Menikahi Dokter Dingin

Menikahi Dokter Dingin
My Cold Police : Protokol Misi 7


__ADS_3

< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru (~_^) >


Azraf mulai lemah, kakinya lemas dan badannya sakit sakit semua akibat menghindar terus dari tembakan mereka yang membabi buta saat itu.


Dor!


Dor!


Dor!


Tiga kali tembakan terdengar ditelinga Azraf yang seketika membuat beberapa orang mafia itu terjatuh dengan keadaan bersimbah darah.


"Wah cukup mudah yah?" ucap Andrew memperbaiki kerah bajunya.


"Hey! Jangan sombong dulu kau, mereka bisa jadi tambah banyak," ucap Reza memperingati.


"Iya bawel!" ucap Andrew ketus.


Sementara Andrew dan Reza berjaga, Wisnu segera mengambil tindakan pertolongan pertama pada para polisi yang tertembak tadi untuk sekedar menghentikan pendarahan dibekas tembakan itu dan menunggu pihak medis dan kepolisian lain datang.


Andrew kemudian memandang sekitarnya dan memperhatikan sebuah mobil datang dari kejauhan yang parkir di depan tempat ini.


"Nah itu mereka datang," ucap Andrew menunjuk sebuah mobil yang merupakan mobil dari Amri.


Amri dan Zain tampak keluar dari mobil itu dan membawa tubuh Darius yang sudah tidak sadarkan diri kearah Andrew dan yang lain berada.


"Nah ini dia penjahatnya," ucap Andrew kesal menatap tubuh Darius. "Eh bentar kalian apain orang ini?"


Amri dan Zain yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya tersenyum lalu tertawa sendiri.


"Panjang ceritanya," ucap Amri menghentikan tawanya. "Eh Rendra mana?"


Kini giliran Amri yang kembali bertanya dan disambut dengan wajah datar Andrew dan Reza.


"Lah kok diem?"


"Hmmmm, Rendra yah? Kayaknya ada didalam deh," ucap Andrew ragu.


"Apa!? Didalam!" teriak Amri panik.


Tanpa pikir panjang Amri kemudian berlari masuk kedalam bangunan itu tanpa mendengar penjelasan dari ayah mertuanya terlebih dahulu.


---


Rendra tidak ada pilihan lain ia harus menyelamatkan Eva karena harapan satu satunya hanya ada di Rendra karena nyawa kedua polisi terbaik ini dalam bahaya dan keberhasilan hanya ada ditangan Rendra sampe menunggu pasukan B datang.


Rendra berlari sekuat tenaganya mendobrak pintu gudang tersebut sampai akhirnya dia berhasil dan bisa masuk kedalam tempat itu.


Di saat Rendra berusaha mencari keberadaan Eva ia malah dihadang oleh 2 orang bersenjata, Rendra kemudian menyiapkan pistolnya dan mulai mengarahkan senjatanya kepada kedua orang tersebut.


Dua orang tersebut menatap sinis lalu sama sama menyiapkan senjata mereka mengepung Rendra yang notabenenya sendirian tanpa bantuan namun ini tekadnya kalau bukan dia yang bisa menyelamatkan Eva lantas siapa lagi.

__ADS_1


Dor!


Terdengar bunyi tembakan dari Rendra yang sama sekali tidak mengenai kedua orang tersebut dan malah mengarah kesebuah jendela yang membuatnya retak seketika.


"Minggir kalian jangan ganggu jalanku," ucap Rendra emosi.


Rendra kemudian mengarahkan kembali pistolnya kearah kedua orang dan mulai menembakan peluru namun sayang sebelum ia berhasil menembak orang tersebut sebuah tendangan dari salah satunya mengenai tubuh Rendra sehingga ia terjatuh dan pistolnya terlempar entah kemana.


Di saat seperti ini lawan Rendra pun memegang kendali dan menodong balik Rendra dengan pistol. Rendra kini diam tak berkutik nyawanya diujung tanduk dan dia bahkan berpikir takkan bisa melihat Eva lagi.


Rendra perlahan menutup matanya pasrah karena mungkin sudah takdirnya mati di ditempat ini dan ia harus menerima bahwa jika Eva selamat ternyata Rendra bukan jodoh untuknya.


Duk!


Duk!


Terdengar suara pukulan benda keras di telinga Rendra sehingga membuat ia membuka mata sekejap dan mendapati musuhnya sudah terbaring tak sadarkan diri. Rendra memandang tidak percaya lalu mengangkat kepalanya melihat orang yang baru saja menolongnya itu.


"Dek? Gak apa apa kan?" ucap Amri mengulurkan tangannya membantu Rendra berdiri.


Rendra menatap sendu kakakkanya lalu menerima uluran tangan dari Amri dan berdiri tepat dihadapan Amri.


"Terima kasih kak," ucap Rendra memeluk erat sang kakak.


Amri merasakan kehangatan di pelukan adiknya ini bagaimana tidak sejauh ini Amri terlalu memiliki sikap yang kurang ramah sehingga Rendra saja bahkan sampai membencinya namun kali ini Amri merasakan ketulusan dibalik pelukan adiknya itu.


"Ya sudah mari kita selamatkan Eva," ucap Amri melepas pelukannya dan berjalan masuk kedalam bangunan itu.


Amri dan Rendra terus berjalan mengendap endap dan berjaga jaga karena bisa jadi penjaga lain ada di depan mereka, lama mereka berjalan sampai akhirnya mereka tiba disebuah ruangan yang sedikit tertutup dan terkunci.


