Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
My Cold Police : Hasil Mengecewakan


__ADS_3

Halo semuanya authornya hanya mau bilang jadi ini sudah memasuki menjelang episode terakhir jadi Author mau minta like dari kalian semua supaya nanti Author tambah semangat ngelanjutin ceritanya bahkan sampai season 3! Amin!


---


Rendra mengendarai mobilnya panik menuju rumah sakit sementara itu Eva masih terus meringis kesakitan di pelukan kakaknya Della.


Amri dan Zain yang berada di mobil berbeda segera melesat duluan menuju rumah sakit untuk segera menyiapkan penanganan pertama untuk Eva nantinya.


"Ahhh! Sakit!" jerit Eva memegangi perutnya yang sudah sangat sakit


"Sabar yah sayang bentar lagi sampe kok!" ucap Rendra mempercepat laju kendaraannya.


Keringat dingin sudah membanjiri wajahnya yang tampan itu raut kekhawatiran menghiasi wajahnya karena melihat sang istri kesakitan.


Sementara itu Dela memilih diam ia tak tahu apa yang harus dilakukan dan hanya ikut menangis melihat sang adik menahan rasa sakit di perutnya.


Sesampainya di rumah sakit, Rendra langsung menggendong Eva keluar dari mobil dan berlari menuju lobby rumah sakit dimana sudah ada Amri dan Zain yang siap dengan tim medis yang langsung melarikan Eva ke ruang gawat darurat.


Rendra tak hentinya mondar mandir dengan wajah pucat di depan ruangan rawat Eva menunggu dokter keluar untuk memberinya kabar baik karena dia tidak mau mendengar kabar buruk apapun.


Rendra benar benar dalam pikiran kacau sampai Wisnu, Nissa, Andrew dan Ay datang ke rumah sakit itu dengan wajah khawatir.


"Ren? Eva kenapa?" tanya Ay khawatir pada kondisi putri bungsunya itu.

__ADS_1


"Rendra gak tau bu, Eva sedang ditangani tim dokter jadi kita harus menunggu sampai dokter selesai memeriksa kondisi Eva," ucap Rendra menjelaskan.


Plak!


Sebuah tamparan keras dari Wisnu mendarat ke wajah putranya itu yang membuat semua yang ada di situ tertegun kaget dan menatap ke arah ayah dan anak itu.


"Ini semua salah kamu!" bentak Wisnu pada Rendra. "Kamu tahukan istri kamu sedang hamil? Kenapa kau masih mengajaknya ke pernikahan Han?"


Rendra tertunduk memegangi pipinya yang sakit akibat bogeman dari papahnya namun ini pantas untuknya karena dia tidak bisa menjaga istrinya.


"Dimana tanggung jawab kamu sebagai suami! Kamu bahkan tidak pantas dipanggil seorang kepala rumah tangga," ucap Wisnu emosi.


"Sudah lah, lagian ini bukan sepenuhnya salah Rendra," ucap Andrew melerai.


Wisnu menarik napas panjang lalu memegang pundak putranya itu dan menatapnya nanar kemudian pergi dari tempat itu meninggalkan semua yang ada di situ.


Nissa yang melihat suaminya pergi hanya diam dan segera menghampiri putranya yang kini sedang tertunduk malu mendengar kata kata ayahnya itu.


"Ren?" panggil Nisaa yang membuat Rendra mendongkakkan kepalanya menatap sang ibunda.


"Iya mah?" ucap Rendra lemah.


"Lelaki yang baik adalah lelaki yang bisa menjaga apa yang sudah menjadu miliknya, Eva itu titipan dari allah dan kamu harus menjaganya agar dia bisa terus menemani kamu," ucap Nissa pergi menyusul Wisnu yang pergi bersama Andrew juga Ay.

__ADS_1


Badan Rendra lemas tak karuan dia terduduk di kursi tunggu menanti kabar yang dia harap adalah kabar baik untuknya dan semoga tidak terjadi apa apa pada istrinya itu.


Tak lama kemudian tampak seorang pria berjas putih keluar dari ruangan itu dan segera menemui Rendra dan segera mengode Rendra untuk mengikutinya masuk kedalam ruangan dokter tersebut.


Rendra berjalan menyusul dokter tersebut dengan raut wajah penuh kekhawatiran juga bimbang dan ragu akan kabar yang akan di sampaikan dokter tersebut.


Sesampainya di ruangan dokter itu Rendra langsung mengambil kursi dan duduk serta mengatur napasnya untuk mendengar kabar yang akan di berikan kepadanya.


"Jadi begini pak! Sepertinya istri bapak harus kami gugurkan kandungannya,' ucap Dokter itu ragu.


"Apa!?" pekik Rendra kaget. "Tapi kenapa?"


"Ada masalah pada kandungannya Pak! Jadi bapak harus memilih jika tidak ini akan menbahayakan kesehatan ibu Eva,"


"Tapi tidak ada cara yang lain dok?" tanya Rendra.


"Tidak ada Pak! Jika nanti bayi itu akan lahir mungkin yang selamat hanya salah satunya terkecuali ada mujizat yang datang menghampiri kita," ucap dokter itu dengan tatapan sendu.


Rendra terdiam cukup lama dia benar benar bingung apa yang harus ia katakan kepada Eva nantinya jika suatu saat bayi itu ia pertahankan namun dia tidak siap untuk kehilangan Eva dia sangat mencintai Eva.


Pikiran Rendra benar benar kacau ia memijit pangkal hidungnya pusing kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan dokter tersebut sembari menimbang nimbang pilihannya karena ini tidak bisa menunggu harus ada yang di selamatkan dan di korbankan.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2