
< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru :) >
---
"Sebenarnya kau tidak perlu terjebak dalam permainanku, jika kau tak tahu semua rahasiaku dan aku takut sewaktu waktu kau membeberkannya maka jalan satu satunya untuk membungkam mulutmu adalah menikahimu," ucap Han mengambil posisi duduk pada sebuah kursi.
"Apa maksudmu?" tanya Diaz.
Han tersenyum lalu meraih tangan Diaz untuk berdiri dan kini dalam posisi menatapnya.
"Jangan pura pura bodoh! Kau sudah mengetahui kalau aku Rayn bukan Han kan? Dan kau tahu semua rahasiaku bahwa aku hanya berpura pura menjadi Han hanya untuk semua kekayaan milik Han yang bahkan telah kubunuh melalui tangan Dea,"
"Jadi? Kau pembunuh!"
"Yah, aku pembunuh dan bila kau berani angkat suara akan kupastikan ayahmu tidak akan melihat matahari lagi," ancam Han dengan tatapan sinis.
Han kemudian melepaskan cengkraman tangannya pada Diaz dan melemparnya ke lantai dengan keadaan Diaz yang masih berlinang air mata.
Diaz sangat sedih dan menyesal kenapa dia bisa mengenal Han yang awalnya hanya sebatas atasan dan karyawan di restoran Han, namun ternyata di restoran itulah awal penderitaannya di mulai.
Han mengambil jasnya kemudian berjalan keluar dari rumah Diaz tanpa kata kata dan tanpa permisi meninggalkan Diaz yang nista dan tak tahu harus bagaimana.
"Tenang saja, aku tidak akan melukaimu karena aku mencintaimu dan aku yakin bahwa aku adalah Han namun ingatanku serasa belum kembali dan yang kuingat hanya Rayn," ucap Han dalam hati.
Han harus tetap seperti ini sampai perawatan ingatannya cepat selesai dan dia harus berpura pura sebagai pembunuh hanya untuk mengancam Diaz agar tidak lari dari genggamannya dan bila nanti dia harus kehilangan Diaz setidaknya dia ada di tangan Zain bukan orang lain.
---
Zain mengendarai mobilnya dengan sangat kesal, ia melempar ponselnya ke sembarang arah setelah berbicara dengan seseorang yang tampaknya sangat berpengaruh bagi dirinya.
"Dasar! Wanita memang begitu," gerutu Zain kesal.
Hatinya benar benar panas dan pikirannya kemana mana ia serasa hanya mengambang di muka bumi ini tanpa arah dan tak tahu harus bagaimana.
Zain kemudian mulai meredam emosinya karena kini mobil yang di kendarainya memasuki halaman rumah Rendra dimana tempat ia harus mengantarkan makanan ini.
Sementara itu di dapur rumah tampak Dela dan Eva yang sedang bergosip tentang kehidupan suami mereka yang notabenenya adalah saudara dan Eva juga Dela adalah saudara dan entah apa yang terjadi bahwa jodoh mereka tidak jauh jauh melainkan hanya tetangga komplek mereka.
"Dek? Tadi mas Amri ke kamar kamu, kok waktu balik ke kamar dia keadaanya pucat sih? Emang ada apa?" tanya Dela antusias.
"Hmmm tadi itu..."
__ADS_1
"Apa!? Buruan kakak penasaran banget," ucap Dela semakin tak sabar.
"Itu lo kak," ucap Eva menunduk.
"Itu apa? Kalau ngomong yang jelas dong dek!"
"Hmmm tadi aku sama Om Rendra pel..".
Belum sempat Eva meneruskan ksta katanya ia sudah terpotong oleh suara ketukan pintu dari luar yang ternyata berasal dari Zain yang akan mengantarkan makanan pesanan mereka.
Tok!
Tok!
Tok!
"Ada orang gak sih?" ucap Zain mengetuk pintu. "Woy sepeda eh spada,"
Zain masih mengetuk pintu rumah Rendra namun tak kunjung ada jawaban yang ia terima melainkan dia harus menunggu cukup lama sampai Rendra keluar untuk membukakan pintu.
