Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
My Cold Police : Kesucian Hati


__ADS_3

< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru :) >


---


Hari ini adalah hari paling bersejarah bagi Han dan Dian karena hari ini mereka akan mengungkap sumpah pernikahan mereka yang telah di persiapkan sejak jauh hari.


Tampak Han dengan wajah yang tampan serta maskulin di padukan dengan jas bernuansa merah muda terduduk di depan penghulu yang akan menyampaikan akad nikah mereka serta Dian yang berada di samping Han tak kalah cantiknya dengan balutan hijab itu membuat semua orang terpana saat melihatnya.


Sementara itu Wisnu dan Nissa duduk di sebelah kanan HanĀ  dengan wajah yang bahagia menyaksikan adik semata wayangnya akan; segera memulai hidup baru bersama calon istrinya.


Amri, Della,, Zain dan Ali juga sudah datang mereka duduk dengan wajah semringah terkecuali Zain yang nampak sedih memamdang mantan kekasih yang bersanding mesra dengan orang lain.


Tampak sebutir air mata jatuh dari pelupuk matanya membayangkan swmua kenangan masa lalu yang hanya tinggal kenangan, Zain kemudian berdiri dari duduknya dan berlari keluar ruangan,


Amri yang melihat sekretarisnya itu pun segera menyusulnya begitupun dengan Rendra yang tau betul apa yang di rasakan sahabatnya ikut menyusul Zain keluar dari ruangan namun menghentikan niatnya karena dia tidak ingin meninggalkan Eva di tempat ini apalagi dalan keadaan Hamil.


Sedangkan di luar sana Zain menangis dan mengacak acak rambutnya masuk ke dalam mobilnya., harusnya dia tidak datang kesini karena rasa ikhlasnya bahkan hanya sebatas pintu belum seujung kuku.


Tok!


Tok!


Tok!


Amri nampak mengetuk kaca mobil Zain dan memberi kode agar dibukakan pintu mobil, Zain tidak menoleh dan hanya langsung membuka pintu itu dan tidak menghiraukan kedatangan atasannya itu.


"Kenapa kau?" tanya Amri pada Zain.


"Tidak apa apa, Pak!" jawab Zain datar.


"Kau jangan membohongiku wajahmu saja sudah menunjukkan keraguan apalagi ditambah lari begini sebenarnya kenapa?"


"Saya tidak ingin membahasnya, Pak!" jawab Zain.


"Hmmmm, sudahlah kau jangan bodoh hanya karena satu wanita," ucap Amri menepuk pundak. Zain.

__ADS_1


"Bapak tau! Saya sudah bersama dia selama beberapa tahun ini, saya bahkan sudah mempersiapkan rencana untuk melamarnya namun sekarang apa? Dia bahkan lebih memilih pria lain! Menurut bapak bagaimana! Bapak hanya tau bicara," ucap Zain dengan nada tinggi.


Amri mengambil napas panjang lalu menatap Zain sekilas dan tersenyum simpul yang membuat Zain sedikit tenang dan bisa mengendalikan emosinya.


"Menurutku? Biasa saja," jawab Amri santai.


"Jelas menurut bapak biasa saja, saya bahkan sudah meragukan kebesaran Allah pak dan mungkin Allah sudah berlaku tidak adil terhadap saya,"


"Jangan bodoh kamu! Kamu masih bernapas saja Allah sudah sangat adil,"


"Bapak tidak tahu apa yang saya rasakan!" bentak Zain yang membuat Amri tersentak kaget dan seketika wajah Amri merah padam dibuatnya. "Maaf, Pak!"


Amri sangat emosi di buatnya namun ia harus sesantai mungkin ia tidak ingin marah sekarang karena sekretarisnya itu sedang tertekan batinnya.


"Saya sudah merasakan yang lebih dari kamu Zain," ucap Amri dengan raut wajah sedih.


"Maaf, Pak!" ucap Zain pada Amri.


"Saya bahkan pernah meragukan adanya Allah, Allah tidak adil dia mengambil istri pertama saya tepat di malam pertama kami apakah itu tidak menyakitkan? Kau mungkin akan berkata menyakitkan namun bagiku itu adalah semangat, saya terpuruk dan hidup dengan selalu menyalahkan Allah, sampai saya sadar bahwa Allah ternyata akan mengantinya dengan bidadari syurga lainnya dan saya menemukannya yaitu Dela,"


Zain menunduk menangis tersedu sedu mendengar penuturan atasannya itu, betapa bodohnya dia telah menyia nyiakan hidup hanya untuk wanita yang sudah pasti bukan miliknya.