"Akhirnya kalian sampai juga yah," ucap pria tersebut menyeringai seram sembari menodongkan pistolnya.


"Apa mau kalian?" tanya Amri pada mereka.


"Mau kami? Pertanyaan yang bagus," ucap pria tersebut sembari tersenyum sinis. "Mau kami yah nyawa kalian,"


"Apa!? Apa salah kami padamu!" tanya Rendra emosi. "Dan kau Ali tak kusangka ternyata kau adalah bagian dari mafia ini,"


Ali tertunduk lemas ia berbicara sesuatu namun hatinya juga tak bisa melakukannya sekarang dia akan membantu Rendra tapi bukan sekarang.


Ali kemudian melangkahkan kakinya mundur sejenak sehingga posisi pria tersebut kini sudah ada di depannya.


Dor!


Sebuah tembakan dilepaskan Ali dan berhasil mengenai pria tersebut hingga ia jatuh dengan bersimbah darah dibagian kepala.


Amri dan Rendra yang melihat kejadian itu hanya menatap bingung apa yang sedang terjadi dan melihat Ali sudah menangis didepan tubuh pria tadi.


"Maafin gue bang," ucap Ali sambil terus meneteskan air matanya.


Rendra merasa bersalah dan menatap sedih kearah Ali mungkin pria ini adalah seseorang paling berharga dalam hidup Ali sehingga ia begitu merasa bersedih atas apa yang terjadi.

__ADS_1


"Apa yang kalian lihat! Lepaskan Eva bawah dia pergi dan kalian bisa jobloskan aku kedalam penjara," teriak Ali pada Rendra dan Amri.


Rendra kemudian berlari menyelamatkan Eva melepas ikatan tangannya dan mendekap erat tubuh istrinya itu.


"Va? Bangun," ucap Rendra lemah sambil mengelus rambut Eva. "Maafin aku sayang,"


Tak lama kemudian para pihak kepolisian datang dan membawa para mafia tersebut termasuk Ali namun cepat ditahan oleh Rendra dan mengatakan Ali tidak bersalah dalam kejadian ini.


Dan akhirnya mereka semua tau bahwa sumber dari masalah ini adalah Darius yang memcoba membalas dendam atas dasar apa ia sampe tak mau dinterogasi untuk menanyakan apa tujuannya mencoba untuk balas dendam.


---


"Om? Bangun," ucap Eva membangunkan Rendra yang masih terbuai dalam mimpinya dibalik selimut yang menutupi wajahnya.


Eva sudah sedari tadi menbangunkan Rendra namun ia tidak bangun bangun juga, ia bahkan sudah lelah dan lebih memilih diam mungkin Rendra sakit karena tidak biasanya ia bangun sesiang ini.


Di saat Eva berdiri dan hendak keluar dari kamar tiba tiba saja tangannya ditarik oleh Rendra sehingga ia terjatuh dalam pelukan Rendra. "Selamat pagi gadis bodoh,"


Eva terdiam dan menatap gugup wajah Rendra yang sudah beberapa centi dari wajahnya dan bahkan ia bisa merasakan hembusan napas suaminya.


"Dia masih memanggilku gadis bodoh dan padahal ini kan siang bukan pagi lagi," gerutu Eva dalam hati.


"Lepaskan aku Om," ucap Eba memberontak.


"Kalau aku lepasin kamu mau apa?" tanya Rendra sinis. "Sudah begini saja dulu kapan lagi kan aku memelukmu seperti ini,"


Eva terdiam dan Rendra tersenyum puas kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Eva sehingga cup! Sebuah kecupan dan bibir yang berpangutan kini sudah ada didepan mata.


Eva yang mendapat tindakan seperti ini dari Rendra sedikit kaget dan bahkan ia yakin bahwa pipinya pasti sudah merah didepan Rendra. Eva tidak membalas ciuman Rendra dan hanya diam sampai ia terbiasa dan mulai menikmati suasana bersama suaminya itu.


"Maafin aku yah sayang," ucap Rendra melepas ciumannya.


Eva tersenyum lalu sedikit kaget pasalnya Rendra kini membalikkan tubuhnya dan sekarang dalam posisi menindih Eva.


"Sudah ah Om," ucap Eva memohon.


"Kenapa kau terus memanggilku Om?" tanya Rendra sedikit kesal.


"Kalau bukan Om lantas mau kupanggil apa?" tanya Eva balik.


"Panggil aku Daddy dong sayang," ucap Rendra memeluk erat tubuh Eva dan kembali mencium mesra bibirnya.


Lama mereka dalam posisi seperti ini sampai akhirnya ...


"Rendra bangun!" teriak Amri masuk kedalam kamar Rendra dan tanpa sengaja melihat adegan tersebut. "Ups! Sorry silakan dilanjutkan anggap saja saya tidak ada,"


Amri lalu berlari keluar dari kamar Rendra dan disambut tawa lepas dari Eva dan Rendra yang melihat tingkah kakaknya yang sedikit salting atas apa yang barusan dilihatnya.


"Kayaknya kita butuh bulan madu deh," ucap Rendra pada Eva.


- Bersambung -

__ADS_1


Huahhh sebenarnya author nyesek plus sedih pas nulis ini maafkan bila Feelnya gak ada karena Author adalah jomblo dan belum pernah kek gitu jadi authornya hanya berhalusinasi ... Eh Btw kita buat part Flashbacknya pas mereka bulan madu aja yah biar gimana gitu yang gitu ehem ehem ambyar wkwkwkwk.


// Author pikirannya kemana mana hehehehehe


__ADS_2