
Assalamualaikum, jangan lupa di like yah para pembaca setiaku agar Author lebih semangat lagi.
---
Wisnu, Andrew, Nissa dan Ay memasuki ruangan Han dimana disana sudah terbaring kaku sosok Han dengan muka yang masih ada bekas darah.
"Innalilahi wa innalilahi rajiun," ucap Wisnu menghampiri jasad adiknya sambil berlinang air mata.
Wisnu bergitu terpukul atas meninggalnya Han yang notabenenya adalah keluarga satu satunya yang ia miliki.
"Ini salahku," ucap Ay terduduk lesu bersandar ditembok menatap kosong jasad Han yang sudah tertutup kain putih.
"Ini bukan salahmu!" ucap Wisnu tanpa menolehkan kepalanya. "Ini semua salahku, andaikan aku bisa mendidik adikku mungkin ini semua takkan terjadi,"
"Tapi ini semua juga karena kebodohanku! Andaikan aku tak melakukan hal itu mungkin Han masih hidup sampai sekarang!" ucap Ay dengan nada meninggi.
"Tapi kau selalu menyalakan dirimu, yah semua ini salahmu!" ucap Wisnu tak kalah emosi dengan Ay.
Wisnu mengambil napas panjang lalu terdiam kembali mengatur napasnya juga berusaha beristigfar.
"Maaf," Hanya kata itu yang keluar dari mulut Wisnu atas kata katanya tadi.
"Sudah, walaupun kalian bertengkar semua takkan merubah apapun ini sudah takdir allah, jangan menyalahkan takdir karena pasti semua akan mengalami hal seperti ini," ucap Nissa menasihati suami dan sahabatnya.
"Yah aku setuju dengan Nissa, jangan bersikap kekanak kanakan kalian," timpal Andrew membenarkan ucapan Nissa.
"Maaf sayang!" ucap Wisnu memeluk Nissa dan mulai tenang dalam pelukan Nissa.
"Iya mas!" ucap Nissa mendekap balik suaminya. "Aku gak suka kamu seperti itu, jangan ulangi lagi yah?"
"Pasti sayang," ucap Wisnu pelan.
Sementara itu Ay sudah bisa menguasai dirinya dan sudah dalam dekapan Andrew.
"Apa jadinya aku tanpa kamu Nissa?" bathin Wisnu.
---
"Bismillah Al fatihah!"
__ADS_1
Tampak semua orang ditempat itu menunduk membacakan doa untuk Han agar bisa tenang di alamnya.
Tampak nisan yang baru saja terpasang juga tanah yang masih merah dan basah dengan nisan atas nama Hanif Angga Devano.
Wisnu terduduk termenung melihat kuburan sang adik yang sangat ia sayangi, hanya ada satu penyesalannya ia tak sempat meminta maaf pada sang adik akibat ia memukulnya waktu itu.
Mata sembab dan air mata berjatuhan membasahi pipi Wisnu dan Nissa yang sangat terpukul akibat kejadian ini, Han harus merenggang nyawa akibat tabrakan dan sang penabrak kini sudah kabur entah kemana, sebenarnya Nissa menyimpan foto plat mobil tersebut namun tidak ia tunjukkan sekarang dan akan menunggu saat yang tepat.
Para pelayat yang mengantar jenazah sudah pulang semua dan kini hanya ada Wisnu, Nissa, Andrew dan Ay.
Wisnu masih menunduk memegang nisan Han, sementara Ay masih tertunduk menangis dan meratapi apa yang terjadi.
"Mas? Yuk pulang," ajak Nissa pada Wisnu.
Tak ada jawaban dari Wisnu melainkan hanya suara isakan tangis dari sang suami.
"Mas? Kan malam ini ada tahlilan, pulang yuk! Sudah sore nih," ucap Nissa mengajak Wisnu pulang.
Wisnu pun berdiri dan mengenggam tangan Nissa dan melangkah pergi di susul Ay dan Andrew.
"Maafkan aku Han! Sejujurnya aku masih cinta padamu," ucap Ay dalam hati.
---
Tampak disana Wisnu dan Andrew serta para jamaah serta anak yang di undang untuk acara santunan oleh Wisnu.
Sementara Nissa dan Ay sudah berada di kamar Nissa, Ay nampak masih terpukul akibat kejadian ini, Nissa yang sedang menyusui bayinya pun hanya bisa memberi semangat kepada sang sahabat.
"Ay? Udah dong! Jangan sedih, ini sudah takdir allah dan bukan salah kamu," ucap Nissa pada sahabatnya itu.
"Iya Nis, aku cuma gak percaya aja,"
"Ini sudah takdir mau tidak mau kita akan mengalami hal seperti itu, hanya perlu waktu dan giliran dan tugas kita hanya menunggu sembari mengumpulkan pahala,"
"Tetap Nis, ini salahku!" ucap Ay kesal.
"Apa kamu meragukan adanya allah," ucap Nissa bertanya pada Ay.
Mendengar kata Nissa, Ay hanya menggeleng pelan dan tak menjawab.
__ADS_1
"Lantas bila kau percaya? Kenapa kau selalu menyalahkan dirimu dan menantang takdir?"
Bagai sebuah tamparan keras bagi Ay sebuah kata kata untuknya membuat semua perasaan bersalahnya hilang.
"Astagfirullah, maafkan aku ya allah," ucap Ay beristigfar.
Hampir dua jam acara tahlilan malam ini berjalan dan akhirnya para tamu sudah pulang dan hanya menyisakan Andrew dan Wisnu di ruang tengah.
"Ay? Nissa? Bisa kalian ke ruang tamu ada yang ingin kami bicarakan," ucap Andrew di ambang pintu kemudian berlalu pergi.
Tak lama kemudian Ay dan Nissa datang ke ruang tamu setelah menidurkan Amri, dan siap di introgasi oleh suaminya.
"Apa kalian tau siapa yang menabrak itu?" tanya Wisnu langsung.
"Hmmm aku tak tahu, Nu," ucap Ay menunduk lesu.
"Aku memang tak tahu, tapi aku punya foto plat mobil orang tersebut," ucap Nissa angkat suara.
"Apa? Serius yang?" ucap Wisnu dengan mata berbinar.
"Iya mas," ucap Nissa memperlihatkan foto tersebut. "Nih liat,"
Wisnu kemudian mengambil ponsel Nissa dan melihat nomor plat yang sama sekali tidak ia ketahui, kemudian Wisnu memperlihatkan foto itu ke Andrew dan raut wajah Andrew tiba tiba pucat.
"Dea?" ucap Andrew ragu
"Tapi.. Kenapa?" ucap Ay bertanya tanya.
"Apa!? Jadi Dea? Apa perlu aku lapor polisi sekarang!" ucap Wisnu dengan emosi yang mulai memuncak.
"Jangan," ucap Nissa menyela. "Aku punya rencana yang pas,"
"Apa?" tanya Wisnu antusias.
Nissa mengode mereka agar mendekat ke Nissa dan mulai menbisikkan ide Nissa yang di sambut oleh senyum setuju oleh ke tiga orang lainnya.
"Oke kalau begitu kalian nginap disini aja yah?" ucap Wisnu menawarkan.
"Oke!" jawab Ay dan Andrew.
__ADS_1
Happy Reading😊