
< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru :) >
---
Rendra berjalan canggung keluar dari ruangan Dokter itu setelah mendapat kabar yang membuat hatinya benar benar terguncang, apa yang harus dia katakan pada Eva nantinya ia ingin memiliki anak namun ia u ingin kehilangan istrinya.
Hatinya ragu ubtuk memilih, Allah bahkan belum menolongnya saat ini namun satu keyakinannya bahwa kesucian hati adalah kunci dari semua masalah.
Sesampainya di depan ruangan rawat Eva, Rendra langsung dirundung berbagai pertanyaan dari Dela dan Amri yang membuatnya seketika gugup dan bingung harus menjawab apa pada kakaknya itu.
"Ren? Eva kenapa?" tanya Amri.
"Iya Ren, Eva gak apa apa kan?" timpal Dela dengan wajah panik.
Rendra terdiam dan tertunduk ia seakan kehilangan kekuatannya untuk berbicara, ia mengatur napas sekejap sebelum akhirnya melepaskannya dan siap menjawab semua pertanyaan dari kakaknya.
"Eva mengalami gangguan pada kehamilannya," ucap Rendra lemah.
"Apa?" ucap Dela tak percaya.
"Aku harus memilih Eva yang selamat atau bayinya yang selamat,"
Seketika Amri, Dela dan Zain membulatkan mata sempurna seberat inikah masalah Rendra, apakah ini ujian dari Allah namun kini ia berada dalam pilihan yang sulit yang tak mungkin ia memilih keduanya walaupun dia mau.
Amri yang tak sadar meneteskan air matanya langsung memeluk adiknya itu dan memcoba memberinya semangat agar dia bisa kuat dalam menjalani ini semua.
"Sabar dek! Percayalah Allah selalu bersama orang orang yang kuat dan memiliki rasa sabar yang tinggi," ucap Amri memegang pundak Rendra
Dela ikut meneteskan air mata dan hanya menatap prihatin adik iparnya itu yang mungkin kini sudah ada dalam keadaan terguncang.
__ADS_1
"Jadi apa pilihanmu?" tanya Dela pada Rendra yang membuat Rendra terdiam sejenak memikirkan pilihannya.
Namun belum sempat dia menjawab semuanya tiba tiba keluar seorang suster yang memanggil Rendra untuk datang menemui Eva.
"Permisi? Pak Rendra? Sepertinya istri bapak ingin bertemu," ucap suster itu ramah.
Deg!
Hati Rendra berdegug kencang ia tidak siap menyampaikan kabar ini kepada Eva, ia tidak ingin Eva memikirkan masalah ini namun jika ia tidak memberitahu yang sesungguhnya maka ia bisa jadi kehilangan Eva untuk selama lamanya.
Setelah mendengar kabar dari sang susterĀ Rendra berjalan masuk kedalam ruangan rawat Eva dengan langkah ragu dan bimbang menunggu reaksi atas kabar buruk dari sang dokter.
Ceklekkk!
Suara pintu yang di buka oleh Rendra membuat Eva membuka matanya dan tersenyum akan kedatangan suaminya, namun ia sedikit heran ketika melihat raut wajah dari Rendra yang tanpa senyuman.
"Om?" panggil Eva yang melihat Rendra sudah berdiri di sampingnya dengan tatapan dingin. "Om kenapa?"
"Gugurkan kandungan itu," ucap Rendra lemah yang nyaris tanpa suara membuat Eva terperanjat kaget.
"Apa!?" pekik Eva kaget. "Tapi kenapa?"
"Aku tak ingin kau kenapa napa, lebih baik kau membenciku karena mengugurkan anak itu daripada aku melihatmu mati didepanku," ucap Rendra dengan air mata yang tak bisa di bendung lagi.
"Tidak! Aku tidak mau Om!" teriak Eva menarik tangannya dari genggaman Rendra.
"Aku mohon sayang, sekali ini saja! Aku tidak sanggup bila harus kehilanganmu,"
"Lebih baik aku mati daripada harus kehilangan bayiku! Aku sudah menunggunya dan Om tidak tahu bahagianya aku ketika mengandung anak ini, dan sekarang Om menyuruh aku mengugurkannya?"
__ADS_1
"Om akan lihat perjuangan seorang ibu demi anaknya walaupun dia harus kehilangan nyawanya," lanjut Eva dengan derai air mata tak tertahan.
"Tapi?"
"Keluar Om! Aku mau sendiri!" perintah Eva memalingkan wajahnya tidak ingin menatap suaminya itu.
Rendra menarik napas panjang lslu berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruangan tanpa menoleh ke arah Eva yang sangat terpukul akan kejadian ini.
---
Sayup sayup adzan maghrib terdengar di mushola rumah sakit, Rendra masih belum pulang karena memang Eva masih harus di rawat untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.
Rendra menatap jam di pergelangan tangannya kemudian berjalan menuju mushola untuk melaksanakan kewajibannya yang mungkin sudah lama ia tinggalkan, ia menyesal betapa bodohnya dia karena ketika dia terpuruk baru dia berdoa kepadanya lantas kemana saja dia selama ini sampai lalai akan tugas dari tuhannya.
Serrrr!
Suara air dari keran tempat Rendra mengambil air wudhu menghiasi heningnya tempat itu hanya ada beberapa orang yang sholat entah yang lainnya sedang sibuk atau bagaimana sehingga mereka seperti lupa akan tugasnya.
Rendra kemudian berjalan mantap masuk kedalam rumah Allah, betapa berharganya ketika hati merasakan kesejukan berada dalam genggaman tanganmu ya Allah, namun betapa bodohnya manusia yang sering lalai akan semua ini.
Semua pikiran Rendra ia hilangkan, hanya satu di ingatannya Allah Maha Besar, dimana kita bisa meminta walaupun tidak tahu akan dikabulkan namun percayalah siapa yang Istiqomah! Allah bantu dia.
Rendra kemudian segera menggelar sajadah dimana ia akan tertunduk kembali kepada tuhannya setelah sekian lama ia hanya berdiri layaknya manusia sombong sehingga ia di uji seketika ia roboh dan menyesali apa yang terjadi.
Rendra meneteskan air mata di setiap sujudnya dan tersenyum sembari membaca bacaan sholat yang mungkin tidak pernah dia baca lagi sebelum ini dan akhirnya dia sadar bahwa Allah adalah tempat terbaik untuk kembali.
"Ya allah, betapa bahagianya hati ketika bisa bersujud kepadamu lagi,' bathin Rendra setelah menyelesaikan salam terakhir.
Dan seketika ia sadar bahwa ia selama ini hanya mengejar kepuasan dunia tanpa memikirkan amal ibadahnya dan kewajibannya kepada tuhannya.
__ADS_1
- Bersambung -