
< Budayakan Like episode ini sebelum membaca agar bisa menambah semangat author dalam berkarya dan bila kamu menyukai novel ini silakan masukkan ke daftar favorite kamu agar kamu yang pertama menerima notifikasi ketika author update episode terbaru :) >
---
Pagi sudah menyapa, matahari sudah terbit dari tadi, Eva terbangun dari tidurnya sembari merenggangkan badannya lalu keluar dari pelukan Rendra yang memeluknya selama mereka tidur entah apa maksudnya namun Eva seakan merasakan kehangatan di situ.
Eva berdiri dari ranjang dan berjalan ke arah jendela kemudian menyibak hordennya sehingga cahaya matahari langsung dapat masuk ke kamarnya dan mengenai Rendra yang masih tertidur.
"Hmmmm, kok gak bangun sih? Padahal kan udah kena cahaya matahari," ucap Eva dalam hati.
Eva kemudian berjalan mendekati suaminya yang masih terlelap dalam alam mimpinya sendiri, Eva duduk di atas ranjang kemudian menoel noel pipi Rendra untuk membangunkannya.
Lama Eva begitu namun tak kunjung ada reaksi sehingga Eva memikirkan satu ide untuk mencubit hidung mancung sang suami.
Namun belum sempat ia melakukannya tiba tiba Rendra menariknya ke atas dada Rendra sehingga kini posisi Eva menindih Rendra.
"Apa yang ingin kau lakukan gadisku?" tanya Rendra lembut sembari memegang kepala Eva agar tetap menatapnya.
Eva yang kaget tidak tahu harus menjawab apa dia hanya diam tanpa bicara menanti pertolongan kan datang namun sayangnya itu hanya menanti dan tak mungkin ada.
"Tidak ada apa apa," ucap Eva gelagapan.
"Serius?" tanya Rendra kembali menggulingkan badannya sehingga ia yang kini menindih Eva.
"Serius Om, yaudah gih sana mandi," ucap Eva memalingkan wajahnya.
"Mandiin," rengek Rendra manja.
"Apa!? Tapi? Aku gak mau," ucap Eva panik bercampur ketus.
"Yaudah kalau gitu aku gak mau mandi," ucap Rendra menidurkan kepalanya di dada Eva.
"Om buruan mandi udah siang nih,"
"Yah kalau mau mandiin aku," ucap Rendra sekali lagi.
"Tapi ... Yaudah deh! Buruan," ucap Eva setuju.
Rendra tersenyum kemudian berdiri dan melepas kaosnya sedangkan Eva berjalan ke arah kamar mandi untuk menyiapkan air hangatnya namun belum sampe ia masuk ke dalam kamar mandi ia sudah meringis kesakitan di kepalanya dan hampir jatuh sehingga membuat Rendra panik dan reflek menangkap tubuh Eva yang tumbang.
__ADS_1
"Eva! Kamu gak apa apa kan?" tanya Rendra panik.
Eva tak menjawab ia mual dan segera di antar Rendra ke kamar mandi ia mengeluh sakit kepala dan mual mual juga yang membuat Rendra panik, bagaimana tidak dokter dari villa ini tidak ada dan jalan satu satunya mereka harus kembali ke kota.
"Om? Aku mau istirahat aja, Om mandi gih," ucap Eva lemah berbaring di atas ranjang.
"Yaudah aku mandinya nanti, kamu gak apa apa kan sayang? Maaf yah kalau Om terlalu memaksa kamu," ucap Rendra panik sembari mengelus pelan rambut Eva.
"Gak apa apa kok Om," ucap Eva tersenyum lembut.
"Kalau gitu kayaknya kita harus balik, soalnya nanti sakitmu tambah parah," ucap Rendra berdiri sembari memakai kaosnya kembali. "Tunggu yah aku kasih tau mereka supaya bisa siap siap pulang,"
Rendra kemudian berjalan keluar meninggalkan Eva yang lemah terbaring di tempat tidur dengan wajah yang sangat pucat.
---
Amri dan Zain nampak duduk di balkon sembari menyeruput teh hangat juga beberapa potong kue dan menikmati pemandangan pegunungan.
Indah. Sampai sampai mereka terlarut dalam buai angin dan juga deretan gunung yang menghijau seakan melambai memanggil mereka untuk datang kesana.
Namun semua itu hanya bertahan beberapa menit sampai Rendra datang dengan wajah panik yang membuat mereka ikutan panik.
"Eh Rendra gimana semalam berkebunnya? Udah jadi anak belum?" goda Amri sembari memakan sepotong kue.
"Ya kali berkebun aja sampai lupa waktu makan malam," sindir Zain.
"Tunggu!" ucap Rendra mengambil cangkir teh dari tangan Zain dan meminumnya sampai habis sedangkan Zain hanya dapat menatap miris cangkir tehnya yang sudah kosong tak bersisa.
"Ada apa emang dek?" tanya Amri serius.
"Eva kak!"
"Kenapa?" tanya Amri kembali.
"Eva kak!"
"iya kenapa?"
"Eva!"
__ADS_1
"Pengen gue tabok ya allah," ucap Amri kesal.
"Tabok aja pak!" timpal Zain yang ikut kesal.
Rendra terkekeh kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari mengambil tempat duduk kemudian duduk sembari menatap serius kepada dua orang di depannya itu.
"Eva kak! Dia sakit kepala, lemas dan juga mual mual," ucap Rendra menjelaskan. "Kayaknya kita harus pulang deh,"
"Apa? Pulang?" ucap Amri dan Zain terperangah.
"Iya pulang!"
"Tapi tunggu! Kalau sakit kepala, lemas dan ..." ucap Amri terpotong.
"Dan mual mual!" sambung Zain yang kini saling menatap pada Amri.
"Berarti," ucap Amri pelan.
"Eva, Hamil!" ucap Amri dan Zain bersamaan.
Rendra terkejut dan menaikkan alisnya tak percaya serta membulatkan kedua bola matanya sempurna menatap kedua orang yang saling menebak satu sama lain.
"Kebanyakan berkebun sih akhirnya istri hamil begitukan?" ucap Amri menyeruput tehnya.
"Yah gak apa apa dong pak, kecuali yang hamil Eva terus anaknya bapak itu baru masalah," ucap Zain.
"Iya juga sih yah? Tapi otakku gak nyampe lah!" ucap Amri disambut tawa dari yang lain.
Sementara itu Rendra terdiam seperti memikirkan sesuatu yang mengganjal di hatinya tentang ini apakah benar Eva hamil kalau benar hamil dia harus siap menjadi seorang ayah.
Rendra kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan kakak dan sahabatnya yang sedang tertawa yang bagi Rendra itu bukan hal yang lucu.
Sesampainya di depan pintu kamarnya Rendra kemudian membukanya pelan takut membangunkan Eva yang mungkin sedang tertidur.
Ceklekkk!
Suara pintu yang dibuka oleh Rendra, Rendra kemudian berjalan ke arah Eva yang tertidur sepertinya dia kelelahan, ia kemudian duduk di samping Eva dan mengelus pelan rambut istrinya itu.
"Apa benar kamu hamil sayang?" tanya Rendra dalam hati sembari mengelus rambut Eva kemudian mengecup kening istrinya itu lembut.
__ADS_1
- Bersambung -