
< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru :) >
---
Apa ini?" ucap Dian berusaha melepaskan cengkraman Han yang menahan dirinya.
"Aku mau sarapannya pake kamu," bisik Han pelan yang membuat Dian bergidik ngeri.
Han.kemudian mendorong kursinya lalu berdiri menggendong Dian ke arah sofa ruang tamu lalu menindihnya disana, jarak antara wajah mereka kini sudah sangat dekat bahkan mereka bisa merasakan deruan napas masing masing saat itu.
Han kemudian mengangkat wajah Dian dan mendekatkan wajahnya sampai kini kedua pasangan suami istri itu terlibat dalam adegan yang mesra.
"Mas, nant...,"
Belum sempat Dian meneruskan kata katanya Han sudah menbungkamnya dengan ciumannya sehingga Dian sangat kesulitan untuk berbicara saat itu.
Dian yang mulai pasrah akan perlakuan suaminya itu hanya mengalungkan tangannya di leher Han, sementara Han mengangkat dagu Dian dan kembali memperdalam ciumannya sehingga pagi itu menjadi pagi yang sangat spesial bersamanya dan juga di dekatnya.
"Aku mencintaimu!" ucap Han melepaskan ciumannya lalu menggendong tubuh Dian ke teras rumah mereka.
Sesampainya di teras rumah Han langsung mendudukkan badannya dan memangku Dian lembut sembari memeluknya dari belakang dengan kepala berada di pundak Dian.
"Hmmm, apa kau tahu apa yang kurasakan?" bisik Han lembut.
"Apa, Mas?" tanya Dian sembari memegang pipi Han lembut.
"Aku merasa bahagia karena akhirnya aku bisa memilikimu," ucap Han lembut.
"Aku juga mas," ucap Dian membalikkan badannya memeluk Han. "Aku mencintaimu Zain!"
Han yang sedari tadi memejamkan matanya langsung membuka matanya sempurna ketika mendengar nama Zain dan langsung melepaskan pelukan dari Dian yang membuat Dian kaget serta menatap bingung.
Han kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan kedepan Dian dengan posisi membelakangi istrinya itu dengan wajah dingin dan datar.
"Kau sepertinya belum melupakan Zain," ucap Han lemah. "Ku kira kau sudah berusaha,"
Dian kemudian berjalan ke arah suaminya itu dan memeluknya dari belakang sembari meminta maaf atas kesalahannya tadi yang mungkin membuat hati Han sedikit sakit.
"Maafkan aku, Mas," ucap Dian memeluk Han.
"Lepaskan aku!' ucap Han dengan nada yang sedikit meninggi lalu melepaskan pelukan dari Dian.
"Maafkan aku," ucap Dian merangkul tangan Han.
"Bisakah kau melepaskanku aku ingin masuk ke dalam," ucap Han menatap sendu ke arah Dian.
Dian kemudian melepaskan tangannya dari lengan suaminya itu kemudian Han berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Dian yahg sedang dalam keadaan penuh penyesalan.
"Padahal aku sudah memcoba melupakannya namun aku masih mencintai Zain," batin Dian kemudian menyusul suaminya itu.
__ADS_1
---
Brumm!
Suara deru mesin mobil Adnan memecah keheningan, ia kemudian segera menjalankan mobilnya mencari tempat yang menjual martabak yang Syafa mau itu.
Di sepanjang perjalanan Adnan hanya fokus menyetir sembari memperhatikan kiri dan kanannya yang barang kali terdapat stand penjualan martabak yang sedang beroperasi.
Namun saat Adnan sedang menyetir mobilnya dalam keadaan sedang, tiba-tiba seorang wanita melintas begitu saja di depan mobilnya sehingga ia otomatis mengerem mobilnya itu.
Adnan panik namun ia semakin panik tak kalah wanita itu berdiri dan langsung masuk kedalam mobil Adnan, Adnan yang masih shock dan tidak mengerti apa apa hanya bisa melongo dan menatap wanita itu.
Wanita itu tampak ketakutan dan gelisah sambil menutupi wajahnya yang membuat Adnan semakin panik dibuatnya.
"Jalan!" pinta wanita tersebut pada Adnan dan anehnya Adnan menurut dan segera menancap gas meninggalkan tempat itu.
"Kamu siapa?" tanya Adnan pada wanita itu.
"Aku Zalfa," ucap Zalfa ragu.
"Kenapa kau naik ke mobilku? Apa maumu?" tanya Adnan menghentikan laju kendaraannya.
"Apakah kau bisa membantuku, ibu dan ayah tiriku ingin membunuhku karena aku telah mengetahui kejahatan mereka yang membunuh ayah kandungku,"
"Jadi?"
