
Assalamualaikum, jangan lupa tinggalkan likenya agar Author semakin semangat updatenya dan selamat membaca.
---
"Dimana ini?" ucap Nissa bertanya.
Kini Nissa berada di sebuah jalan raya yang besar dimana ia tak tahu di tempat mana dia berada.
"Nissa!" teriak seorang Wanita tua memanggil nama Nissa.
Nissa kemudian menoleh kearah sumber suara tersebut mencari siapa yang memanggilnya sampai ia melingkarkan mata sempurna ketika ia tahu siapa yang memanggilnya.
"Ibu?" ucap Nissa kaget ketika melihat ibunya bersama dengan ayahnya yang berada di kursi roda.
Seketika air mata Nissa jatuh melihat kedua orang tuanya itu, Nissa berlari menuju keorang tuanya sampai langkahnya terhenti ketika melihat beberapa orang menarik paksa kedua orang tuanya ke dalam sebuah mobil hitam.
"Jangan!"
Nissa berlari mengejar mobil yang membawa beberapa yang menarik paksa masuk orang tuan Nissa kedalam mobil dan menjauh pergi dari tempat itu.
Nissa masih terus berlari mengejar mobil yang hampir hilang dari pandangannya sampai pada.
Pitttt.
Brak! Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menghantam tubuh Nissa hingga terlempar jauh dari tempat ia berdiri.
"Tolong!"
Nissa berteriak kencang dan terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.
Seketika Nissa menangis dengan sangat kencang yang begitu menyayat hati dengan mata yang sudah sembab sontak mengagetkan Wisnu yang baru saja selesai melaksanakan sholat subuh.
"Sayang kamu kenapa?" ucap Wisnu panik sembari duduk disamping istrinya.
Nissa tak menjawab pertanyaan suaminya dia hanya bisa menangis sembari memeluk erat tubuh sang suami.
"Hmmm pasti mimpi buruk?" guman Wisnu dalam hati.
Wisnu sendiri enggan menanyakan apa yang ada dalam mimpi Nissa dan memilih diam membiarkan Nissa menangis di dekapannya.
---
__ADS_1
Pagi telah menyingsing, Nissa sudah rapi dengan tatanan busana baju syarinya yang berwarna biru muda, sedangkan Wisnu berada di ruang tamu menggendong sang buah hati dengan keadaan belum mandi.
"Mas?" ucap Nissa berjalan menghampiri Wisnu.
Wisnu tak langsung menjawab Nissa dia hanya berdehem pelan dan tetap fokus pada bayinya.
"Aku berangkat dulu yah?" ucap Nissa duduk disamping Wisnu.
"Hmmm kamu naik apa?" tanya Wisnu yang kini fokusnya sudah ada di Nissa.
"Naik taksi online mas," ucap Nissa mengelus pipi bayinya.
"Terus sama Ay kalian ketemu dimana?" tanya Wisnu seolah mengintrogasi.
"Di cafe biasa aja mas," ucap Nissa menjelaskan.
Mendengar jawaban dari sang istri, Wisnu hanya ber oh ria dan mengangguk pelan.
"Yaudah hati hati yah? Ingat! Oke?" ucap Wisnu pada Nissa.
"Iya mas, kalau gitu aku pamit yah? Titip Amri yah?" ucap Nissa mencium punggung tangan sang suami. "Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
"Siap pak jalan! Sesuai aplikasi yah?" ucap Nissa pada sopir taksi tersebut.
"Iya Bu," ucap sopir taksi menjalankan mobilnya menuju cafe yang telah dipesan Oleh Ay.
Titt.. Titt.. Titt..
Suara ponsel bergetar Nissa yang berbunyi akibat ada yang mengirim pesan.
"Nis? Kamu dimana? Cepetan yah? Aku sudah lama nunggu nih," tulisan pada sebuah pesan yang masuk ke ponsel Nissa.
Nissa tak langsung menjawabnya dia hanya membiarkannya, karena sebentar lagi ia sudah hampir sampai di cafe tersebut.
Taksi yang ditumpangi Nissa sudah memasuki parkiran mobil cafe tersebut, setelah membayar Nissa pun bergegas masuk kedalam cafe untuk menemui Ay.
"Ay!" ucap Nissa yang melihat Ay sudah dalam balutan busana muslimnya yang menambah kecantikannya.
Nissa begitu terpukau akan kecantikan Ay yang 100% berubah dari penampilannya.
__ADS_1
"Nissa! Lama banget sih?" ucap Ay kesal.
"Iya maaf Ay, eh kamu cantik banget pakai hijab," ucap Nissa memuji Ay.
"Ah emang cantik yah? Makasih yah? Aku masih belajar kok," ucap Ay tersipu malu.
"Kamu ngapain ngajak ketemuan?" ucap Nissa duduk di kursi cafe tersebut.
"Gini Nis? Kan aku udah mau berhijab jadi aku minta tolong sama kamu buat temenin aku buat beli baju syari," ucap Ay ikut duduk bersebelahan dengan Nissa.
Brak!
Suara meja yang dipukul seseorang mengagetkan mereka berdua.
"Au?" ucap Nissa dan Ay bersamaan.
"Wah, hebat yah sudah berhijab juga, semenjak nikah sama dokter kan?" ucap Au bertepuk tangan. "Dasar sahabat pakainya pelet nikah sama dokter, dipelet apa tuh?"
"Apaan sih kamu Au jangan ganggu kita lah!" ucap Ay yang mulai bersabar menghadapi Au.
"Ow? Semenjak jadi pelakor kau jadi penyabar yah? Astaga pencitraan!" ucap Au nyinyir.
Mendengar hal itu Nissa dan Ay hanya bisa diam dan tak menjawab.
"Kenapa diam? Hah!? Takut? Bukannya dulu kalian yang paling berani?" ucap Au dengan nada sombong.
"Hey! Bukan kami takut sama kamu yah! Tapi kami takut sama allah dan tak mau mencari keributan dan kami masih punya malu tidak sepertimu yang tidak tahu malu," ucap Ay kesal kemudian berjalan keluar dari cafe itu.
Mendengar kata kata Ay, Au seketika terdiam bagai sebuah tamparan halus yang ia dapatkan dan membungkam seluruh kaya katanya.
"Puas kamu?" ucap Nissa pada Au dan menyusul sahabatnya keluar.
Nissa kemudian berjalan keluar dari cafe tersebut menyusul sahabatnya yang sudah sangat kesal akan tingkah laku Au.
"Ay tunggu!" ucap Nissa berjalan menyusul Ay yang tampak ingin menyebrang jalan.
Ay masih terus berjalan tak mempedulikan sahabatnya itu dan hanya terdiam malu tanpa melihat kiri dan kanannya.
Ay terus berjalan sampai ia tidak sadar bahwa ada mobil dengan kecepatan tinggi yang siap menghantamnya.
"Awas!" teriak seorang pria dari pinggir jalan.
__ADS_1
Brak!
Happy Reading😊