"Eh Zain maaf yah lama," ucap Rendra membuka pintu untuk Zain.
"Lama beut darimana aja sih?" gerutu Zain kesal. "Nih makanannya,"
"Yaudah gue pergi dulu yah!" ucap Zain pamit.
"Eh mau kemana?" cegah Rendra pada Zain.
"Balik ke kantorlah kemana lagi coba emang mau dugem," ucap Zain membalikkan badannya menatap Rendra.
"Gak mau makan siang sekalian? Ada kak Amri tuh di dalam," tawar Rendra.
"Eh gak usah lah apalagi ada pak Amri gak enak gue," tolak Zain halus.
"Yakin nih?" ucap Amri yang datang menyusul Rendra menemui, Zain dari dalam rumah.
"Eh bapak, iya pak yakin dah saya kan cuma bawahan masa iya makan sama atasan," ucap Zain malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gak mau atau saya potong gaji?" ancam Amri dengan nada yang ditekan sehingga terkesan seram.
Seketika mata Rendra melingkar sempurna mendengar kata potong gaji, ia menelan ludahnya sejenak menatap kakak beradik itu yang tengah tersenyum penuh kepuasan karena bisa mengancamnya.
__ADS_1
"Yaudah yuk dek! Masuk! Zain gak mau ikut katanya potong gaji aja," ucap Amri membalikkan badannya hendak masuk kedalam rumah.
"Eh bentar pak! Saya mau kok!" cegah Zain pada atasannya.
"Tadi katanya gak mau? Gimana sih?"
"Tadi saya khilaf pak! Maaf," ucap Zain mengelak.
"Yakin nih?" tanya Rendra memastikan.
"Iya yakin dah sumpah!" ucap Zain dengan nada serius.
"Yaudah yuk masuk!" ucap Amri berjalan masuk di susul oleh Rendra meninggalkan Zain yang nista di luar.
Zain kini memasang tampang raut wajah memelas bingung dan bodo amat namun bila di depan Amri dia bahkan bisa memasang wajah bahagia secerah mentari pagi.
---
"Gimana rencana kamu?" tanya seorang pria pada Andrew.
"Yah begitulah rencana ku akan berhasil asal kita bisa menjebak Han dalam pemeriksaan kita," ucap Andrew tersenyum sinis.
"Lantas bagaimana dengan Rendra dan Amri?"
"Kita amankan dulu istri mereka dan setelah itu kita liat liburan itu akan jadi menyenangkan atau menyeramkan,"
Andrew berdiri dari duduknya dan tersenyim sinis menghadap ke arah lain. "Kau pulanglah dulu biar semua ini aku yang atur,"
"Oke aku percayakan semua kepadamu," ucap pria tersebut keluar dari ruangan Andrew.
Andrew kemudian berjalan ke arah meja kerjanya dan mengambil ponsel miliknya dan tampak menelepon seseorang.
[Halo Wisnu, aku sudah berhasil menjebaknya dan sebentar lagi dia akan termakan pada perangkatnya sendiri, dan kita pastikan dulu pada saat rekayasa kecelakaan itu nanti tidak ada kesan dibuat buat atau bahkan kita bisa sedikit tega dengan melukai Amri dan Rendra, tapi tidak yang akan terluka disini adalah dia bukan anak anak kita]
.[Oke, dan perihal Han akan aku urus dan masalah mereka biar Zain yang menyelesaikan karena aku yakin Zain adalah orang terbaik yang bisa kita percayai selain Rendra dan Amri]
[Pastinya]
Andrew kemudian mematikan sambungan telepon itu dan menaruh ponselnya kembali diatas meja kerjanya kemudian menatap ke arah jendela dan tersenyum puas dan penuh kemenangan.
"Tidak ada yang bisa mengacau rumah tangga anak dan menantuku selagi aku masih bernapas," guman Andrew dalam hatiml.
__ADS_1
- Bersambung -
Waduh ada apa nih? Yaudah deh kalian jangan lupa mampir di novelku genre horor yah ( Oh My Ghost )