dia berusaha ikhlas namun sungguh itu sangat berat untuk Zain bisa melupakan seseorang yang ia cintai selama 3 tahun ini, cincin emas putih untuk melamar Dian hanya tersimpan sebagai pajangan dan takkan pernah terlaksana apalagi mendengar berita tentang pernikahan antara Han dan Dian yang akan di gelar.
Kring! Kring! Kring!
Suara ponsel dari Zain yang berbunyi membuyarkan lamunan kesedihannya dan mengambil ponsel tersebut dan mengangkatnya tanpa mengecek nama si penelepon.
[Halo?]
[Halo? Zain ini aku Han, apa kita bisa bertemu pagi ini di cafeku? Ada sesuatu yang penting yang ingin aku katakan]
__ADS_1
- Bersambung -