Zain kemudian beralih memeluk atasannya itu, dia sangat menyesal dan sangat berterima kasih kata kata dari Amri ternyata telah membuka mata hatinya.


"Maafkan saya, Pak!" ucap Zain melepas pelukannya.


"Tidak apa, tapi kamu jangan pernah meragukan adanya Allah, kau tau Allah itu baik banget sama kita, tanpa kita sadar Allah itu sangat baik sama kita, Allah kalau tengah malam kita buat Dosa dan gak ada orang lain yang lihat sedang hanya ada satu malaikat yang nyatet Allah bilang "Jangan catat dulu mungkin besok dia akan bertaubat" kau sadar bahwa Allah ketika kita berbuat dosa selalu ditutupi pada malaikat lain namun ketika kita bertaubat Allaj umumkan ke malaikat lain bahwa hambanya telah bertaubat,"


"Kau jangan hanya karena cinta, mungkin Allah tidak memberimu jodoh mungkin karena rasa cintamu terhadap Allah itu kurang Allah cemburu sehingga ia tidak menampakkan jodohmu,. Gak mungkin kita akan bahagia dan meraih apa yang kita inginkan ketika mencintai sesuatu melebihi cinta kita terhadap Allah, tenang Zain! Allah itu baik karena kata Allah siapa yang istiqomah kita bantu dia! Jangan ragu jangan bimbang Allah selalu menyertaimu," Lanjut Amri


Amri tersenyum dan keluar dari mobil Zain. "Masuklah dan berikan senyum terbaikmu,"


Amri kemudian berjalan masuk kedalam gedung akad nikah kembali meninggalkan Zain yang sedang merenungi kata kata Amri dan tiada hentinya beristigfar memohon maaf atas kesalahannya selama ini


---

__ADS_1


"Sah!"


Terdengar suara seluruh hadirin yang gemuruh mengucapkan kata sah setelah Han mengucapkan ijab kabulnya itu, Han tampak bahagia dan tanpa sadar air mata ketulusan jatuh di sudut pipinya, ia memasangkan cincin kepada Dian dan mencium kening Dian.


"Makasih ya allah, aku takkan pernah melepaskan gadis ini," batin Han dan memeluk Dian mesra.


Dian tersenyum dan menempelkan kepalanya di dada Han karena ia sudah sangat menyayangi Han, ia ragu namun ternyata Han adalah pria yang taat akan agama sehingga membuat Dian yakin bahwa Han lah imam yang dia cari.


"O...o... Om romantisnya pas malam pertama aja jangan di sini," goda Amri pada Omnya itu.


Han tersenyum lalu memeluk keponakannya itu setelah dia meninju pelan tangannya. "Kamu selalu menggoda saja menggoda Om mu ini,"


"Iyalah Om, selamat yah akhirnya menemukan jodoh dunia akhiratnya insya allah sampai mau memisahkan," ucap Amri yang memancing senyuman tulus dari Han.


Han kemudian beralih menatap Zain yang kini sudah tersenyum bahagia, Han sebenarnya ragu sampai Zain yang memeluknya duluan dan mengucapkan kata selamat.


"Selamat yah, Pak Han, jodohnya udah ada berarti hari ini resmi melepas status jomblonya makan makannya kapan nih Pak?" gurau Zain disambut tawa dari mereka semua


"Tenang! Makan makannya ada dong!" celetuk Amri.


"Dimana, Pak?" tanya Zain antusias.


"Yah dirumah masing masinglah masa dirumah saya," ucap Amri yang membuat wajah Zain cemberut seketika..


"Hmmm bisa aja, Pak! Gemesh saya pengen nyentil ginjal bapak," ucap Zain disambut tawa yang menandakan kebahagian di hari itu.


Sementara itu saat Han ingin memeluk Rendra tiba tiba saja Eva mengeluh kesakitan pada perutnya yang membuat semua panik seketika.


"Kenapa Va!?" tanya Dela kaget melihat adiknya kesakitan.


"Mau melahirkan kali yah?" ucap Amri dengan wajah panik.


"Yakali pak! Orang baru dua bulan kok melahirkan," protes Zain.


"Yasudah Ren, cepat bawah istrimu ke rumah sakit sekalian kalian bertiga temani Rendra saya takut terjadi apa apa biar nanti Kak Wisnu dan Kak Nissa saya yanfmg kabari," perintah Han disambut anggukan dari Rendra, Dela, Zain dan Amri yang gelagapan segera berlari membawa Eva keluar dari mobil disambut tatapan khawatir para tamu yang hadir saat itu.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2