Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
My Cold Police : Maafkan Aku!


__ADS_3

"Hargailah selagi dia masih bersamamu karena bisa jadi besok atau lusa dia akan menghilang dari kehidupanmu"


- Iqram Ridwan.


---


Rendra mengendarai mobilnya dengan keadaan ugal ugalan sampai ia tidak fokus pada jalanan di depannya yang membuat ia menabrak pembatas jalan.


Brak!


Rendra tertegun kaget mendapati dirinya menabrak pembatas jalan itu, Rendra keluar dari mobilnya dan melihat keadaan mobilnya yang penyok di depan namun ia tetap bersyukur karena ia tidak kenapa napa dalam insiden ini.


Rendra kemudian memijit pangkal hidungnya pusing dan berjalan menuju pembatas jalan sebalahnya yang berhadapan langsung dengan pemandangan perbukitan, angin semilir menyapu tubuhnya sehingga ia terbuai di dalamnya.


Rendra sejenak melupakan masalahnya tak kala mengingat pesan Adnan untuknya bahwa tertekan hanya akan membuat semakin larut dalam kesedihan


Rendra merasakan ketenangan di tempat ini sampai ia mendapati ada seorang pria yang menepuk pundaknya dari belakang.


Rendra membalikkan tubuhnya menatap seseorang yang menepuk pundaknya tadi yang ternyata adalah Wisnu ayahnya sendiri.


"Papah?" gumam Rendra menatap ke arah Wisnu yang kini berdiri dengan senyuman.


Rendra kemudian langsung mencium punggung tangan Wisnu sementara Wisnu langsung menarik putranya itu ke pelukannya sehingga membuat Rendra kembali merasa canggung di dekat sang ayah.


"Maafin papah yah!" ucap Wisnu lemah. "Papah gak seharusnya bersikap begitu sama kamu,"


"Kamu berantem yah sama istrimu," ucap Wisnu melepas pelukannya dan berjalan menuju pegangan pembatas jalan itu membelakangi Rendra.


"Papah tahu dari mana?" tanya Rendra bingung.

__ADS_1


"Hmmm, yah cuma insting aja,"  kata Wisnu menjelaskan. "Kamu lagi ada masalah kan?"


Rendra menundukkan kepalanya dan tampak mengangguk kecil di hadapan Wisnu yang membuat Wisnu sedikit tersenyum puas akan jawaban putranya.


"I ... Iya, Pah," jawab Rendra gugup.


"Sini deh papah kasih tahu," ucap Wisnu merangkul pundak putranya itu. "Seorang suami adalah seseorang yang bisa menjaga perasaan istrinya baik itu dari bathinnya maupun fisiknya, karena kenapa? Karena dibalik kesuksesan seorang suami ada istri yang senantiasa mendoakan,"


"Tapi dia sudah sangat marah, Pah," keluh Rendra memegang keningnya yang terasa sangat pusing.


"Semarah apapun seorang istri dia tidak akan memikirkan pria lain selain suaminya," ucap Wisnu pelan.


Rendra kini terdiam menatap kosong kedepan di sapu hembusan angin yang sepoi sepoi menyejukkan hatinya yang panas akan api cemburu sehingga kini Rendra merasa sudah sangat bersalah kepada istrinya itu.


"Papah benar, jika kita mencintai seseorang berarti kita harus siap memperjuangkannya," ucap Rendra semangat


"Nah itu bagus! Pulanglah dan temui istrinya kemudian berharap semua akan baik baik saja," pesan Wisnu pada putranya.


Sementara itu di rumah Eva menangis sejadi jadinya menutupi wajahnya dengan bantal sehingga bantal tersebut kini penuh dengan air mata.


Dia sangat kesal di buat oleh suaminya sampai tanpa sengaja ia membanting foto prewed mereka yang terpajang indah di nakas samping ranjangnya.


Prang!!


Suara kaca yang pecah di lantai akibat pecahan dari bingkai foto tersebut, Eva menutup bibirnya yang bergetar kemudian mengambil foto itu dan mengingat suatu hal yang pernah di sampaikan oleh papah mertuanya.


"Seorang istri yang hebat adalah istri yang mampu taat kepada suaminya sehingga ia mendapatkan surga dari ketaatan itu," pesan Wisnu yang masih terus terbayang bayang di kepala Eva.


Eva kemudian menangis memeluk foto tersebut dan tidak hentinya beristigfar dan tak seharusnya dia bersikap begitu kepada suaminya.

__ADS_1


Eva kemudian berjalan keluar kamar mencari Rendra namun tidak ada satupun tempat dimana dia bisa menemukan suaminya itu sehingga ia memilih duduk di sofa ruang tamu menunggu suaminya pulang.


"Pasti Om Rendra marah banget sama aku," ucap Eva dalam hati.


Air mata tak henti hentinya jatuh dari pipinya itu sehingga matanya kini bengkak karena berlinang air mata menanti suaminya itu pulang.


Tok!


Tok!


Tok!


"Assalamualaikum," ucap Rendra mengetuk pintu rumahnya sendiri.


Rendra berdiri di depan rumahnya dengan penuh harap menunggu istrinya untuk membukakan pintu itu untuknya sehingga ia dapat melihat senyuman manis dari sang istri.


Eva yang mendengar suara Rendra langsung berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu untuk suaminya itu, Rendra tersenyum karena melihat yang membuka pintu adalah Eva sementara Eva langsung memeluk tubuh suaminya itu erat dan membuat Rendra bingung di buatnya.


Eva menangis di pelukan suaminya itu, sementara Rendra hanya tersenyum kemudian menggendong Eva untuk masuk kedalam rumah dan menidurkannya di sofa namun Eva tidak mau dan malah memilih tetap memeluk Rendra.


"Maafin aku yah sayang," ucap Rendra mengecup kening Eva.


"Harusnya aku yang minta maaf, Om," ucap Eva kembali memeluk Rendra. "Jangan pergi lagi!"


"Emang kenapa kalau aku pergi?"


"Kamu belum ajari aku cara hidup tanpa kamu," ucap Eva kembali sementara Rendra hanya tersenyum simpul dan mengenggam erat tangan Eva.


"Aku gak akan pergi kok, karena dimana kau berada di situ tempatku berada," ucap Rendra menaruh tangan Eva di dadanya dan membalas pelukan Eva.

__ADS_1


Kini mereka berdua saling berpelukan dan melupakan segala masalah yang baru saja mereka lewati dan menjadikan ini adalah suatu pelajaran paling berharga untuk mereka berdua.


- Bersambung -


__ADS_2