Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
46. MDD : Harapan


__ADS_3

Jangan lupa di like sebelum membaca dan selamat membaca ♡


---


"Dokter!" ucap Andrew berteriak yang membuat para tim dokter masuk kembali keruangan itu.


"Para tim dokter bingung dengan apa yang terjadi pada Wisnu,"


Badan Wisnu terus gemetar dan tak hentinya menyebutkan nama Nissa yang membuat dokter semakin bingung.


Andrew yang mendengar apa yang disebut Wisnu kemudian mengingat sesuatu.


"Tunggu! Aku tau siapa yang dapat membuat Wisnu kembali normal!" ucap Andrew berlari keluar rumah sakit dan mengendarai mobilnya untuk menemui orang tersebut.


---


Andrew mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh untuk menemui Nissa agar bisa membantu Wisnu.


Saat ini perasaan Andrew benar benar kalut panik dan juga tak terkontrol semoga saja tim dokter bisa membantu Wisnu namun satu hal yang bisa membuat Wisnu kembali yaitu Nissa.


Mobil Andrew kini memasuki gerbang komplek perumahan yang di tempati Nissa, dan tentunya ditempati Andrew juga karena memang rumah mereka satu komplek di perumahan real estete.


Setelah sampai di depan rumah. Andrew segera berlari mengetuk pintu rumah Nissa dengan sangat keras sehingga membuat Nissa kaget dan keluar dari dalam rumah.


"Nissa!" ucap Andrew berteriak sambil mengetuk pintu atau lebih tepatnya menggedor.


Nissa yang mendengar bahwa ada orang yang menggedor pintu rumahnya segera keluar untuk membuka pintu.


"Andrew?" ucap Nissa membuka pintu.


Nissa memandang Andrew bingung dengan tatapan bingung. wajah Andrew tampak pucat dengan napas menburu juga keringat dingin.


"Ada apa Dre?" ucap Nissa bingung.


"Ikut aku!" ucap Andrew menarik tangan Nissa naik kedalam mobil.


Nissa tidak sempat berbicara Andrew segera menancap gas menuju ke rumah sakit dengan membawa Nissa yang sedang dalam keadaan bingung.


"Ada apa ini Dre?" ucap Nissa bingung.


"Kau harus membantu Wisnu," ucap Andrew mempercepat laju kendaraannya.

__ADS_1


"Bantu? Bantu apa?" ucap Nissa bertambah bingung.


"Hari ini Wisnu di operasi, dan setelah operasi kondisinya menurun dan hanya meracau memanggil namamu,"


"Apa?" ucap Nissa agak kaget. "Dimana pacarnya itu? Kenapa tidak memanggil pacarnya bukan aku!"


"Wisnu tak punya pacar dia setia sama kau!" ucap Andrew menjelaskannya dengan kesal.


"Apa maksudmu?" ucap Nissa menatap Andrew. "Bukankah kemarin dia yang kemarin datang dengan pacarnya membawa surat gugatan cerai untukku?"


Nissa memasang wajah penuh kesal dan juga bingung dan khawatir semua perasaan ini tergabung semua dan teraduk sama rata dalam hatinya.


Andrew mengambil napas panjang kemudian memperlambat laju kendaraannya.


"Sebenarnya,"


• Flashback On.


Andrew sedang sibuk diruangannya dengan beberapa kertas dan juga jadwal pemeriksaan pasien yang menjalar ia tampak sibuk sekali sebelum Wisnu datang untuk menemuinya.


"Hai Dre!" ucap Wisnu duduk di sofa ruangan Andrew.


"Aku dengar sudah ada yang ingin jadi pendonorku siapa dia?" tanya Wisnu sambil merentangkan tangannya.


"Hmmm sepertinya kau tak perlu tau sekarang!" ucap Andrew kembali fokua dengan tumpukan kertas dihadapannya.


Wisnu menghela napas panjang lalu kembali bersikap biasa saja.


"Oke, tidak apa apa," ucap Wisnu berdiri hendak keluar dari ruangan Andrew. "Kalau gitu aku pergi duluan yah!"


Wisnu melangkahkan kaki ke pintu dan hendak membukanya sampai Andrew memanggilnya kembali.


"Tunggu!" ucap Andrew mencegah Wisnu keluar.


Wisnu menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya menatap Andrew.


"Ada apa?" ucap Wisnu melipat kedua tangannya.


"Hnmm, apa kau jadi menceraikan Nissa?" tanya Andrew ragu.


"Yah aku akan tetap memceraikannya," ucap Wisnu santai.

__ADS_1


"Tapi kenapa? Kau kan sudah dapat donor kau bakal tertolong walaupun kemungkinannya kecil tapi ada harapan," ucap Andrew berjalan lebih dekat dengan Wisnu.


Wisnu menarik napas panjang lalu memasang raut wajah sesantai mungkin dan mulai berbicara.


"Aku sudah tak cinta lagi,"


"Apa!?" ucap Andrew setengah berteriak.


"Yah, apakah ada yang salah?" ucap Wisnu dengan santainya.


"Sejauh ini otakmu yang bermasalah!" ucap Andrew kesal.


"Hmmm kenapa kau begitu menginginkan kami bersatu?" ucap Wisnu kembali duduk di sofa yang sama.


"Karena kalian itu tak mungkin berpisah dan melihat keputusanmu aku rasa semua pengorbananku selama 9 bulan ini lebih sia sia lagi!" ucap Andrew dengan nada sedikit meninggi.


"Maaf,"


• Flashback Off.


Nissa tampak terdiam setelah mengetahui semuanya dan menarik napas panjang.


"Berhenti!" ucap Nissa pada Andrew.


"Ta ... Tapi kenapa?" ucap Andrew bingung menghentikan laju kendaraannya.


"Aku turun disini saja!" ucap Nissa mengambil tasnya dan turun dari mobil Andrew.


"Apakah mau tak ingin membantu Wisnu!?" ucap Andrew melihat Nissa yang turun dari mobilnya.


Nissa tak mengubris perkataan Andrew dan malah berlalu pergi meninggalkan mobil Andrew.


Andrew yang saat itu kalut tak tahu harus berbuat apa, segera menancap gas kembali ke rumah sakit tanpa Nissa.


Andrew semakin panik wajahnya pucat pasi, bingung dan harus bagaimana apa yang dia lakukan, sesampainya dirumah sakit Andrew segera masuk dan berlari ke ruang rawat Wisnu dan melihat para dokter yang berusaha menolong Wisnu, kini kondisi Wisnu turun drastis dan hanya kata Nissa yang keluar dari mulutnya.


Andrew hampir saja menyerah, ia menyandarkan bahunya di tembok, air matanya berjatuhan serasa dia gagal membantu sahabatnya, Andrew melepas kacamata kerjanya dan mengelap air matanya, kakinya lemas tak berdaya dan badannya gemetaran.


"Assalamualaikum, bisa aku melihat suamiku?" ucap Nissa di ambang pintu.


Happy Reading ♡

__ADS_1


__ADS_2