Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
My Cold Police : Pusat Materi 2


__ADS_3

< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru :) >


---


"Yaudah yuk dek! Masuk! Zain gak mau ikut katanya potong gaji aja," ucap Amri membalikkan badannya hendak masuk kedalam rumah.


"Eh bentar pak! Saya mau kok!" cegah Zain pada atasannya.


"Tadi katanya gak mau? Gimana sih?"


"Tadi saya khilaf pak! Maaf," ucap Zain mengelak.


"Yakin nih?" tanya Rendra memastikan.


"Iya yakin dah sumpah!" ucap Zain dengan nada serius.


"Yaudah yuk masuk!" ucap Amri berjalan masuk di susul oleh Rendra meninggalkan Zain yang nista di luar.


Zain kini memasang tampang raut wajah memelas bingung dan bodo amat namun bila di depan Amri dia bahkan bisa memasang wajah bahagia secerah mentari pagi.


Zain menyusul Amri dan Rendra masuk kedalam rumah untuk bisa makan siang bersama seperti yang di perintahkan oleh atasannya itu.


"Yuk sini, Zain," ucap Amri pada Zain.


"Eh iya pak!"


Zain kemudian berjalan ke arah meja makan yang sudah ada Eva dan Dela yang menunggu mereka dengan tatapan dan juga senyuman manis.


Amri dan Rendra ikut duduk dan menyerahkan makanan itu kemudian di susul oleh Zain yang ikut duduk di meja itu.


Setelah mereka diam beberapa saat akhirnya mereka semua mulai menyantap makanan mereka masing masing tanpa suara dan hanya ada suara piring dan sendok yang beradu di sela suara kunyahan itu.


Setelah mereka selesai makan siang, Amri, Rendra, Dela dan Eva juga Zain berkumpul pada ruang tengah rumah Rendra selain untuk istirahat juga membicarakan rencana liburan mereka yang akan di atur oleh orang yang tepat.


"Jadi gimana nih? Rencananya?" tanya Amri pada Rendra.


"Hmmm, yah aku ikut aja kita mau kemana," jawab Rendra mengambil ponselnya.


"Kalau kalian berdua? Gimana mau liburannya kemana?" tanya Amri kembali menatap Dela dan Eva.


"Aku ikut aja sih," jawab Eva.

__ADS_1


"Aku sih ikut aja juga," ucap Dela pasrah.


Amri terdiam lalu mulai memikirkan rencana liburan mereka hingga terbersit sebuah ide dan kenapa tidak, dia kan punya asisten dan kenapa tidak minta bantuan asistennya.


"Zain?" panggil Amri


Zain yang awalnya hanya diam kini beralih menatap atasannya dengan perasaan kalut dan curiga akan ada sesuatu yang menimpanya.


"Eh iya pak?" tanya Zain menatap atasannya itu.


"Kamu cariin tempat buat liburan gih, usahain yang ada villanya soalnya kita mau nginap dan harus ada besok,"


"Ta ... Tapi besok ada me..."


"Batalkan semuanya," ucap Amri memotong kata kata Zain.


"Tapi pak, tender ini cukup besar, jika dibatalkan akan sangat rugi bagi kita," ucap Zain menjelaskan.


"Saya bilang batalkan! Sejak kapan kau berani memerintahku," ucap Amri ketus.


"Ma ... Maaf pak!' ucap Amri gugup.


Sementara itu Rendra, Eva dan Dela hanya menatap heran karena tidak biasanya Amri akan menolak urusan pekerjaan ketimbang dengan keluarga dan itu cukup membuat mereka tercengang tak percaya.


Zain ingin menolak namun sekarang bukan waktu yang tepat untuk menolak karena itu hanya akan membuat Amri semakin marah dan kesal.


---


"Jadi bagaimana dok? Apa ingatan saya akan kembali?" tanya Han dengan raut wajah berharap.


"Hmmm, sebenarnya bisa kembali pak, asal bapak bisa mengingat setidaknya kejadian terakhir sebelum bapak kecelakaan," ucap Dokter Angga memegang hasil pemeriksaannya.


Han nampak sedih dan menarik napas panjang kemudian melepaskannya pelan dan menatap penuh kekecewaan dengan hasil pemeriksaannya yang sudah ke sekian kali.


"Apa bapak tidak mengingat apapun?" tanya dokter Angga seolah memberi suatu harapan kecil untuk Han.


"Saya hanya mengingat sebuah nama dan nama itu adalah Rayn dan saya tidak ingat siapa itu Rayn? Apa saya adalah Rayn atau Han saya sendiri bingung," ucap Han menjelaskan.


"Begini pak, kalau dari hasil ingatan pak Han kemungkinan besar bapak adalah Rayn bukan Han tapi yang saya heran kenapa bapak begitu yakin bahwa bapak adalah Han,"


"Saya benar benar lupa," ucap Han memijit pangkal hidungnya pusing. "Kalau begitu saya permisi dok! Dan saya berharap akan ada kabar baik nanti,"

__ADS_1


Han kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan pemeriksaan menuju ke arah tempat parkir dimana mobilnya berada.


Pada saat Han hendak masuk kedalam mobilnya tampak sengaja ia melihat Ali yang keluar dari rumah sakit yang sama dan entah apa yang ia lakukan di sana.


Ali terlihat membawa sebuah map dengan tatapan sendu dan kosong keluar dari rumah sakit itu, sepertinya ia kebingungan karena dari raut wajahnya saja Han bisa tau.


"Ali!" teriak Han memanggil Ali.


Ali yang awalnya berjalan dengan tatapan kosong segera terbuyarkan ketika mendengar suara yang memanggilnya yang ternyata berasal dari Han trman masa kuliahnya dulu.


Ali kemudian berjalan ke arah Han untuk sekedar menanyakan kabar dan juga apa yang ia ingin sampaikan saat ia memanggilnya.


"Eh Han, ada apa?" tanya Ali setelah sampai di hadapan Han.


"Kau ngapain di sini? Sakit?" tanya Han balik.


"Eh gak kok, habis ngelamar kerjaan aku biasalah jadi cleaning servis pun gak apa apa,"


"Eh bukannya kau general manager yah?"


"Oh, itu dulu tapi atasanku sekarang di penjara dan perusahaannya terpaksa tutup jadi aku di phk," ucap Ali dengan tatapan sedih.


Han sepertinya turut prihatin dengan apa yang menimpa sahabatnya itu apalagi ia butuh uang untuk memenuhi kebutuhan sehari harinya


"Hmmm, udah dapat kerjaan belum?"


"Yah alhamdulillah belum, hehehhe bercanda deng,"


"Bisa aja lo, yaudah kerja di restoran aku aja yuk!" tawar Han disambut sikap antusias dari Ali.


"Eh ada lowongan jadi pelayan di restoranmu aku mau banget," ucap Ali antusias.


"Siapa bilang jadi pelayan,"


"Terus?"


'Jadi manager kembali di restoranku yang ada di pusat kota,"


Seketika Ali melingkarkan mata sempurna mendengar penuturan sahabatnya itu, raut wajah bahagia tidak dapat ia bendung lagi sehingga tak sadar memeluk tubuh Han senang.


Han juga nampak tersenyum bahagia bisa membantu sahabatnya itu setidaknya di balik kejahatan atau semua hal buruk tentangnya dia bisa membagikan setetes kebahagian pada orang lain.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2