"Bisakah kau memberikan tumpangan tempat tinggal sembari aku menyelidiki semua ini dan mengumpulkan bukti untuk memjobloskan mereka ke penjara,"
"Kurasa kau orang yang baik dan ku harap kau bersedia menolongku," ucap Zalfa memohon.
Adnan tampak berpikir sejenak kemudian menjalankan mobilnya kembali sembari memikirkan sesuatu yang mungkin bisa membantu.
"Aku tidak bisa memberimu tumpangan tempat tinggal,"
"Tapi kenapa?" tanya Zalfa.
"Kita bukan muhrim lagian aku saja tidak mengenalmu," ucap Adnan menatap fokus kedepan jalan raya.
"Tapi, kumohon," ucap Zalfa memelas.
"Tapi untuk memberimu tempat tinggal kurasa adikku Syafa bersedia dan untuk membantu memecahkan kasusmu aku mengenal seseorang yang ahli dalam bidang ini," ucap Adnan tersenyum sinis yang membuat Zalfa bergidik ngeri dibuatnya.
---
"Aku sudah sabar tetapi kau selalu mengujiku dan baiklah akan kuberikan sebuah permainan manis untukmu, sayang!" bisik Rendra yang membuat Eva bergidik ngeri mendengarnya.
Rendra kemudian membalikkan tubuh Eva namun masih dalam posisi memangkunya sehingga wajah dari mereka berdua kini saling berpapasan.
Rendra yang sedari tadi sudah tidak tahan segera mendorong wajahnya sehingga kini bibir mereka sudah berpangutan mesra, sementara Eva hanya melingkarkan mata sempurna karena menerima perlakuan secara mendadak oleh suaminya.
__ADS_1
"Astagfirullah! Woy sadar! Rumah sakit woy kalau mau main noh dirumah!" ucap Amri yang datang entah darimana mengagetkan mereka berdua yang sontak langsung salah tingkah dibuatnya.
"Bisa gak ngetuk pintu dulu," ucap Rendra kesal.
"Eh iya kelupaan sorry," ucap Amri menggaruk kepalanya yang gatal. "Eh aku cuma mau bilang katanya kalian dah boleh pulang,"
"Hah? Serius?" tanya Rendra memastikan.
"Iya,"
"Serius kak?"
"Iya,"
"Serius?"
"Nanya lagi gue tampol lo yak!" ucap Amri kesal "Sono dah urus administrasinya sekalian pulang biar baju baju ini kakak yang urus,"
"Serius nih entar ngerepotin kan ribet," ucap Rendra pada kakaknya.
"Yaudah dah urus sendiri gih!" ucap Amri duduk di kursi samping ranjang Eva.
"Eh jangan deng, mending kak Amri aja," ucap Rendra tersenyum manis pada kakaknya.
"Hmmm gayamu dek, tak tampol mampos kau dah sono buruan! Apa gak ada duit? Tenang kakakmu kan banyak duit,"
"Idih songong beut nih Ceo," ucap Rendra nemalingkan wajah jijiknya.
Rendra kemudian segera membantu Eva untuk berdiri dan berjalan keluar ruangan untuk mengurusi segala administrasi beserta yang lainnya dan siap siap untuk pulang ke rumah.
Rendra dan Eva kemudian meninggalkan Amri yang masih berada di ruangan itu yang nampak menelepon seseorang yang entah siapa yang dia telpon.
"Mereka sudah pulang! Siapkan semuanya," ucap Amri kemudian mematikan telepon sepihak.
Sementara itu Rendra mendudukkan Eva di kursi tunggu sembari menunggunya membayar administrasi rumah sakit ini.
"Tunggu bentar yah sayang!" ucap Amri berjalan menuju meja resepsionis.
Eva hanya mengangguk sembari melihat punggung suaminya yang kini sudah berdiri kokoh di depan meja Administrasi.
"Ah ini kan dompet Om Rendra," ucap Eva melihat dompet suaminya yang berada dalam tasnya.
Eva kemudian berniat menyerahkannya namun gagal memanggil suaminya itu dan memilih berjalan ke arah Rendra tapi pada saat Eva berdiri ia sudah merasakan pusing di kepalanya yang membuatnya hampir tumbang jika saja tidak ditangkap oleh seseorang.
Eva kemudian mengerjapkan matanya kaget dan menatap orang yang baru saja menolongnya itu.
"Kak Ali?" ucap Eva lemah.
Sementara itu Rendra yang tak mengetahui kronologinya hanya berdiri menatap geram kearah Eva dan Ali kemudian meremas keras kertas bukti pembayaran yang ada ditangannya itu.
__ADS_1
- Bersambung -